
Setengah jam kemudian...
Hari ini Nami masih harus magang di rumah sakit. Tapi ia masuk bekerja pada pukul satu nanti, setelah jam makan siang usai. Dan kini Nami baru saja tiba di sebuah kedai yang ada di ibu kota. Ken pun pura-pura menerima telepon di ponselnya. Ia seolah bicara kepada Cino. Padahal tidak ada yang meneleponnya.
"Iya, Kak. Ini sudah sampai. Aku bawa Nami untukmu."
Dan tentu saja perkataan Ken itu membuat Nami terkejut. Nami tersipu malu karena seolah-olah Cino yang meminta Ken untuk membawanya. Pada akhirnya Ken pun memutuskan sambungan telepon yang pura-pura itu. Ia kemudian meminta Nami untuk keluar dari mobilnya. Dan tentu saja Ken akan mengantarkannya.
"Kakakku ingin bertemu. Dia memintamu menunggu. Duduk di paling pojok saja," kata Ken kepada Nami.
Nami mengangguk. Ia hanya bisa menurut tanpa bertanya apa-apa. Tak lama Ken pun melihat mobil kakaknya sudah tiba di parkiran. Saat itu juga Ken berpamitan kepada Nami. Ia pura-pura ke kamar kecil.
"Tunggu ya. Aku ingin ke toilet."
Nami ditinggalkan sendiri. Dan pada akhirnya Cino juga masuk ke dalam kedai itu. Ia melihat Nami duduk sendirian di sana. Cino pun tersenyum dari jauh kepada Nami.
Fiyuh ... lelahnya. Sudah kubilang kakak tidak akan memulai, tapi dia masih saja menunggu. Kapan bertemunya kalau begitu?
__ADS_1
Ken pun mengintip pertemuan itu dari balik dinding restoran yang menuju ke arah toilet. Misinya berjalan sukses hari ini.
Beberapa menit kemudian...
"Em, sudah lama menunggu?" tanya Cino lalu duduk di hadapan Nami.
"Em, tidak juga, Kak." Nami sedikit bingung.
Kenapa Kak Cino ke sini ya? Dan di mana Ken?
"Kakak Besar."
"Nami."
Mereka tanpa sengaja berucap bersamaan. Saat itu juga keduanya jadi malu seketika.
"Kakak Besar saja dulu." Nami pun mempersilakan Cino bicara duluan.
__ADS_1
"Em, tidak. Wanita yang pertama." Cino pun mempersilakan Nami bicara.
Nami ingin membahas bagaimana pertemuan ini bisa terjadi. Mengapa Cino bisa sampai datang kemari. Tapi ia khawatir membuat Cino tersinggung. Nami pun jadi teringat dengan perkataan Ken di studio malam itu.
"Jika kau menyukainya, maka kau juga harus ikut berjuang. Kau harus mendahuluinya dalam sikap. Jangan menunggu. Karena dia tidak akan pernah memulainya."
Nami jadi tahu apa yang harus dilakukannya saat ini. Karena jauh di dalam lubuk hatinya pun tertarik pada Cino. Siapa wanita yang tidak akan kepincut dengan Cino? Selain kaya raya, terpandang, Cino juga tampan dan baik hati. Terlebih Cino adalah pria dermawan yang tidak perhitungan. Nami pun menyukainya.
"Kakak Besar." Nami akhirnya mulai bicara.
"Em, ya?" Cino pun segera menanggapinya.
"Kakak mau pesan apa? Biar Nami pesankan." Nami pun mulai memenuhi ucapkan Ken waktu itu.
Cino tampak bingung ingin memesan apa. Ia kemudian melihat daftar menu yang ada di kedai. Nami kemudian pindah duduk di dekat Cino. Nami ikut melihat daftar menu bersama Cino. Sontak Cino terperanjat dengan sikap Nami. Cino merasa bingung sendiri.
Dia mulai agresif? Apakah Ken yang memintanya?
__ADS_1