PENGANTIN UNTUK KAKAK

PENGANTIN UNTUK KAKAK
Lupa


__ADS_3

Satu jam perjalanan akhirnya mereka lalui bersama. Di sepanjang jalan Cino pun tak henti-hentinya memandangi Nami. Maklum, bunga-bunga cinta itu sedang bermekaran dengan indahnya. Cino pun tak ingin melewatkan sedetikpun tanpa Nami.


"Kakak Besar, terima kasih." Nami pun berucap terima kasih kepada Cino sesampainya di parkiran rumah sakit.


Kini mereka sudah tiba di Rumah Sakit Cempaka, tempat Nami magang sekaligus bekerja paruh waktu di sana. Cino pun tampak berat untuk melepaskan Nami. Namun, ia tidak dapat memaksa Nami untuk terus bersamanya. Cino harus mengerti jika Nami juga punya kesibukan sendiri.


"Kau masih ingin memanggilku dengan sebutan itu?" tanya Cino yang kecewa.


Nami tertawa, ia terlupa. "Maaf, Sayang. Aku lupa." Pada akhirnya Nami pun mengucapkan kata sayang pada Cino. Saat itu juga hati Cino berbunga-bunga seketika.


Cino tersenyum. "Nanti malam mau kujemput?" Cino menawarkan dirinya.

__ADS_1


"Em." Nami melihat ke arah rumah sakit. "Aku tidak tahu pulang jam berapa nanti. Nanti aku kabari saja ya." Nami pun berpesan kepada Cino.


Cino mengangguk. Nami juga segera beranjak keluar dari mobil Cino. "Nami!" Namun, saat itu juga Cino menahannya.


"Ada apa?" Nami melihat Cino yang memegang tangannya.


"Em, apakah ... apakah kau tidak berniat untuk menciumku terlebih dahulu sebelum bekerja?" tanya Cino malu-malu. Ia seperti bayi besar yang ingin dimanja.


Cino harus merelakan hari liburannya terhenti manakala Nami harus pergi bekerja. Tapi apa yang mereka lalui hari ini masih terasa di hatinya. Betapa gembira dan suka cita bersama melewati waktu dengan status hubungan mereka. Cino pun berharap Nami tidak akan pernah mengecewakannya. Sebagaimana dirinya yang tidak akan pernah mengecewakan Nami. Cino berharap Nami selalu setia kepadanya.


Semoga dia tetap setia padaku bagaimanapun keadaannya.

__ADS_1


Nami sendiri tampak bersuka hati kala memasuki rumah sakit tempatnya magang. Ia bahkan sampai terlupa dengan pakaian basahnya yang berada di mobil Cino. Ia tidak ingat lagi jika ada pakaian basah sehabis berenang di pantai tadi. Nami pun masuk begitu saja ke ruangan farmasinya. Ia segera bekerja dengan hati yang riang gembira. Lantas bagaimana akhirnya?


Beberapa jam kemudian...


Hari Minggu harusnya digunakan untuk bersantai ataupun liburan bersama keluarga. Tapi tidak untuk Nami. Ia masih harus sibuk di laboratoriumnya seorang diri. Di petang ini, di hari yang menjelang malam ini. Sedang teman-temannya bergantian beristirahat. Beberapa di antara mereka ada yang beribadah. Nami pun tampak sibuk sendiri mengecek komposisi obat-obatan yang datang di laboratoriumnya.


"Eh?! Kok mati?!"


Tak beberapa lama, lampu di dalam laboratoriumnya juga mati. Nami lalu segera mencari cahaya tambahan agar bisa menerangi ruangannya bekerja. Nami teringat dengan ponselnya. Ia lalu segera mengambil ponselnya dari saku celana. Namun, ternyata ponselnya itu ia matikan sejak tadi. Karena khawatir mengganggu penguraian komposisi obat yang ada di sana.


"Astaga, aku lupa. Ponselnya belum kuhidupkan sedari tadi."

__ADS_1


Lantas Nami pun segera menghidupkan ponselnya. Tapi di saat bersamaan, sesuatu kemudian terjadi padanya. Nami dibekap dari belakang di tengah gelapnya ruangan. Ia pun akhirnya tidak sadarkan diri sebelum sempat meminta pertolongan. Nami diculik seseorang.


__ADS_2