
"Kakak marah padaku, Kek." Ken menjelaskannya.
"Marah?" Sang kakek pun merasa bingung.
"Iya, marah. Dia marah padaku karena aku dekat-dekat dengan gadis yang disukainya. Padahal salahnya sendiri tidak menyatakan cinta, jadi aku yang maju saja." Tanpa merasa bersalah Ken pun mengatakannya.
Tak lama Cino juga pulang dari kantornya. Semburat merah di sore ini menjadi saksi kepulangannya yang lelah karena seharian bekerja. Sang kakek pun melihat Cino yang datang lalu langsung ke lantai dua.
"Cino, kakek ingin bicara padamu!" Sang kakek berseru dari ruang keluarga.
Cino melewati ruang keluarga itu begitu saja. Ia tahu jika ada Ken di sana. Tapi ia bersikap dingin seolah tidak melihatnya. Dan sikapnya itu tentu saja disadari oleh kakeknya. Sang kakek pun akhirnya memanggilnya. Sontak langkah kaki Cino pun jadi terhenti seketika.
Cino berbalik ke kakeknya. "Aku capek, Kek." Cino berkata seperti itu lalu kembali pergi.
__ADS_1
"Cino!"
Sang kakek pun memanggil kembali. Tapi rupanya putra sulung keluarga Chandra itu sedang tidak ingin berbicara kepada siapapun. Ia tampak tidak mengindahkan panggilan kakeknya. Sedang Ken terlihat biasa-biasa saja. Ia juga seperti tidak memedulikan kakaknya. Ken seperti sudah lelah dengan semua kepasrahan yang kakaknya lakukan. Tidak ada gairah untuk melanjutkan kehidupan selain demi alasan pekerjaan.
Sudahlah aku capek. Dua tahun ini aku sudah bekerja keras untuknya. Tapi dia malah mendiamkanku. Jadi up to you!
Pada akhirnya Ken pun ikut pasrah terhadap usahanya. Sedang sang kakek tampak mengejar Cino sampai ke dalam kamarnya. Wirata akan bicara kepada cucu pertamanya. Ia ingin mendengar kejelasan langsung dari Cino. Benarkah apa yang Ken katakan padanya?
Setengah jam kemudian...
"Sejak kapan kau berdiaman dengan Ken?" tanya Wirata segera.
"Aku tidak berdiaman. Aku memang sudah biasa seperti ini," jawab Cino seadanya.
__ADS_1
Cino tampak dingin. Ia tidak seperti biasanya. Sang kakek pun membenarkan apa yang dikatakan Ken sebelumnya. Tentang ada kesalahpahaman di antara mereka.
"Dulu kakek menimangmu, menggendongmu saat lengan ini masih kokoh. Tapi kini kakek sudah lemah. Tidak lagi bisa mengangkat beban yang berat. Begitu juga dengan pikiran kakek. Cucu kandung kakek hanya kau dan Ken. Sedih rasanya jika kalian bertengkar hanya karena kesalahpahaman." Sang kakek menuturkan.
Saat mendengarnya, saat itu juga Cino jadi merasa bersalah. Tidak seharusnya sang kakek terlibat dalam masalah ia dan adiknya.
Cino lekas mengambil kaus dan celana gunungnya. Ia segera memakainya. Sang kakek pun tampak diam menunggunya.
"Apa yang Ken katakan kepada Kakek?" tanya Cino kemudian. Ia sambil menyisir rambutnya yang hitam.
"Ken tidak bicara apa-apa kepada kakek. Adikmu malah berkata dia sangat menyayangimu. Dia ingin melihatmu bahagia bersama pilihanmu. Cino, tidak inginkah kau membuat kami semua bahagia?" tanya kakeknya.
Cino terdiam.
__ADS_1
"Usia kakek sudah tujuh puluh lima tahun. Mungkin tak lama lagi juga akan pulang. Tapi, kakek ingin sekali menimang cicit darimu. Tak inginkah kau mewujudkan impian kakek?" tanya Wirata lagi.