
Nami akhirnya bisa menerima keadaan yang menimpa Cino saat ini. Walaupun jauh di lubuk hatinya masih tak percaya jika Cino menderita leukimia. Di matanya Cino adalah pria yang hebat, sehat dan juga penuh semangat. Tapi setelah mendengar keterangan dari Ken, hati Nami jadi terasa sakit. Ia belum bisa menerima kenyataan ini.
Nami baru saja jatuh cinta dan merasakan betapa indah bunga-bunga cinta itu bermekaran. Tapi baru beberapa hari berlalu, sudah seperti ini. Nami pun berusaha mengondisikan suasana hatinya agar tidak terbawa perasaan. Ia tidak boleh sampai menangis di hadapan Cino. Karena hal itu hanya akan memberatkan Cino.
Lantas apakah Nami bisa membantu Cino untuk sembuh total dari penyakitnya? Nami adalah ahli farmasi yang mengetahui komposisi obat-obatan. Apakah ia mampu membuat obat untuk Cino sendiri?
Pukul delapan pagi waktu ibu kota dan sekitarnya...
"Ya, Bu. Aku segera pulang. Menunggu pintu ruangan dibuka lebih dulu," terang Nara kepada ibunya lewat sambungan telepon.
"Baiklah-baiklah," katanya lalu mengakhiri sambungan teleponnya.
"Ibumu menelepon?" tanya Ken kepada Nara. Ia tampak sedang sarapan pagi di ruang rawat kakaknya.
__ADS_1
"Hm, ya. Ibu minta ditemani ke pasar. Katanya pesanannya sedang banyak." Nara menuturkan.
Ken melihat ke arah Nami yang sedang menyuapi Cino makan bubur. "Apa perlu kusewa orang untuk membantu ibumu? Nami sedang berada di sini." Ken jadi tidak enak hati.
"Tak apa. Santai saja. Ibu juga sudah mempunyai orang-orang khusus untuk membantunya." Nara menuturkan.
Ken mengangguk.
Nami mengangguk. Nara pun berpamitan kepada Cino. "Kakak Besar lekas sembuh. Aku pulang dulu." Nara memberi semangat kepada Cino.
"Terima kasih, Nara."
Pada akhirnya Nara pun harus pergi karena akan menemani ibunya ke pasar. Bibi Nami itu tiba-tiba saja mendapat banyak pesanan.
__ADS_1
Bibi Nami bekerja paruh waktu di rumah untuk mengisi kekosongannya. Ia menerima pesanan kue dalam partai besar. Seperti kue untuk pesta pernikahan, ulang tahun ataupun seserahan. Nara dan Nami pun ikut membantunya. Jika senggang, mereka akan membantu membuat kue ataupun mengantarkan pesanan.
Kini di dalam ruang rawat Cino ada Nami dan Ken. Ken pun lekas-lekas menghabiskan sarapan paginya. Tak lama kemudian ia menerima telepon dari seseorang. Ken pun berpamitan sebentar keluar ruangan. Sedang Nami tampak memberi minum Cino setelah makan.
"Sudah merasa lebih baikan?" tanya Nami kepada Cino.
Cino mengangguk. "Kau tidak lapar? Aku minta Ken belikan sarapan kesukaanmu, ya?" Cino menawarkan.
Nami tersenyum. "Tidak perlu." Ia mencolek ujung hidung Cino. "Ken sudah membeli tiga porsi nasi ayam pagi ini. Jangan khawatir." Nami pun berkata lembut kepada Cino.
Saat itu juga Cino terdiam. Ia merasa tersentuh dengan sikap Nami yang lembut padanya. Ia menatap Nami dengan tatapan penuh haru. Ia pun menarik Nami ke dekapannya. Mencoba meraih bibir Nami dengan bibirnya. Saat itu juga hangat napas Cino menerpa permukaan pipi Nami. Nami pun pasrah dibuatnya. Ia menerima ciuman dari kekasihnya.
Sayang ....
__ADS_1