
Berenang di pantai membuat keduanya merasa lapar. Lantas setelah berganti pakaian, Cino dan Nami pun memutuskan untuk bersantap siang di kedai yang ada di sana. Tampak keduanya memilih bakso dan juga mie ayam. Baik Nami dan Cino tidak menampakkan lagi rasa malunya. Mereka bersantap siang dengan riangnya.
Saat berdua, waktu berjalan terasa begitu cepat. Dan kini sudah pukul setengah dua belas siang saja. Keadaan pantai juga sudah ramai. Membuat keduanya tidak lagi bisa bermesraan. Cino pun kini mengenakan pakaian pantainya. Tidak seperti tadi yang mengenakan kemeja.
Baju pantai berupa kemeja bercorak laut dan juga celana gunung berwarna putih itu tampak membalut tubuhnya. Sedang Nami sendiri mengenakan tengtop putih yang dibalut kemeja lengan panjang dan juga jeans hitamnya. Mereka bak pasangan kasual yang sedang bersantai. Tapi kali ini wajah Nami begitu polos tanpa ada make up yang melapisinya.
"Kau lebih imut jika tanpa alas make up seperti ini, Nami." Cino mengungkapkan sambil memerhatikan wajah Nami.
Nami pun tersipu malu. "Benar, kah? Bukannya pria lebih suka wanita yang bermake up?" tanya Nami kemudian.
Cino tersenyum. Senyuman bahagia yang ia pancarkan dari dalam jiwanya. "Hm, ya mungkin. Tapi mungkin juga tidak." Cino sedikit ragu mengatakannya.
"Kenapa?" tanya Nami sambil menyeruput es jeruknya.
__ADS_1
"Terkadang pria menyukai wanita yang bermake up tebal. Tapi terkadang juga suka yang natural. Mungkin hanya di momen-momen tertentu saja." Cino mengungkapkan.
Nami yang masih polos pun tampak mengartikannya pelan-pelan. "Kalau Kakak sendiri?" tanya Nami lagi.
Cino tersenyum. "Aku menyukai wanita yang bermake up tipis dan juga memakai wewangian. Dalam arti tidak berlebih-lebihan dalam memakai sesuatu. Seperti dirimu." Cino menuturkan.
Saat itu juga Nami tersipu malu. Ia merasa Cino sudah terlalu banyak memujinya. Sedangkan Nami baru kali ini dipuji oleh seorang pria.
Pada akhirnya mereka pun terus bersantap siang sambil membahas hal-hal kecil seputar kehidupan. Tampak Cino mengalihkan pembicaraan agar tidak berbelok ke hal-hal yang tidak diperbolehkan. Ia akui jika Nami baru saja beranjak dewasa dan ingin mengetahui segalanya. Cino pun mengimbanginya.
Dia benar-benar masih polos. Aku beruntung mendapatkannya.
Nami sendiri menyukai pembahasannya bersama Cino kali ini. Keduanya kemudian melanjutkan liburan di hari pertama ngedate mereka. Tanpa menyadari jika ada seseorang yang melihatnya dari jauh.
__ADS_1
Mereka sudah jadian?
Ialah Arya yang datang ke pantai bersama keluarga besarnya. Ia tanpa sengaja melihat Cino dan Nami yang berada di sana. Arya pun jadi berpikiran jika keduanya sudah jadian. Ia lantas menelepon seseorang.
"Halo. Bisa bantu aku cari tahu tentang hubungan Cino dan Nami?" tanya Arya kepada seseorang itu.
"Hm, ya. Tolong bantu secepatnya. Sepertinya akan sulit menemui Nami secara langsung sekarang." Arya meminta bantuan seseorang di sana.
Arya ternyata kepo dan ingin mengetahui hubungan yang pasti antara Cino dan Nami. Tampak raut wajahnya tak percaya jika Nami dan Cino benar-benar jadian. Ia lekas bertindak untuk mengetahui secepatnya.
Selepas makan siang...
Nami dan Cino semakin dekat. Cino pun membelikan Nami topi pantai lalu mengajaknya berjalan-berjalan untuk membeli apa saja yang dijual di sana. Mereka pun bergandengan tangan lalu singgah ke tiap-tiap kedai untuk membeli sovenir. Cino pun membelikan Nami kalung yang sama dengannya. Mereka membeli kalung berpasangan sebagai tanda jadian mereka.
__ADS_1