
Seorang wanita berjalan tergesa-gesa memasuki sebuah rumah mewah diikuti sang suami yang berjalan di belakangnya. Saat mendengar kabar kalau sang putra tidak berangkat bekerja dan tidak bisa dihubungi, wanita itu langsung mengajak suaminya untuk datang ke rumah putranya untuk memastikan apakah putranya saat ini baik-baik saja.
Pasalnya, tidak biasanya Bryan mangkir dari pekerjaan tanpa alasan yang jelas. Ditambah lagi, tidak biasanya Bryan sulit untuk dihubungi oleh orang tuanya. Karena meskipun Bryan adalah pria yang super super sibuk, bagi pria itu keluarga adalah prioritas utamanya.
Ya, dua pasangan tadi adalah orang tua Bryan, Deborah dan Fabio. Semenjak Bryan mulai memegang jabatan sebagai pemimpin di perusahaan, Bryan memilih untuk tidak tinggal bersama dengan orang tuanya. Maka dari itu mereka harus repot-repot pergi ke rumah Bryan untuk memeriksa keadaan pria itu.
Saat Deborah dan Fabio memasuki rumah Bryan, mereka merasa teramat sangat bingung karena rumah Bryan tampak sangat sepi. Bahkan pelayan yang biasanya akan datang untuk menyambut kedatangan mereka pun tidak tampak berkeliaran di rumah. Rumah Bryan benar-benar seperti rumah kosong tak berpenghuni. Hal tersebut tentu membuat Debora semakin takut kalau hal buruk telah terjadi kepada putranya.
"Pa, kita lebih baik langsung memeriksa ke kamar Bryan sekarang juga. Aku benar-benar merasa sangat khawatir dengan keadaan anak itu," ucap Deborah dengan jantung yang berdetak berkali-kali lebih cepat dari biasanya.
Ibu mana yang tidak khawatir saat mendapati ada banyak hal janggal dengan putranya? Meski belum tentu hal buruk terjadi dengan Bryan, tetap saja dia tidak akan merasa tenang sebelum memastikannya secara langsung dengan kedua mata kepalanya.
"Apakah tidak sebaiknya kita menelepon Bryan dulu, Ma? Siapa tahu saat ini Bryan ada urusan bisnis di luar kota," ucap Fabio yang masih bisa berpikiran positif mengenai situasi ini.
"Pa, kalau memang Bryan memiliki urusan bisnis di luar kota, tentu sekretarisnya tahu mengenai hal ini. Tapi, apa nyatanya? Sekretaris Bryan bahkan berkata kalau Bryan tidak berangkat bekerja tanpa alasan yang jelas," balas Deborah.
Fabio menghela napas. "Baiklah. Begini saja, kita akan menelepon sekali lagi sebelum memastikan apakah kita perlu memeriksa kamar Bryan atau tidak," ujar Fabio yang akhirnya disetujui oleh sang istri.
Fabio mengambil ponselnya dari saku celana, lantas mencoba untuk menghubungi Bryan.
"Maaf, nomor yang anda tujuh sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Silakan coba beberapa saat lagi."
Bukannya Bryan, yang menyahut justru suara operator. Mendengar hal tersebut Deborah lantas melangkahkan kakinya menuju ke arah tangga. Fabio pun mau tak mau akhirnya kembali berjalan mengekor sang istri menuju ke kamar Bryan.
__ADS_1
Klek!
Saat membuka pintu kamar Bryan, Deborah dan Fabio terkejut saat mendapati Bryan tengah tidur berbaring sambil memeluk seorang gadis. Kalau dilihat-lihat, mereka tampak tak mengenakan sehelai benang pun dari balik selimut sebab tadi mereka memang kelelahan bercinta jadi mereka memutuskan untuk tidur sembari mengembalikan tenaga yang sempat terkuras habis akibat kegiatan panas mereka.
"Pa, aku tidak salah melihat, 'kan?" tanya Deborah kepada sang suami dengan suara lirih.
Fabio mengangguk dengan tatapan mata tak percaya. "Kalau kau salah melihat, sudah dapat dipastikan kalau mataku juga bermasalah sebab kita melihat hal yang sama," balas Fabio.
Bagaimana Fabio dan Deborah tidak terkejut saat mendapati Bryan tengah terlelap dengan seorang wanita di dalam pelukannya? Pasalnya, selama ini mereka tak pernah sekali pun Melihat Bryan bersama dengan seorang wanita seperti ini. Meskipun kerap kali banyak gosip yang menerpa dan menyebut-nyebut kalau Bryan adalah seorang playboy. Tetap saja mereka tidak akan mungkin mempercayai gosip itu sebelum mereka menyaksikan Bryan benar-benar bersama dengan seorang wanita.
"Sudah kubilang tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Ma. Lebih baik sekarang kita pulang saja dan jangan mengganggu tidur mereka. Kita tanyakan tentang siapa gadis ini di lain waktu saja," usul Fabio.
Melihat Bryan dan Laura yang tampak tidur dengan nyenyak, dia merasa tidak tega kalau harus membangunkan mereka. Untungnya Deborah setuju dan mereka pun pulang tanpa membangunkan Bryan dan Laura terlebih dahulu.
Sore harinya, setelah beristirahat dan membersihkan diri, kini Laura dan Bryan sedang menghabiskan waktu dengan duduk bersantai di tepi kolam renang rumah Bryan. Mereka berdua tidak tahu kalau tadi orang tua Bryan sempat datang dab melihat mereka sedang tidur di ranjang yang sama.
"Tidak, ah. Aku tidak suka aromanya," tolak Laura.
"Baiklah. Lagi pula kau tidak butuh minuman apa pun untuk menambah stamina saat kita bercinta, 'bukan?" tanya Bryan sambil mengedipkan sebelah matanya.
Pertanyaan Bryan sukses membuat Laura bersemu merah. Gadis itu merasa salah tingkah mendengar hal tersebut. Tapi, sedetik kemudian dia teringat sesuatu dan kembali menatap Bryan dengan tatapan serius.
"Bryan, bolehkah aku bertanya tentang sesuatu?" tanya Laura.
__ADS_1
"Tentu. Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Aku ingin tahu wanita ke berapa aku untuk dirimu."
Bryan mengerutkan dahinya. Tidak menyangka Laura akan bertanya seperti ini.
"Kau adalah wanita ketujuh untukku, Laura," jawab Bryan apa adanya.
Mendengar hal tersebut, entah kenapa Laura merasakan seolah ada sebuah jarum yang menusuk di dadanya. Seharusnya Laura tidak terkejut saat mendengar jawaban Bryan karena pria itu memang dikenal sebagai seorang playboy dan telah berkata jujur dari awal kalau dia mengencani wanita-wanita Sebelum Laura untuk dia tiduri. Seharusnya juga Laura tidak merasa sakit hati saat menyadari kalau dia bukanlah yang pertama untuk Bryan. Tapi, menjadi yang ketujuh bukanlah sesuatu yang mudah diterima oleh gadis yang belum banyak pengalaman seperti Laura, bukan?
Bryan dan Laura kembali mengobrol setelah Bryan menjawab pertanyaan itu. Bedanya, kali ini Laura tidak banyak bicara. Gadis itu lebih banyak diam karena sedang memikirkan tentang rasa kecewa yang tiba-tiba saja menyelinap di hatinya.
"Bryan, aku ingin pulang," ucap Laura sambil tersenyum tipis. Senyuman itu tampak seperti dipaksakan.
"Baiklah, aku akan mengantarmu," ucap Bryan.
Laura menggeleng. "Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri," balas Laura.
"Tapi ...."
"Bukankah kau sudah berjanji kalau kau tidak akan menjadi kekasih yang posesif?" balas Laura, memotong kalimat Bryan. "Aku lupa kalau aku ada janji untuk bertemu dengan temanku. Kau tidak apa-apa, 'kan, kalau aku pulang sendiri?"
Bryan menghela napasnya. "Baiklah. Tapi, kau harus mengabariku begitu kau sampai di rumah," jawab Bryan.
__ADS_1
Laura mengangguk. Setelah berpamitan, gadis itu lantas pulang.
Hari itu, Laura tidak pulang membawa kebahagiaan, melainkan kekecewaan.