Penghangat Ranjang Casanova

Penghangat Ranjang Casanova
Saling Berterus Terang


__ADS_3

Mereka berdua masih diam di tempatnya, mematung tepat di depan pintu apartemen Briza. Felix memandang ke arah tangan Briza yang melingkar di tubuhnya. Pria itu tersenyum kecut, membayangkan jika apa yang terjadi saat ini bukanlah antara dirinya dan Briza, tapi dirinya dan Laura. Sebab jika Laura yang memeluknya dan memintanya untuk tinggal, dia pasti tidak akan berpikir dua kali untuk berkata ‘iya’.


“Jangan pergi tinggalkan aku, Felix. Cukup Bryan saja yang meninggalkan aku, kau jangan melakukan hal yang sama,” pinta Briza sambil mengeratkan pelukannya pada Felix. Gadis itu terlalu lelah karena selalu ditinggalkan oleh orang yang dia cintai.


Felix melepaskan diri dari pelukan Briza, kemudian membalik tubuhnya. Pria itu memegang pundak Briza, kemudian berkata, “Baiklah, aku akan tinggal. Sebaiknya kita lanjutkan sarapan kita dulu baru kita nanti mengobrol.”


Briza mengangguk, kemudian mereka berdua kembali ke ruang makan untuk melanjutkan sarapan mereka yang sempat tertunda.


Jujur saja, saat mendengar ucapan Briza tadi, Felix merasa iba dengan gadis itu. Sebagai seorang pria, dia mungkin bisa menyembunyikan perasaannya kehilangannya dengan teramat rapi. Namun, berbeda dengan Briza yang adalah seorang wanita. Gadis itu terlihat begitu rapuh karena kehilangan pria yang dia cintai.


“Apakah kau punya diet tertentu? Maaf, aku tidak tahu apa yang dimakan oleh model seperti dirimu jadi aku memasak makanan yang aku bisa,” ucap Felix seraya mendaratkan pantatnya di kursi ruang makan.


Briza menggeleng. “Tidak. Jika tidak sedang ada pekerjaan fashion show, aku tidak benar-benar memiliki diet yang ketat. Metabolisme tubuhku berjalan dengan cepat, tenang saja,” jawab gadis itu.


Kalau boleh jujur, sebetulnya tadi Briza sangat tergoda dengan aroma masakan Felix. Namun, karena kecurigaan dan amarahnya terhadap apa yang Felix lakukan padanya, gadis itu langsung marah-marah dan mengusir Felix.

__ADS_1


“Wow, aku tidak menyangka kalau masakanmu selezat ini,” puji Briza setelah menelan satu suap makanannya. “Dari mana kau belajar memasak?”


“Aku dulu belajar memasak dari chef yang bekerja di rumahku. Karena aku sering melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri, kadang makanan di negara yang aku datangi tidak cocok dengan lidahku jadi aku harus bisa memasak supaya tidak kelaparan,” terang Felix.


Briza mengangguk-anggukkan kepala. Gadis itu sungguh-sungguh menikmati sarapannya pagi ini sebab masakan Felix sangat lezat.


“Ngomong-ngomong, Felix, bolehkah aku bertanya mengenai sesuatu?” tanya Briza.


Felix menganggukkan kepala. “Ya, tentu saja. Apa yang ingin kau tanyakan?”


“Dia sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. Keluarga kami kebetulan saling mengenal dan kami dari kecil sudah sering bertemu,” jelas Felix.


Briza menjentikkan jarinya. “Ah, seperti aku dan Bryan.”


“Ya, seperti kalian.” Felix mengangguk. “Briza, aku tahu kalau kau mencintai Bryan. Tapi, Bryan tidak mencintaimu. Bryan mencintai Laura. Jadi, aku harap kau tidak mengganggu hubungan Laura dan Bryan lagi,” ucap Felix, menasihati Briza.

__ADS_1


Briza menundukkan kepalanya. “Memangnya kalau kau berada di posisiku kau bisa melakukan hal yang sama, Felix? Aku mencintai Bryan sudah bertahun-tahun dari semenjak kami masih remaja. Rasanya sangat mustahil untuk aku bisa melupakan Bryan,” celoteh Briza, mengutarakan tentang keraguannya.


“Kau pasti bisa, Briza.” Felix menghela napasnya. “Sebetulnya, aku juga mencintai Laura.”


Briza terkesiap, kemudian menoleh ke arah Felix. “Apa?” tanyanya tidak percaya. “Kau mencintai Laura?”


Felix mengangguk. Pria itu tersenyum tipis. Dia tahu kalau seseorang yang mungkin bisa memahami apa yang dia rasakan adalah Briza. Sebab mereka berdua pada dasarnya mengalami hal yang sama, yaitu ditinggalkan oleh orang yang mereka cintai. Dan lebih parahnya lagi, orang yang mereka cintai justru memilih satu sama lain.


“Ya. Aku mencintai Laura. Bahkan kami sempat hampir menikah karena orang tua kami menjodohkan kami,” jawab Felix sambil tertawa parau. “Tapi, sekarang aku mencoba untuk mengikhlaskan Laura. Aku tidak mungkin memaksa dia untuk tetap menikah dengan diriku kalau dia tidak mencintaiku. Aku tidak ingin memiliki sebuah hubungan tanpa rasa cinta. Karena terkadang, kita harus merelakan orang yang kita cintai supaya mereka bisa bahagia.”


Briza termenung saat mendengar ucapan Felix. Dia memikirkan dua kata yang diucapkan oleh Felix, yaitu ikhlas dan rela. Dua hal itu adalah sesuatu yang sangat sulit untuk Briza bayangkan. Apakah dia bisa ikhlas dan rela melupakan Bryan supaya Bryan bisa bahagia?


“Maaf, atas sikapku kemarin. Tapi, aku harap kau akan bertemu dengan pria baik yang tulus mencintaimu,” ucap Felix.


“Felix, kau dan aku sama-sama terluka. Kenapa kita tidak mencoba untuk saling mengobati luka satu sama lain? Aku ingin kau tinggal dan membantuku untuk melupakan Bryan. Dan aku juga akan melakukan hal yang sama untuk membantumu melupakan Laura.”

__ADS_1


Felix mengangguk. “Sepertinya tidak akan ada salahnya kalau kita mencoba.”


__ADS_2