
Mata Bryan membulat sempurna tatkala dia mendapati sebuah riwayat panggilan dari Laura. Panggilan tersebut berlangsung selama sepuluh menit dan dilakukan pukul dua belas lebih lima menit tadi malam. Itu artinya panggilan tersebut terjadi saat Bryan sudah tidak sadarkan diri dan telah melakukan hal-hal itu dengan Briza.
“Sial! Sial! Sial!”
Bryan terus saja mengumpat, merutuki kebodohannya. Jika saja kemarin malam dia tidak khawatir berlebihan dengan Briza yang membuatnya harus kembali ke apartemen Briza dan membohongi Laura, maka semua ini tidak akan terjadi. Andai saja dia menuruti ucapan Laura untuk langsung pulang dan mengabari Laura, mungkin dia tidak akan berakhir menyesali apa yang terjadi tadi malam.
Bryan mengusap wajahnya dengan frustrasi, kemudian mencoba untuk menelepon Laura. Namun, bukannya terhubung, ponselnya justru mati karena kehabisan baterai.
“Kenapa malah mati di saat genting seperti ini, sih?” gerutunya kemudian meletakkan ponselnya pada charger tanpa kabel yang terpasang di mobilnya, setelahnya ia pun melajukan mobilnya meninggalkan kawasan apartemen Briza.
Untungnya pagi ini tidak ada lagi wartawan yang menunggunya di depan apartemen Briza. Jadi, Bryan bisa bernapas lega karena orang-orang tidak akan menggosipkan jika dia berselingkuh dari Laura dengan Briza. Tapi sialnya ... Dia tidak tahu apa yang telah Briza dan Laura bicarakan. Ya, Bryan langsung menebak jika semalam Briza telah mengangkat panggilan Laura dan mengatakan sesuatu. Bryan sangat mengenal Briza. Bryan takut kalau Briza telah mengatakan sesuatu yang bisa membuat kesalahpahaman antara dirinya dan Laura.
Bryan melirik ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Sekarang sudah pukul sembilan pagi. Niatnya untuk menghampiri Laura terpaksa harus dia urungkan sebab dia mengingat kalau dia memiliki jadwal rapat tiga puluh menit lagi. Dia pun memutuskan untuk pergi ke kantor dulu dan akan menghampiri Laura nanti.
Setelah selesai rapat, Bryan pergi ke sebuah restoran untuk memesan makanan yang akan dia bawa ke Secret Garden. Pria itu berniat untuk membawakan makan siang untuk Laura dan mereka akan mengobrol sambil makan nantinya.
Ketika sampai di Secret Garden, Bryan mengernyitkan dahi. Pria itu merasa bingung karena siang ini pegawai Secret Garden tak tampak berlalu-lalang. Bahkan, dia hanya melihat satu atau dua orang saja padahal biasanya dia bisa melihat banyak karyawan yang tengah dengan sibuknya pergi ke sana dan ke mari untuk membuat karangan bunga.
__ADS_1
“Selamat siang, Lola,” sapa Bryan.
“Hai, Bryan. Selamat siang,” balas Lola sambil tersenyum lebar. “Apakah kau mencari sesuatu?” tanyanya, bingung sebab dari tadi Bryan mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri.
“Apakah Laura ada di dalam? Aku membawakannya makan siang,” tanya Bryan sambil mengangkat satu plastik berisi kotak makanan.
“Maaf sekali, Bryan. Tapi, saat ini Laura sedang tidak ada di toko bunga,” jawab Lola.
“Ah, dia sedang mengirim bunga? Aku akan menunggunya kalau begitu,” ucap Bryan, lalu duduk di salah satu bangku depan meja kasir. “Kebetulan aku sudah tidak ada jadwal rapat siang ini jadi aku bisa di sini agak lama.”
“Di mana?” tanya Bryan sambil menyipitkan matanya. Pria itu berniat untuk menyusul Laura ke sana sebab dia harus segera mengobrol dengan Laura. Dia takut kalau kekhawatirannya benar-benar terjadi.
“Di El Bruc. Kaki gunung Monserrat,” jawab Lola.
“Jauh sekali?”
Lola mengedikkan bahunya. “Sesuai permintaan klien, Bryan.”
__ADS_1
Bryan mengangguk-anggukkan kepalanya. Mengingat jarak pusat kota Barcelona dan tempat Laura mendekor cukup jauh, Bryan sontak saja menerka-nerka berapa lama perjalanan yang akan dia butuhkan untuk datang ke sana. Dia takut kalau-kalau saat dia sampai di sana, Laura justru sudah pulang.
“Lalu, kapan Laura akan pulang? Sore ini?” tanya Bryan.
Lola menggeleng. “Sepertinya besok mereka baru pulang. Pihak pengantin sudah menyediakan kamar untuk masing-masing anggota tim Secret Garden, Bryan,” jelas Lola. “Lagi pula dari sini ke El Bruc cukup jauh, tidak mungkin mereka tidak menginap.”
“Kenapa kemarin Laura tidak bercerita kalau dia akan pergi ke sana?”
“Ini semua mendadak. Aku meminta Laura menggantikan salah satu pegawai yang sedang sakit,” jawab Lola.
Bryan mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Baru saja ia hendak menghubungi Laura, Lola sudah terlebih dahulu menghentikannya.
“Laura tadi lupa membawa ponsel. Tidak akan ada gunanya kalau kau menelepon,” ucap Lola.
Mereka tidak tahu saja kalau Laura sengaja meninggalkan ponselnya di apartemen sebab dia masih kecewa dengan Bryan.
“Kalau begitu, berikan aku alamatnya. Aku akan menyusul Laura saja ke sana. Perasaanku tak tenang sebelum aku bertemu dengan dia,” ucap Bryan pada akhirnya.
__ADS_1