
Laura memilih untuk mengabaikan pesan singkat dari Bryan dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam kantong celananya. Gadis itu lantas bangkit berdiri saat melihat Dario datang sambil membawa tiga botol air mineral.
“Di mana Reyna?” tanya Dario seraya mengulurkan satu botol air mineral kepada Laura yang langsung gadis itu terima dengan senang hati.
“Reyna tadi pamit pergi ke toilet.” Laura menegak minumannya sambil menatap ke sekeliling hingga matanya menangkap sosok Reyna yang sedang berjalan ke arah mereka. “Itu dia orangnya.”
Setelah mereka beristirahat sebentar sebab lelah bermain paintball dari beberapa jam yang lalu, mereka tidak langsung pulang. Sekarang, matahari sudah mulai kembali ke peraduan. Itu artinya jam makan malam akan segera tiba dan mereka memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu sebelum pulang.
“Ah, segar sekali udara di sini,” ucap Laura sambil memejamkan matanya dan menghirup udara dalam-dalam.
Restoran yang mereka pilih berada di pinggir pantai sehingga udara segar langsung menerpa wajah mereka. Tak hanya itu, cahaya oranye yang melukis cakrawala juga turut memanjakan mata mereka bertiga, membuat suasana terasa lebih hangat dari biasanya.
“Kau ingin makan apa Laura?” tanya Reyna yang tengah sibuk membaca menu. Perutnya sudah sangat keroncongan saat ini sehingga dia tidak sempat untuk menikmati suasana sekitar lagi.
“Aku tiba-tiba saja ingin makan lobster,” ucap Laura. Berada di tepi pantai memang akan membuat siapa saja ingin makan makanan laut, tidak terkecuali dengan Laura.
“Baiklah, aku akan memesankannya untukmu,” ucap Reyna. Gadis itu memanggil pelayan lalu menyebutkan pesanan mereka. Setelahnya, mereka mengobrol sambil menunggu pesanan mereka datang.
“Laura, ponselmu dari tadi berbunyi. Apakah kau tidak mendengarnya?” tegur Dario yang sedari tadi memperhatikan hal itu.
__ADS_1
Mendengar itu, Laura sontak menoleh dan mengambil ponselnya. Terlalu sibuk dengan agendanya untuk tidak memikirkan Bryan, Laura sampai tidak sadar kalau ponselnya berbunyi.
“Siapa yang menelepon?” tanya Reyna sambil melirik ke arah ponsel Laura saat Laura memeriksa nama orang yang menghubunginya.
“Orang tidak penting,” ucap Laura lalu buru-buru mematikan ponselnya supaya Bryan tidak akan bisa mengganggunya dengan telepon-telepon darinya.
Laura sangat muak dengan Bryan. Tidak hanya karena Bryan pergi dengan wanita lain saat menjalin hubungan dengannya. Tapi, juga karena Bryan mengatur-atur hidupnya dan melarangnya untuk pergi dengan pria lain saat Bryan saja pergi dengan wanita lain. Sangat posesif dan tidak adil.
Sikap Bryan seakan dia sangat mencintai Laura, tak ingin pria lain mendekati Laura, tetapi dia sendiri justru berhubungan dengan wanita lain. Membuat Laura merasa terpuruk saat dia cemburu tetapi tak bisa melakukan apapun saat Bryan sendiri tidak memberinya hak untuk itu layaknya pasangan lainnya.
“Laura, bukannya aku ingin ikut campur dengan urusan pribadimu. Hanya saja, kalau kau memiliki masalah dengan orang yang meneleponmu tadi, lebih baik kau menyelesaikan semuanya. Jangan lari dari masalah karena hal itu tidak akan menyelesaikan semuanya,” ucap Dario, memberikan saran. Reyna pun mengangguk setuju dengan ucapan Dario.
“Kalau kau memang lelah, jangan dipaksa,” ucap Reyna sambil tersenyum tipis meskipun dia sendiri tidak tahu mengenai permasalahan apa dan dengan siapa yang sedang Laura hadapi saat ini.
"Laura, apa dia kekasihmu?" tanya Dario tak dapat menahan rasa penasarannya.
Laura yang mendengar itu hanya bisa terdiam, sebab Laura seakan tak memiliki jawaban atas pertanyaan Dario. Dario yang melihay Laura enggan menjawab tak bisa memaksanya.
Aku yakin dia pasti seorang pria yang dekat denganmu. Siapa pria beruntung itu, Laura? Batin Dario.
__ADS_1
Usai makan malam, Dario lantas mengantar Reyna dan Laura pulang. Sebab jarak tempat tinggal Laura lebih jauh, jadi Dario mengantarkan Reyna dulu baru mengantar Laura.
Baru saja mobil Dario berhenti di depan gedung apartemen Laura, mata Laura sudah membelalak lebar saat melihat mobil Bryan juga terparkir di sana. Itu artinya Bryan ada di apartemennya saat ini.
Sebagai seorang pria, terlebih pria yang memiliki perasaan pada Laura, Dario berinisiatif untuk turun terlebih dahulu dari mobil untuk membukakan pintu untuk Laura.
“Terima kasih, Dario. Terima kasih kau sudah mengajakku pergi dan mengantarku pulang. Terima kasih banyak untuk hari ini," ucap Laura dengan tulus.
Dario menganggukkan kepalanya. “Sama-sama. Aku senang bisa pergi bersamamu. Aku pulang dulu, ya?” pamit Dario yang hanya ditanggapi Laura dengan anggukan kepala.
Setelah mobil Dario melaju, Laura menghela napas berat seiring dengan langkah kakinya memasuki gedung apartemen. Saat dia membuka pintu unit apartemennya, seperti dugaannya, Bryan sudah ada di sana. Pria itu bahkan saat ini tengah berdiri membelakanginya, menatap ke luar jendela.
“Siapa pria yang tadi mengantarmu?” tanya Bryan ketika dia menoleh ke arah Laura.
“Sepupu Reyna,” jawab Laura dengan singkat kemudian meletakkan tasnya di atas meja.
“Seorang pria?” tanya Bryan lagi dengan tatapan tidak suka. Pria itu berjalan menghampiri Laura. Sambil memicingkan matanya dia mendesak Laura, “Bukankah tadi aku sudah berkata kalau aku tidak suka kau pergi dengan pria lain? Kau juga sudah membacanya, bukan?”
Laura mendengus kasar. “Aku dan Dario tidak ada hubungan apa-apa. Kami hanya pergi ke tempat paintball dan makan malam bersama. Itu juga dengan Reyna,” kilah Laura.
__ADS_1
“Kau selingkuh dariku,” ucap Bryan menuduh Laura yang menatap tajam padanya.