Penghangat Ranjang Casanova

Penghangat Ranjang Casanova
Menjauh Dari Hidupku


__ADS_3

Laura mengerutkan dahinya saat dia baru saja keluar dari Secret Garden dan melihat Bryan sedang berdiri dan bersandar di kap mobilnya. Gadis itu menelan salivanya, namun tetap diam tak bergeming.


Sementara Bryan yang menyadari kalau Laura sudah selesai bekerja langsung menghampiri gadis itu. Dia sengaja menunggu Laura pulang bekerja karena dia tidak ingin mengganggu pekerjaan gadis itu.


“Laura.”


“Bryan.”


Mereka menyapa satu sama lain dalam waktu yang hampir bersamaan. Selanjutnya, keadaan menjadi semakin canggung sebab mereka berdua sama-sama enggan untuk membuka suara.


“Ada apa kau kemari? Apakah kau ingin memesan dekorasi kamar lagi?” tanya Laura, membuka suara. “Tapi, Secret Garden sudah tutup. Lebih baik kau menelepon Lola atau datang besok saja.”


“Aku datang untuk berbicara denganmu, Laura,” ucap Bryan.


“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Bryan,” ucap Laura lalu berlalu pergi meninggalkan Bryan.

__ADS_1


Bryan tentunya tidak menyerah begitu saja. Selama beberapa hari dia mencoba untuk mendekati Laura lagi dan selalu menghampiri Laura saat Laura sudah selesai bekerja. Hal itu tentu membuat Laura takut jika lama-kelamaan semakin luluh dengan kehadiran Bryan lagi.


“Laura, aku ingin kita memulai hubungan baru,” ucap Bryan di hari ke delapan dia kembali mendekati Laura.


Laura menoleh ke arah Bryan. “Untuk apa, Bryan? Aku sudah bilang kalau aku muak dan lelah dengan hubungan tidak pasti di antara kita berdua. Jadi, lebih baik kau jangan berharap untuk kembali denganku,” ucap Laura.


“Laura, apakah tidak ada kesempatan kedua?” tanya Bryan, tidak mau menyerah sama sekali.


Laura menghela napasnya. “Bukan tidak ada. Tapi, aku tidak mau,” jawab Laura.


“Apakah aku harus menjelaskannya lagi, Bryan? Bukankah aku sudah berkata padamu kalau aku tidak mau kalau hanya menjadi pasangan untuk kesenangan semata?”


Bryan memejamkan matanya. Meskipun dia belum siap untuk menjalin hubungan yang serius, di sisi lain dia juga tidak mau kehilangan Laura lagi. Ada sesuatu tentang Laura yang tidak dia mengerti. Entah kenapa hatinya selalu menginginkan gadis itu padahal dia sendiri juga tidak percaya dengan apa yang namanya jatuh cinta.


“Jika kau ingin aku kembali kepadamu, kau harus menyadari dua hal, Bryan. Aku tidak mau diduakan dan aku juga tidak mau dirahasiakan,” jelas Laura dengan telak.

__ADS_1


Bryan masih diam, bingung dengan apa mau hatinya sebab dia masih ragu untuk memulai hubungan yang serius.


“Kau tidak bisa, ‘kan?” tanya Laura sambil tersenyum tipis.


Namun, saat gadis itu hendak meninggalkan Bryan, ucapan Bryan berhasil menghentikan langkahnya.


“Aku mau. Namun tolong berikan aku waktu untuk memikirkan semua itu."


Laura yang mendengar itu tersenyum kecut, lalu kembali menatap Bryan yang terlihat ragu dengan apa yang dia ucapkan.


"Hanya untuk menjalin sebuah hubungan yang serius kau butuh waktu untuk memikirkannya?" ujar Laura. "Aku tidak mendesakmu untuk menikahiku, Bryan! Hanya menjalani hubungan yang normal seperti pasangan lainnya di luar sana," sambung Laura berbicara dengan tatapan kecewa.


"Bukan seperti itu maksudku, Laura. Kau salah paham," bantah Bryan.


"Jika bukan seperti itu, lalu apa? Sekali lagi aku tanya padamu, apa kau mencintaiku, Bryan? Seperti apa perasaanmu padaku? Jika kau benar menyukaiku, maukah kau mengakui pada publik jika aku adalah kekasihmu?" tanya Laura lagi dengan tegas pada Bryan yang kembali terdiam mendengarnya.

__ADS_1


"Kau tidak bisa, bukan? Maka tolong pergilah! Menjauh dari hidupku!" ucap Laura lagi, berlalu pergi tanpa menghiraukan panggilan Bryan.


__ADS_2