
Gadis itu tersenyum masam ketika dia terbangun dan mendapati dirinya telah terlelap di kamar apartemennya. Ia memeriksa ke sisi lain tempat tidur dan ternyata tidak ada seorang pun di sana. Dia pikir, kemungkinan besar Felix langsung pergi meninggalkannya setelah mengantar Briza sampai rumah.
‘Tidak ada pria yang benar-benar peduli denganku, Felix. Tidak juga dengan dirimu,’ batinnya, agak kecewa.
Dia pun turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar. Ketika dia baru saja hendak mengambil minum di dapur, alangkah terkejutnya Briza saat mendengar sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh seseorang.
“Kau sudah bangun?”
Briza sontak saja menoleh dan membulatkan matanya saat melihat Felix baru saja datang sambil membawa satu paper bag berisi bahan-bahan makanan. Meski terkejut, dia berusaha untuk memasang wajah datar supaya Felix tidak tahu tentang keterkejutannya.
“Apa yang kau lakukan di apartemenku pagi-pagi seperti ini?” tanya Briza, pura-pura tidak mengingat tentang apa yang terjadi tadi malam.
“Kau tidak ingat kalau tadi malam kau pingsan?” balas Felix, kemudian meletakkan bahan-bahan makanan yang tadi dia beli di meja dapur. Pria tersebut tadi harus berbelanja terlebih dahulu sebab saat dia hendak memasak, dia tidak menemukan satu bahan makanan pun di dapur Briza.
“Maksudku ... Kenapa kau masih ada di sini?”
Felix menyipitkan matanya. “Kau benar-benar tidak mengerti?” tanyanya. Ia lantas menghela napas berat. “Tentu saja aku harus memastikan kalau kau baik-baik saja saat kau bangun, Briza. Aku bukan pria pengecut yang akan meninggalkan seorang wanita saat dia tidak sadarkan diri.”
Briza menatap tajam ke arah Felix. “Bohong! Kau pasti semalam sudah menjebakku dan menyentuhku, ‘kan?” tuding Briza sambil menutupi bagian depan tubuhnya meskipun dia saat ini masih memakai pakaian lengkap.
__ADS_1
“Kau tidak lihat kalau kau masih mengenakan pakaianmu yang semalam?” tanya Felix sambil menunjuk pakaian yang dikenakan oleh Briza. “Kalau pun aku ingin menidurimu, aku tidak perlu melakukannya saat kau tidak sadarkan diri. Bukankah kau sendiri yang bilang kalau kau suka dengan permainanku?”
Wajah Briza memerah padam mendengar hal tersebut. Tapi, tentu saja dia tidak mau percaya dengan Felix begitu saja. Felix bisa saja memakaikan pakaiannya kembali, ‘kan?
“Pergilah dari sini! Aku tidak mau melihatmu lagi setelah apa yang kau lakukan padaku. Kau pasti sengaja mempertemukan aku dengan Laura dan Bryan, ‘kan?”
“Kenapa kau berpikir seperti itu?”
Briza memutar bola matanya jenuh. “Mungkin aku dari awal tidak curiga denganmu. Tapi, setelah aku pikir-pikir lagi ... Aneh saja kau tiba-tiba mendekatiku. Kau pasti disuruh oleh Laura untuk mendekatiku supaya aku dapat menjauh dari Bryan, ‘kan?” tuduh Briza, tepat sasaran.
Felix mendengus, tidak menyangka kalau Briza rupanya cukup pintar memahami apa yang terjadi. Akan tetapi, Felix memilih untuk diam saja dan menerima segala makian dari Briza.
Tanpa memedulikan ucapan Briza, Felix justru berjalan mendekati Briza. Briza yang melihat hal tersebut lantas berjalan mundur. Namun, dengan satu gerakan cepat Felix menarik Briza dan mengangkat tubuh Briza ke dalam gendongannya.
Briza mencoba untuk memberontak dan melepaskan diri dari Felix. Hingga satu ancaman Felix membuat gadis itu akhirnya diam.
“Jika kau tidak bisa berhenti bergerak, aku akan melemparmu dari balkon!” ancam Felix.
Felix membawa tubuh Briza ke kamar mandi, lalu meletakkannya secara perlahan ke atas bathtub. Pria itu juga membantu Briza melucuti pakaiannya dan memandikan Briza. Melihat kondisi Briza yang tampak tak baik membuat Felix merasa iba dan ingin membantu gadis itu.
__ADS_1
Diperlakukan seperti itu, Briza hanya bisa diam sambil menatap Felix dengan tatapan bingung. Jika memang apa yang dilakukan oleh Felix hanya untuk menjebaknya saja, kenapa Felix sampai melakukan hal seperti ini?
“Kau gantilah pakaian, aku akan menunggumu di meja makan,” ucap Felix.
Pria itu pergi ke dapur kemudian memasak untuk Briza. Setelah selesai memasak, dia menyajikan masakannya di meja makan bertepatan dengan Briza yang baru saja keluar dari kamar dan sudah berganti pakaian.
“Ayo, kita makan,” ucap Felix.
Bukannya duduk, Briza justru melipat tangannya di depan dada. Gadis itu menyipitkan matanya.
“Apakah semua ini masih bagian dari skenario kalian, Felix?”
Felix menatap Briza bingung. “Apa maksudmu, Briza?”
Briza mendengus. “Berapa Laura dan Bryan membayar mu untuk memperlakukanku semanis ini?”
Felix yang mulai tersinggung dengan ucapan Briza lantas berkata, “Aku melakukan ini semua dengan tulus, Briza. Tidak ada yang menyuruhku untuk melakukan ini semua. Tapi, jika kau memang tidak suka diperhatikan, maka aku tidak akan mengusik hidupku lagi!”
Felix melangkahkan kakinya menuju ke pintu apartemen, hendak meninggalkan Briza. Di detik yang sama Briza mulai menyesali ucapannya dan berlari menyusul Felix.
__ADS_1
Gadis itu memeluk Felix dari belakang sambil berkata, “Jangan tinggalkan aku, Felix.”