
Gadis itu siang itu akhirnya dapat bernapas lega setelah Bryan mendapatkan telepon dari sekretarisnya jika dia memiliki rapat dadakan. Beberapa hari belakangan, Bryan selalu saja menempel padanya dan tidak mau meninggalkan Laura satu detik pun—kecuali jika mereka berdua sedang bekerja—dan hal tersebut cukup membuat Laura merasa sesak napas.
Meskipun Laura bersikap acuh tak acuh kepadanya, Bryan tetap saja selalu berada di dekat Laura. Pria itu bahkan memaksa untuk tinggal bersama Laura sebab dia ingin terus berusaha untuk meyakinkan Laura jika antara dirinya dan Briza sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.
Memang benar kini mereka tinggal di bawah satu atap yang sama. Tapi meskipun demikian, hubungan mereka justru kian merenggang. Bagaimana tidak? Laura masih sangat kesulitan untuk menerima masa lalu Bryan dengan Briza. Dia masih tak bisa menerima jika Bryan dan Briza sejak remaja sering tidur bersama. Dan kemungkinan besar Bryan akan kembali lagi pada Briza jika dia telah bosan kepada Laura.
“Laura, apa yang kau lakukan sendirian di sini?” tegur Felix yang baru saja pulang dan mendapati Laura tengah menyandarkan tubuhnya di depan pintu apartemen.
“Tidak apa-apa, Felix. Aku hanya agak lelah saja,” jawabnya.
“Ke mana Bryan? Biasanya saja dia selalu menempel denganmu,” tanya Felix lagi.
Laura menghela napasnya. “Dia ada rapat mendadak.”
“Jangan memasang wajah masam seperti itu. Sebentar lagi juga dia akan pulang,” ejek Felix. “Kau ini baru tidak bertemu beberapa jam saja sudah seperti tak bertemu belasan tahun dengannya.”
Felix tahu jika Bryan kini tinggal bersama Laura. Beberapa hari belakangan ini bahkan dia tidak bisa mengobrol dengan Laura sebab Bryan selalu saja menginterupsi setiap kali dia menyapa Laura. Tentu hal tersebut membuat Felix merasa kesal, namun dia bisa apa?
“Bukan itu, Felix.” Laura bangkit untuk berdiri tegak. “Ada sesuatu yang belum aku ceritakan kepadamu.”
__ADS_1
“Ada apa, Laura?”
“Kau masih ingat kalau aku pernah bercerita tentang Briza, ‘kan?”
Felix mengangguk. “Gadis itu adalah gadis yang kau curigai memiliki perasaan kepada Bryan. Ada apa dengan dia?”
“Ternyata Briza dan Bryan memang memiliki sebuah hubungan yang lebih dari seorang teman. Kata Bryan, sejak masih remaja mereka sering tidur bersama. Bahkan sampai mereka sudah dewasa,” jelas Laura kemudian menghela napas panjang.
“Apa?!” pekik Felix tidak percaya.
“Sttt, tidak perlu berteriak,” tegur Laura sambil meletakkan jari telunjuk di depan mulutnya. “Itulah alasan kenapa Bryan sekarang tinggal bersamaku. Aku masih belum bisa percaya kalau dia tidak akan kembali bersama Briza lagi dan dia ingin terus meyakinkanku.”
Felix mengangguk-anggukkan kepala, paham dengan apa yang dimaksudkan oleh Laura. Namun, sebagai pria yang pernah dan masih mencintai Laura, Felix tentu saja tidak terima kalau Laura disakiti oleh pria yang tak lain adalah kekasih Laura saat ini.
Laura terkekeh geli. “Baiklah, Bos!” guraunya. “Ngomong-ngomong, nanti malam datanglah ke apartemenku untuk makan malam. Aku lelah jika terus-menerus makan malam dalam suasana canggung. Kau tahu maksudku, bukan?”
Felix tersenyum. “Baiklah, nanti malam aku akan datang.”
Malam harinya, Felix benar-benar datang untuk makan malam bersama di apartemen Laura. Bryan yang melihat Felix sempat menunjukkan taringnya namun dia tidak dapat berbuat banyak sebab Laura yang mengundang Felix untuk makan malam bersama mereka.
__ADS_1
‘Kenapa Laura mengajak pria ini untuk ikut makan malam di sini, sih? Padahal aku masih ingin berusaha untuk membujuknya,’ gerutu Bryan dalam hati.
Kehadiran Felix di antara Bryan dan Laura memang betul membuat suasana tak lagi canggung. Namun, Bryan justru merasa diabaikan oleh mereka sebab dari tadi Laura dan Felix mengobrol dan mengabaikannya. Hanya sesekali saja mereka mengajak Bryan mengobrol.
Bryan merasa ada sesuatu yang janggal dari kedekatan Laura dan Felix. Dia tahu kalau Felix memiliki perasaan kepada Laura. Namun, kedekatan mereka terlihat seolah mereka telah mengenal satu sama lain selama bertahun-tahun. Terlebih lagi, Felix terdengar beberapa kali menyebut kota kelahiran Laura.
“Felix, aku ingin bertanya padamu,” ucap Bryan, membuat Felix dan Laura menoleh ke arahhnya.
“Apa yang ingin kau tanyakan?” balas Felix.
“Sejak kapan kau mengenal Laura?” tanya Bryan.
Laura mengernyit. “Bukankah dulu aku pernah bercerita kalau Felix dan aku kenal karena orang tua kami juga kolega?”
Bryan menghela napasnya. “Baiklah, aku akan mengganti pertanyaanku. Sejak kapan kau mulai menyukai Laura, Felix?” tanyanya, mengejutkan Laura dan Felix.
“Kau ingin jawaban bohong atau jujur?” balas Felix.
“Pertanyaan macam apa itu? Tentu aku ingin jawaban jujur,” ujar Bryan.
__ADS_1
“Aku menyukai Laura semenjak ... entahlah aku tidak ingat. Tapi, aku dan Laura sudah pernah hampir menikah,” ucap Felix tanpa rasa takut.
“Apa?!”