Penghangat Ranjang Casanova

Penghangat Ranjang Casanova
Akhirnya Jatuh Cinta


__ADS_3

Dering suara alarm membangunkan Bryan dari tidurnya. Pria itu meraba-raba nakas samping tempat tidur lalu mengambil ponselnya dan mematikan alarmnya. Pria itu mengucek-ucek matanya, lalu perlahan membukanya seraya menguap lebar.


Pria itu terkejut saat mendapati Laura saat ini tengah terlelap di dalam dekapannya. Dia tidak tahu sejak kapan dan apa penyebabnya. Yang jelas, pembatas di antara mereka sudah menghilang dan kini Laura sudah tidur sambil memeluknya. Kemungkinan besar Laura tidak sadar saat melakukannya.


‘Andai saja kau tahu kalau aku ingin terbangun setiap paginya dengan pemandangan seperti ini, Laura,’ gumam Bryan dalam hati sambil tersenyum.


Karena takut Laura akan terbangun dalam keadaan syok dan marah-marah. Bryan pun memutuskan untuk perlahan melepaskan pelukan Laura. Dia tak mau kalau Laura terbangun dan menuduhnya mengambil kesempatan saat gadis itu sedang tidur padahal mereka sama-sama berpelukan di alam bawah sadar mereka.


Bryan pun lantas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri sambil menunggu Laura terbangun dari tidur nyenyaknya.


Suara gemercik air dari arah kamar mandi membuat Laura perlahan membuka matanya. Gadis itu merentangkan kedua tangannya untuk melemaskan otot-ototnya yang terasa kaku, lalu bangkit duduk. Menyadari bahwa Bryan sudah tidak ada di sisi tempat tidur yang lain membuat Laura langsung menyimpulkan jika saat ini Bryan sedang mandi.


“Apakah aku bisa percaya kalau kau tidak main-main denganku lagi, Bryan?” gumam Laura lirih. Gadis itu duduk sambil termenung, memikirkan tentang segalanya yang terjadi pada dia dan Bryan. Laura ingin sekali mempercayai Bryan, tapi rasanya sangat sulit mengingat dari awal Bryan juga sudah mewanti-wanti supaya Laura bisa menerima sifat playboy-nya.


‘Apakah seseorang bisa berubah dalam waktu singkat hanya karena bertemu oleh orang yang tidak bisa dia lupakan?’


Itulah yang menjadi pertanyaan Laura akhir-akhir ini di saat Bryan mulai mendekatinya kembali. Laura menghela napasnya, memilih untuk turun dari tempat tidur dan melihat-lihat ke sekeliling kamar Bryan yang dipenuhi oleh beberapa piala penghargaan dan foto-foto Bryan semasa kecil hingga remaja.


“Laura, kau sudah bangun?”


Pertanyaan itu membuat Laura tersentak dan menoleh ke arah Bryan. Dia menelan salivanya saat melihat Bryan keluar dari kamar mandi hanya dengan sepotong handuk yang menutup bagian bawah tubuhnya.


“Ya. Aku harus bekerja,” jawab Laura.


“Pergilah mandi dulu. Aku sudah meminta asistenku untuk membelikan baju ganti untukmu. Aku akan menunggumu di bawah,” ucap Bryan.


Laura menganggukkan kepalanya, lalu pergi ke kamar mandi. Tiga puluh menit kemudian, gadis itu sudah siap dengan mengenakan pakaian yang dibelikan oleh Bryan.

__ADS_1


Saat Laura turun, rupanya orang tua Bryan dan Bryan tengah sarapan bersama. Laura pun ikut bergabung dengan mereka. Setelah sarapan barulah Bryan mengantarnya berangkat bekerja.


“Ma, Pa, aku dan Laura pamit dulu. Aku harus mengantar Laura pergi bekerja,” pamit Bryan.


“Di mana kau bekerja, Laura?” tanya Deborah. “Maaf, semalam aku minum terlalu banyak anggur jadi aku agak lupa dengan percakapan kita.”


“Aku bekerja di toko bunga, Secret Garden,” jawab Laura dengan jujur, sengaja ingin tahu bagaimana respons orang tua Bryan.


“Biar kutebak ... Kau dan Bryan bertemu pertama kali karena Bryan memesan bunga dari Secret Garden?” timpal Fabio.


Laura mengangguk. “Benar. Apakah kalian tidak keberatan kalau Bryan memiliki kekasih yang bekerja di toko bunga?” tanya Laura. Pertanyaan itu juga sebetulnya yang ingin Bryan tanyakan kepada orang tuanya mengingat bagaimana kehidupannya dan Laura yang jauh berbeda.


Deborah dan Fabio saling berpandangan.


“Tentu saja kami tidak keberatan, Laura. Apa pun jenis pekerjaan itu tidak penting. Karena yang terpenting adalah kerja keras,” jawab Fabio.


Setibanya di toko bunga, saat masih berada di dalam mobil Bryan sempat hendak mencium Laura namun Laura menghindar.


“Maaf, Bryan. Aku belum siap untuk menerimamu lagi.” Begitulah kata Laura. Ia tidak bisa memaksakan hatinya kalau dia sendiri merasa belum siap.


Bryan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku mengerti, Laura. Tidak apa-apa. Mungkin sekarang belum waktunya,” ucapnya sambil tersenyum tipis.


“Kau ... tidak marah?” tanya Laura bingung.


Dulu saja Bryan selalu menggunakan segala bujuk rayu supaya Laura mau bercinta dengannya. Tapi, sekarang pria itu bisa menerima penolakan dari Laura. Hal tersebut merupakan sesuatu yang baru bagi Laura mengingat bagaimana sikap Bryan beberapa waktu yang lalu.


“Ya. Untuk apa aku marah?” Bryan meraih tangan Laura, kemudian menggenggamnya dan mengecup punggung tangan itu. “Laura, meskipun kau saat ini belum siap untuk memulai hubungan denganku, aku tidak masalah. Aku akan terus berusaha untuk meyakinkanmu kalau aku benar-benar serius denganmu.”

__ADS_1


“Kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran, Bryan?” tanya Laura. Semua ini terlalu membingungkan untuk gadis itu.


“Hari-hari setelah aku dan dirimu berpisah, aku sama sekali tidak bisa menghilangkan dirimu dari pikiranku. Aku berusaha untuk melupakanmu, tentu saja. Tapi, aku tidak bisa. Saat itulah aku sadar kalau untuk yang pertama kalinya ... Aku akhirnya jatuh cinta,” jelas Bryan.


Laura menahan napasnya. Terkejut dengan penjelasan Bryan. Dia masih belum bisa percaya jika seorang playboy seperti Bryan bisa jatuh cinta dan itu dengan dirinya.


Kalau saja Bryan sudah menyadari perasaannya dan tidak bersikap egois dari awal, mungkin mereka sudah menjadi sepasang kekasih yang bahagia. Namun, sayangnya Bryan terlambat untuk menyadari itu semua.


Laura melepaskan tangannya dari genggaman Bryan. “Aku harus bekerja sekarang, Bryan,” ucapnya.


Bryan menganggukkan kepala. Pria itu lantas turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Laura. Tak lupa dia juga menggandeng Laura masuk ke dalam Secret Garden meskipun awalnya Laura tidak mau melakukannya.


“Biarkan aku menggandengmu masuk. Setelah ini aku akan pergi bekerja.”


Itulah ucapan Bryan yang membuat Laura akhirnya pasrah dan mau digandeng oleh Bryan.


“Selamat pagi, Lola,” sapa Laura.


Lola yang awalnya sedang sibuk dengan mendata pesanan bunga menoleh. Tatapan matanya langsung jatuh pada tangan Laura dan Bryan yang bertautan. Menyadari hal itu, Laura sontak saja melepaskan genggaman tangan Bryan.


“Maaf, Laura hari ini terlambat datang. Tadi malam aku mengajaknya bertemu orang tuaku dan orang tuaku meminta Laura untuk menginap,” ucap Bryan, meminta maaf untuk Laura.


Lola menatap Laura dan Bryan dengan tatapan menelisik. Wanita itu juga tersenyum curiga pada dua sejoli itu.


“Apakah kalian sudah balikan?” tanya Lola.


“Maaf, aku harus bekerja.” Laura yang salah tingkah berkata demikian lalu langsung masuk ke dalam, meninggalkan Lola dan Bryan.

__ADS_1


“Kau doakan saja untuk kami, Lola. Mengejar Laura agak sulit tapi aku percaya kalau aku akan bisa menaklukkan hatinya,” balas Bryan sambil mengedipkan sebelah matanya.


__ADS_2