Penghangat Ranjang Casanova

Penghangat Ranjang Casanova
Mengabaikan Briza


__ADS_3

Beberapa waktu yang lalu Laura pernah membahas jika hubungannya dengan orang tuanya tidak baik. Maka dari itulah Bryan dapat memahami kenapa Laura kini terdiam setelah dia berkata jika dia akan meminta restu kepada orang tua gadis itu. Tapi, bukan Bryan namanya jika dia tidak punya seribu satu cara untuk meyakinkan Laura.


Pria itu meraih tangan Laura, kemudian menggenggamnya dengan erat. Ditatapnya mata Laura dengan sangat intens dan penuh keyakinan.


“Aku tahu jika hubunganmu dengan orang tuamu mungkin masih tidak baik-baik saja. Namun, satu-satunya jalan supaya aku bisa meyakinkan dirimu tentang keseriusan cintaku adalah dengan menemui mereka dan meminta restu dari mereka, Laura,” ucap Bryan.


“Bryan, tapi orang tuaku bukanlah orang yang mudah untuk diajak kompromi. Aku masih tidak mau bertemu dengan mereka setelah apa yang mereka katakan malam itu,” ucap Laura sambil mengalihkan pandangannya.


Bryan menarik dagu Laura supaya gadis itu kembali menatapnya. “Apakah mereka marah padamu karena kau tidak mau dijodohkan dengan Felix?” tanyanya, penasaran dengan alasan Laura yang sebenarnya.


Laura menggeleng. “Ada sesuatu yang lain yang sulit untuk aku jelaskan, Bryan,” katanya.


“Aku mengerti.” Bryan mengangguk-anggukkan kepala. Dia tidak akan memaksa Laura menjelaskan kalau memang Laura belum siap untuk bercerita. “Tapi, aku yakin kita akan menemukan cara untuk menyelesaikan masalahmu dan mendapatkan restu dari orang tuamu.”


Laura mengangguk-anggukkan kepalanya meskipun dia sendiri tidak yakin jika mereka bisa melakukannya. Laura tahu persis bagaimana sifat orang tuanya. Dia takut kalau orang tuanya tidak akan bisa menerima kehadiran Bryan setelah apa yang terjadi malam itu.


“Oh, iya. Ngomong-ngomong tentang persyaratan darimu tadi ... Aku rasa kau juga harus bersiap-siap,” ujar Bryan.


Laura mengerutkan dahinya. “Apa maksudmu?” tanyanya bingung. Laura memberikan syarat kepada Bryan supaya tidak bertemu dengan Briza lagi. Namun, kenapa jadi dia yang harus bersiap-siap?


“Briza pasti akan melakukan segala cara-cara licik untuk membuatmu kembali marah padaku dan memisahkan kita,” ucap Bryan, memperingatkan Laura.

__ADS_1


Memang betul jika selama ini Briza adalah teman dekat Bryan. Akan tetapi, setelah mendengar ancaman Briza tempo hari kalau Bryan pasti akan kembali lagi pada Briza membuat perasaan Bryan menjadi janggal. Entah kenapa dia merasa jika ada sesuatu yang sedang direncanakan oleh Briza.


“Baiklah, aku akan bersiap untuk kemungkinan buruk itu,” ucap Laura. “Memangnya apa yang mungkin dia lakukan?”


Bryan mengedikkan bahunya. “Aku juga tidak tahu. Yang jelas, aku ingin kau tetap mempercayaiku meskipun Briza melakukan hal-hal untuk memisahkan kita berdua.”


Laura mengangguk setuju sesudah mendengar itu.


*****


Satu Minggu sudah berlalu semenjak hari di mana Briza menjebak Bryan. Gadis itu pusing tujuh keliling sebab sampai detik ini Bryan masih belum menghubunginya. Jangankan menghubungi Briza, telepon dari Briza saja dia abaikan. Pria itu seolah sedang berusaha untuk menghindar dari Briza.


Setelah hampir satu jam menunggu di sana, akhirnya dia melihat Bryan datang. Briza tersenyum senang kemudian berdiri dan melambaikan tangannya ke arah Bryan.


“Bryan!” panggilnya.


Bryan tampak mengatakan sesuatu pada bawahannya kemudian berjalan menuju ke arah pintu kantornya tanpa membalas sapaan dari Briza.


Briza yang kesal pun berlari menghampiri Bryan dan menahan tangan Bryan ketika pria itu hendak masuk ke dalam ruang kerjanya.


“Bryan, kenapa kau mengabaikan ku?” tanya Briza sambil mencebik kesal.

__ADS_1


“Maaf, Briza. Aku sedang sibuk,” ucap Bryan singkat.


Pria itu hendak masuk ke dalam ruang kerjanya namun lagi-lagi Briza menahan tubuhnya. “Bryaaaan!!”


Bryan menghela napasnya. “Apa? Aku tidak mau ada kesalahpahaman lagi antara aku dan Laura jika aku menemuimu. Aku juga sudah bilang padamu jika hubungan tidak jelas kita sudah berakhir, bukan?” tanya Bryan dengan suara rendah, supaya pegawainya tak ada yang mendengar percakapan mereka.


“Memangnya aku peduli?” balas Briza acuh tak acuh. “Apakah Laura yang menyuruhmu untuk menjauh dariku?”


“Tidak,” jawab Bryan, namun Briza tidak percaya dengan ucapannya.


“Memangnya dia pikir dia itu siapa sampai-sampai dia berani mengaturmu?” cibir Briza.


Bryan tersenyum tipis. “Dia adalah kekasihku kalau kau lupa, Briza. Dia punya hak untuk melakukan apa pun yang dia inginkan dariku.”


“Ck!” Briza berdecap. “Aku sa—”


“Kalau tidak ada hal penting yang ingin kau bicarakan, lebih baik kau pergi dari sini. Aku masih memiliki banyak pekerjaan. Permisi,” ujar Bryan lalu masuk ke dalam ruang kerjanya dan mengunci pintu dari dalam supaya Briza tidak bisa masuk.


“Bryan!!” seru Briza sambil mengentak-entakkan kakinya. “Awas saja kalian berdua!”


Briza yang tak terima pun menyeringai licik, kemudian mengirimkan foto saat dia dan Bryan tidur tempo hari kepada Laura.

__ADS_1


__ADS_2