Penghangat Ranjang Casanova

Penghangat Ranjang Casanova
Menyambut Baik Kehadiran Laura


__ADS_3

Wanita paruh baya yang sedang duduk sambil menikmati segelas anggur sontak meletakkan gelas tinggi itu di meja, kemudian bangkit berdiri. Deborah—ibu Bryan—berjalan menghampiri Bryan dan Laura untuk menyapa mereka. Wanita itu tampak tersenyum lebar dan langsung memberikan sapaan kepada Laura berupa ciuman di kedua pipi gadis itu.


“Senang bertemu denganmu, Laura. Aku Deborah, ibu Bryan,” ucapnya memperkenalkan diri.


“Namaku Laura, Señora,” balas Laura sambil tersenyum malu-malu. Dia benar-benar mati gaya di depan orang tua Bryan. Apalagi, saat ini di rumah Bryan sedang ada banyak sekali kerabat yang berkumpul.


“Ah, tidak perlu terlalu formal. Kau bisa memanggilku dengan sebutan nama saja,” ujar Deborah sambil mengibaskan tangannya di udara.


Ayah Bryan pun ikut menghampiri Laura dan Bryan. Ia lantas mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Laura. “Aku Fabio, ayah Bryan. Senang bertemu denganmu,” ucapnya.


Laura dan Fabio berjabat tangan sejenak.


“Aku juga senang bertemu dengan kalian,” ucap gadis itu.


Pipi gadis itu memerah padam. Dalam hati dia menyumpah serapah pada Bryan yang semena-mena mengajaknya pergi ke rumah orang tuanya tanpa memberikan Laura aba-aba terlebih dahulu. Memang betul Laura mengharapkan sebuah bukti yang bisa meyakinkan dirinya terhadap keseriusan Bryan. Namun, dia juga belum siap kalau harus tiba-tiba dikenalkan dengan orang tua Bryan.


“Kau tahu, kami sudah menunggu momen ini sangat lama. Akhirnya Bryan membawa gadis untuk dikenalkan kepada kami,” celoteh Deborah.


Deborah dan Fabio menyambut kedatangan Laura dengan tangan terbuka. Mereka sebetulnya tidak begitu terkejut dengan hubungan Laura dan Bryan sebab mereka pernah memergoki Laura dan Bryan tidur di ranjang yang sama beberapa waktu yang lalu meskipun mereka tak sempat untuk menyapa. Mereka justru senang karena pada akhirnya Bryan sendiri yang berinisiatif untuk memperkenalkan Laura kepada mereka.


“Memangnya selama ini Bryan tidak pernah mengenalkan mantan-mantan pacarnya?” tanya Laura dengan polos meskipun dia sudah tahu jawabannya. Mana mungkin Bryan akan mengenalkan setiap teman tidurnya kepada orang tuanya.


“Bryan tidak pernah mengenalkan mereka. Kami tahu dia tidak serius dengan mantan-mantan pacarnya. Untuk itu kami senang karena akhirnya Bryan bisa serius dengan seorang wanita,” jawab Fabio sambil menghela napas lega.


Para kerabat orang tua Bryan juga ikut merasa senang. Selama ini pemberitaan tentang hubungan asmara Bryan selalu saja negatif. Mereka bahkan sempat berpikir kalau Bryan adalah tipe pria yang tidak akan pernah bisa setia pada satu wanita saja.

__ADS_1


Akan tetapi, di antara semua orang yang merasa bahagia. Ada seseorang yang justru merasa kesal ketika melihat kedatangan Bryan dan Laura. Orang itu adalah Briza. Malam itu, dia datang bersama kedua orang tuanya. Sebagai seseorang yang merasa kalau dia memiliki ikatan tak kasat mata dengan Bryan, Briza ingin mengambil hati orang tua Bryan. Tapi, rupanya yang terjadi tak seindah harapan Briza. Orang tua Bryan justru malah tampak sangat senang dengan kehadiran Laura.


Briza berdiri, lalu berjalan menghampiri Laura dan Bryan.


“Hai, Laura. Aku Briza, sahabat Bryan,” ucapnya sambil menyentuh pundak Bryan dengan santai. Meski kesal, Briza berusaha untuk tetap bersikap tenang. “Bryan, ternyata kekasihmu cantik sekali.”


Laura sedikit terkejut dengan gesture yang ditunjukkan oleh Briza. Namun dia memilih untuk tidak mengambil pusing hal tersebut.


“Senang berkenalan denganmu, Briza,” balas Laura singkat.


“Oh, iya, kita baru akan mulai makan malam. Apakah kalian mau bergabung?” tanya seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Tante Bryan.


Bryan menatap ke arah Laura. Mengingat bahwa tadi Laura sudah makan malam dan mungkin saja sekarang masih kenyang, pria itu berinisiatif untuk menolak tawaran tersebut.


“Ah, baiklah begitu. Tapi, kalau kalian lapar, kalian bisa bergabung dengan kami kapan pun kalian mau,” ucap Deborah.


Sementara orang tua dan kerabat Bryan makan malam bersama, Bryan mengajak Laura pergi ke greenhouse yang terletak di belakang mansion megah keluarganya. Mereka berdua menyusuri jalan setapak yang menghubungkan antara rumah orang tua Bryan dengan greenhouse.


“Woah, apakah ibumu senang berkebun?” tanya Laura, terpukau dengan greenhouse itu.


Rumah kaca tersebut dipenuhi dengan bunga warna-warni. Bahkan, ada sebuah sudut yang digunakan untuk menanam tumbuhan herbal. Selain di Secret Garden, Laura belum pernah melihat greenhouse yang sangat indah seperti ini.


“Dulu, saat aku masih tinggal di rumah ini, akulah yang berkebun. Orang tuaku terlalu sibuk untuk menghabiskan waktu di taman. Tapi, aku sangat suka dengan wewangian bunga. Jadi, aku meminta orang tuaku untuk membangunkan sebuah greenhouse untukku,” jelas Bryan. “Tapi, setelah aku pindah. Katanya, sih, Mama jadi suka berkebun.”


Laura mengangguk-anggukkan kepala. Gadis itu lantas sibuk dengan mengamati bunga-bunga yang ada di sana.

__ADS_1


Kecanggungan pun kembali menyelimuti mereka sebab setelah penjelasan Bryan tadi, tak ada lagi yang membuka suara. Laura bahkan pura-pura sibuk memerhatikan bunga dan agak menjaga jarak dari Bryan.


Bryan hanya bisa menghela napas dan mencoba untuk tetap berpikir positif. Mungkin saja Laura memang sangat fokus sampai-sampai berulang kali mengabaikannya.


Setelah hampir satu jam berada di greenhouse, Bryan kembali mengajak Laura ke dalam rumah. Rupanya, acara makan malam orang tua Bryan sudah selesai. Para kerabat dan tamu orang tua Bryan bahkan sudah pulang. Hingga kini yang tersisa hanya orang tua Bryan saja.


“Jadi, kapan kalian akan bercerita tentang kapan kalian mulai mengenal satu sama lain,” ucap Fabio, memancing Laura dan Bryan untuk bercerita.


“Kami bertemu sekitar tiga bulan lalu, Pa,” balas Bryan. “Saat aku baru pertama kali melihat Laura, aku sudah langsung penasaran dengan dia dan akhirnya aku mendekati Laura.”


Mereka berempat lantas mengobrol mengenai banyak hal seperti bagaimana proses pendekatan mereka hingga tentang pekerjaan. Orang tua Bryan tampak tak mempermasalahkan tentang pekerjaan Laura padahal mereka adalah pasangan pengusaha kaya. Hal tersebut membuat Laura terkejut sekaligus senang karena merasa diterima.


Laura melirik ke arah Bryan. Ia sempat merasa luluh dengan perlakuan Bryan. Gadis itu mulai merasa kalau Bryan benar-benar serius dengan ucapannya.


Waktu pun terus bergulir hingga tanpa sadar kini sudah larut malam.


“Sepertinya aku harus pamit karena sekarang sudah larut malam,” ucap Laura kemudian bangkit berdiri.


Bryan dan orang tua Bryan ikut berdiri.


“Laura, kau bisa bermalam di rumah ini kalau kau mau. Sekarang sudah larut, aku takut kalau Bryan mengantuk di jalan nantinya,” ucap Deborah.


“Tapi—” Laura hendak menolak tawaran itu,namun dia tidak punya alasan yang tepat.


“Ayolah. Jangan sungkan. Bermalam di rumah ini saja, ya?” bujuk Deborah.

__ADS_1


__ADS_2