Penghangat Ranjang Casanova

Penghangat Ranjang Casanova
Mendekati Briza


__ADS_3

Mencari tahu informasi tentang seseorang yang sangat terkenal seperti Briza bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Hanya dengan memeriksa akun sosial media dan beberapa foto yang diambil paparazi, Felix sudah berhasil mendapatkan semua informasi yang dia perlukan. Setelah yakin dengan keputusannya untuk membantu Laura, pria itu langsung mencari tahu tentang hobi Briza, hal-hal yang gadis cantik itu sukai, bahkan sampai di mana Briza sering menghabiskan waktu saat tidak sedang bekerja.


Seperti hari ini, Felix sengaja datang ke sebuah toko kue langganan Briza. Menurut informasi yang dia dapatkan, Briza setiap akhir pekan kerap kali membeli kue di sana. Pria itu bahkan sengaja memesan kue yang sama seperti yang biasa dipesan oleh Briza, membuat pertemuan mereka seakan hanyalah sebuah kebetulan.


“Hai, bisakah aku memesan carrot cake yang biasa aku beli?” tanya Briza kepada pekerja toko kue tersebut.


“Maaf sekali, Nona. Carrot cake yang biasa Anda pesan baru saja dibeli oleh Tuan ini,” jawab si pekerja sambil menunjuk ke arah Felix yang hendak membayar kue tersebut.


“Apakah kalian tidak punya stok lagi?” tanya Briza. Gadis itu menoleh ke arah jam dinding. Biasanya jam empat sore seperti ini masih ada satu atau dua potong kue kesukaannya yang belum terjual.


“Maaf, Nona. Tapi, kami tidak punya stok lagi,” jawabnya.


“Nona, apakah kau ingin membeli carrot cake ini?” tanya Felix. “Jika kau mau, kue ini untukmu saja. Aku bisa membeli kue yang lain,” sambung pria itu sambil tersenyum hangat.


“Ah, tidak perlu, Tuan. Tidak sopan rasanya kalau aku merebut pesananmu,” balas Briza, merasa sungkan meskipun dia sebenarnya sangat menginginkan kue itu.


Sebagai seorang model, dalam satu Minggu Briza hanya memiliki waktu satu hari untuk bisa makan makanan yang dia sukai tanpa harus memedulikan tentang dietnya. Tak heran jika dia agak kesal karena kue kesukaannya sudah habis.

__ADS_1


“Tidak perlu sungkan. Aku sudah membayarnya, ini untukmu saja,” ujar Felix, seraya menyodorkan sebuah kotak berisi kue.


“Apakah benar tidak apa-apa?”


Felix mengangguk. “Tentu saja.”


“Baiklah, terima kasih, Tuan,” ucap Briza sambil menerima kue tersebut.


Beberapa hari berlalu dan Felix terus mencari cara supaya dia sering bertemu dengan Briza. Briza yang kerap kali bertemu dengannya lantas berpikir kalau Felix adalah salah satu pria yang berniat untuk mendekatinya. Apalagi, Felix juga tampak beberapa kali mengajaknya mengobrol dan menawarkan Briza sesuatu.


Tampan, mapan, dan berpenampilan menarik membuat Briza tak keberatan saat Felix berusaha mendekatinya. Briza bahkan berpikir jika Felix sama seperti pria-pria lain yang mengaguminya.


Tak terkecuali hari ini.


Pria itu tampak sedang merapikan dasinya kemudian turun dari mobil. Seorang penerima tamu menyambut kedatangannya dan meminta Felix untuk langsung masuk ke aula hotel berbintang lima tersebut.


Hari ini ada sebuah acara pesta perilisan sebuah produk kosmetik di mana Briza adalah model ambasador produk kosmetik tersebut. Kebetulan sekali pemilik perusahaan ini adalah salah satu kolega keluarganya sehingga dia juga mendapatkan undangan untuk menghadiri acara pesta ini.

__ADS_1


Felix tersenyum miring ketika melihat Briza tengah berdiri di sudut ruangan sambil mengutak-atik ponselnya. Dengan gerakan cepat Felix pun menghampirinya dan mengajaknya mengobrol.


“Kau terlihat cantik di iklan kosmetik itu,” ucap Felix tiba-tiba, membuat Briza terkejut dan sontak langsung menoleh ke arahnya.


“Oh, hai. Kau juga diundang ke acara ini?” tanya Briza.


“Ya. Perusahaan keluargaku dan perusahaan ini sudah bekerja sama cukup lama,” jawab Felix. “Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak menikmati pesta dan malah berdiri di sini?”


Briza menghela napasnya. “Aku hanya sedang menunggu telepon dari seseorang.”


“Kekasihmu?”


“Bukan. Hanya teman.”


“Dari pada kau berdiri di sini dan tampak sangat menyedihkan, lebih baik kau menikmati pesta ini. Kau adalah bintang di pesta ini. Jadi, jangan biarkan hal-hal pribadi merusak momenmu,” ujar Felix, berbisik tepat di depan telinga Briza.


Mendengar itu, Briza mengangguk setuju dan mengikuti saran dari Felix. Mereka berdua minum cukup banyak alkohol sambil mengobrol dan bertukar canda tawa. Briza yang merasa kalau Felix bukanlah orang biasa pun perlahan masuk ke dalam perangkap Felix.

__ADS_1


Begitu acara pesta selesai, Felix menggandeng tangan Briza menuju ke salah satu kamar di hotel tersebut. Dia sebetulnya sudah menyiapkan sebuah kamar yang akan dia gunakan untuk membuat Briza semakin takluk kepadanya.


Briza sendiri begitu menikmati malam ini sampai-sampai dia merelakan tubuhnya dijamah oleh pria yang baru beberapa kali ditemuinya. Gadis itu bahkan tampak sangat pasrah dan menikmati setiap menit dari permainan yang dilakukan oleh Felix.


__ADS_2