
Satu minggu berlalu, namun Laura tak henti-hentinya dibuat kalang kabut oleh sikap Bryan yang seolah ingin mematahkan persepsinya tentang pria itu. Satu minggu belakangan ini, Bryan selalu bersikap layaknya dia benar-benar ingin memperjuangkan Laura. Pria itu seolah ingin Laura tahu jika apa yang dia ucapkan di telepon waktu itu bukanlah bualan orang yang berada di bawah pengaruh alkohol semata.
Tak terkecuali hari ini, pagi-pagi sekali saat Laura baru sampai di Secret Garden, dia melihat Bryan sudah berada di Secret Garden dan tampak sedang mengobrol dengan Lola. Laura yang pagi itu diantar oleh Felix sempat berniat untuk mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil.
“Laura, apakah ada yang mengganggu pikiranmu? Kenapa kau diam saja?” tanya Felix bingung sebab mereka sudah sampai di Secret Garden dari lima menit yang lalu namun Laura hanya diam saja sambil menatap ke luar jendela mobil.
Laura tersentak dari lamunannya, kemudian menoleh ke arah Felix. “Ah, tidak ada Felix.” Gadis itu lantas melepaskan sabuk pengaman. “Aku tadi hanya sempat merasa agak pusing. Tapi, sekarang aku sudah tidak apa-apa, ‘kok.”
“Kau yakin kau tidak apa-apa?”
Laura mengangguk. “Aku tidak apa-apa. Aku memang punya anemia jadi kadang suka tiba-tiba pusing,” jawab Laura asal.
“Baiklah. Tapi, kalau ada apa-apa kau harus langsung meneleponku,” ucap Felix dengan tegas.
Gadis itu terkekeh kecil. “Pasti aku akan menghubungimu, Felix. Ya sudah, aku turun dulu. Terima kasih karena sudah mengantarku bekerja.”
Felix mengangguk. Setelahnya, Laura turun dari mobil. Gadis itu menunggu Felix benar-benar pergi dari sana sebelum dia melangkahkan kakinya masuk ke Secret Garden.
“Laura,” panggil Bryan, namun tidak diindahkan oleh Laura.
“Selamat pagi, Lola.” Bukan menjawab sapaan Bryan, gadis itu justru menyapa Lola.
“Laura, aku yang menyapamu tapi kenapa kau malah menyapa Lola?” protes Bryan, lagi-lagi tidak diacuhkan oleh Laura.
“Selamat pagi, Laura,” balas Lola. “Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian. Tapi, aku betul-betul tidak mau terlibat,” ucapnya lalu berlari masuk meninggalkan Laura dan Bryan.
__ADS_1
Laura menghela napasnya, kemudian menoleh ke arah Bryan. Kalau boleh jujur, sebetulnya Laura juga merindukan Bryan. Tapi, tidak. Gadis itu tidak mau terjerat tipu muslihat Bryan lagi. Dia tidak mau merasakan kehilangan seseorang yang bahkan tidak pernah menjadi miliknya.
“Apa lagi yang kau inginkan, Bryan? Apakah kau tidak lelah dengan semua kepura-puraan itu?” tanya Laura sambil melipat tangannya di depan dada.
Bryan mengerutkan kening. “Kepura-puraan apa yang kau maksud, Laura? Aku serius ingin memulai hubungan lagi denganmu,” balas Bryan. Pria itu tak mengerti kenapa Laura sangat keras kepala dan tidak mau mempercayainya sedikit pun. Padahal, dulu Laura yang menginginkan mereka untuk memiliki hubungan yang serius.
“Aku tidak ingin bualanmu hanya karena kau ingin mengajakku tidur, Bryan. Aku sudah muak dengan itu semua. Aku tidak mau kau menyentuhku lagi kalau kau tidak menginginkan sesuatu yang serius dari hubungan kita,” sentak Laura dengan tegas. Gadis itu tidak mau dijadikan boneka dalam permainan gila Bryan lagi.
“Laura, kenapa kau masih tidak mau percaya padaku? Aku serius denganmu. Aku mencintaimu, Laura. Kau adalah gadis pertama yang telah membuatku jatuh cinta,” ucap Bryan, mengungkapkan isi hatinya.
Laura memejamkan matanya sejenak, lalu membukanya sambil berkata, “Ketika kepercayaan sudah hancur, kau harus benar-benar meyakinkanku supaya aku bisa percaya lagi kepadamu.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Laura melangkahkan kaki untuk meninggalkan Bryan yang masih termenung dan memikirkan ucapan Laura.
*****
“Sebentar lagi selesai,” ucap Laura tanpa menolehkan kepala. Gadis itu masih sibuk dengan memasukkan bunga-bunga ke dalam lemari penyimpanan.
“Cepatlah sedikit. Dario dan Felix sudah menunggu di depan,” kata Reyna.
“Iya, bersabarlah. Sebentar lagi aku akan selesai,” ucap Laura. “Kau tunggu saja di luar. Lima menit lagi aku akan menyusul.”
Sesuai dengan apa yang dia katakan, tak sampai lima menit Laura sudah menyusul Reyna ke depan. Dan benar saja kalau Dario dan Felix tampak sudah menunggu. Malam ini, mereka ada janji untuk makan malam bersama karena kebetulan Laura baru saja mendapatkan bonus dari Lola dan berniat untuk mentraktir teman-temannya.
“Hai, semuanya. Maaf, aku membuat kalian menunggu lama,” ucap Laura.
__ADS_1
“Tidak masalah. Ayo, kita berangkat sekarang,” balas Reyna.
Setelah Reyna mengucapkan hal itu, Felix dan Dario sama-sama mengulurkan tangannya untuk menggandeng Laura. Reyna yang melihat hal tersebut lantas menggeleng-gelengkan kepala lalu mengambil inisiatif untuk menggandeng tangan Laura supaya Laura tidak perlu memilih di antara Felix atau Dario.
Mereka pergi ke restoran dengan menggunakan satu mobil saja supaya tidak memenuhi jalanan Barcelona yang cenderung macet di sore hari. Felix dan Dario duduk di kursi depan sementara Reyna dan Laura duduk di kursi belakang.
Reyna memutar bola matanya saat kesekian kalinya dia mendapati Felix dan Dario curi-curi pandang ke arah Laura melalui kaca spion tengah. Sementara Laura yang tidak menyadari hal tersebut sibuk berceloteh dan membicarakan tentang film yang kemarin dia tonton di sebuah platform menonton film.
Sesampainya di restoran, Reyna merasa seolah dia adalah obat nyamuk. Sebab dari tadi, Dario dan Felix tampak berebut perhatian Laura. Sementara dirinya, tak benar-benar diperhatikan. Tapi, Reyna tak merasa kesal sedikit pun karena dia tahu kalau dia pria itu menaruh perasaan untuk Laura.
“Tadi, ada pelanggan yang sangat menyebalkan di Secret Garden. Bisa-bisanya dia memintaku untuk menentukan semuanya dan saat ditanya dia hanya menjawab seadanya,” keluh Reyna.
“Tapi, pria itu tampan, ‘kan?” goda Laura sambil menaik-turunkan alisnya. Dia tahu temannya itu menceritakan pelanggan mereka karena dia sempat terpesona.
“Ih, Laura. Mau setampan apa pun pria itu, kalau punya sifat dingin, sih, tidak akan membuatku terpesona,” kilah Reyna.
Ucapan Reyna membuat teman-temannya tertawa renyah. Sepanjang makan malam, mereka juga menghabiskan waktu untuk mengobrol dan membicarakan tentang kegiatan mereka masing-masing. Obrolan mereka berakhir seru, hingga membuat seseorang yang juga sedang makan di restoran itu merasa panas.
“Laura,” panggil seseorang, membuat Laura dan teman-temannya menoleh ke arah sumber suara.
Mereka terkejut saat melihat Bryan sudah berdiri di belakang kursi Laura. Laura sontak saja berdiri sambil mengerutkan dahinya.
“Bryan?” tanya Laura tak percaya. Dia sangat bingung kenapa pria itu tiba-tiba sudah ada di sana.
“Hai, Bryan. Apakah kau mau bergabung dengan kami?” tawar Reyna, berusaha untuk memecahkan suasana canggung yang menyelimuti meja tersebut.
__ADS_1
“Aku ke sini untuk menjemput kekasihku,” ucap Bryan, lalu menarik Laura supaya ikut bersamanya.