Penghangat Ranjang Casanova

Penghangat Ranjang Casanova
Apa Hubunganmu Dengan Briza?


__ADS_3

Jika saja Laura tidak sedang kesal dengan Bryan, mungkin dia akan menikmati setiap detik yang ia lalui bersama Bryan di restoran ini. Bagaimana tidak? Restoran ini mengusung tema yang sangat romantis. Lampu hias bercahaya hangat dipasang pada kabel-kabel yang menjuntai di bagian atas restoran tersebut. Tak hanya itu saja, suasana mentari yang mulai tenggelam pun menambah suasana romantis di tempat tersebut.


Sayangnya, Laura terlalu kesal hingga dia tidak bisa menikmati keindahan yang ada di sana. Gadis itu masih merasa sangat kecewa dengan apa yang telah dilakukan oleh Bryan sampai-sampai dia enggan menatap pria itu pada matanya. Dari tadi Laura bahkan hanya menundukkan kepala atau mengalihkan pandangannya, asalkan tidak menatap ke arah mata Bryan.


“Laura, kau harus mencoba makananku. Rasanya sangat lezat sekali,” ucap Bryan sambil menyodorkan sesendok makanannya ke arah Laura.


Laura menggeleng. “Tidak perlu. Makananku juga sudah cukup,” ucapnya cuek.


Meskipun Laura terus bersikap cuek dan tak acuh kepadanya, Bryan tetap berusaha untuk meluluhkan hati Laura. Sebagai seorang pria yang menyadari kalau dirinya telah berbuat salah, Bryan tahu kalau sikap Laura menunjukkan kalau gadis itu tengah marah kepadanya. Bryan tidak tahu apa yang telah Laura dan Briza bicarakan malam tadi. Yang jelas, sepertinya hal itu yang membuat Laura sangat marah padanya.


“Laura, lihat aku,” ucap Bryan seraya mengangkat dagu Laura supaya gadis itu mau menatap matanya. “Apakah kau marah padaku?”


Gadis itu menyingkirkan tangan Bryan dari dagunya, kemudian menghela napas. “Apa hubunganmu dengan Briza? Bisakah kau menjelaskan kenapa tadi malam kau kembali ke apartemen Briza?” tanya Laura pada akhirnya.


“Aku kembali ke apartemen Briza karena aku ingin memastikan apakah dia baik-baik saja atau masih sakit. Dia hanya sendirian di sana. Aku merasa tidak tega kalau dia tidak kunjung sembuh,” jawab Bryan, meskipun setelah apa yang terjadi tadi malam membuat Bryan berpikir kalau Briza sebetulnya tidak benar-benar sakit.

__ADS_1


Laura memutar bola matanya. “Demi Tuhan, Bryan. Dia bisa menghubungi orang lain dan meminta orang lain untuk menemaninya. Bukankah dia seorang model terkenal? Pasti dia memiliki asisten, teman, atau keluarga yang bisa menemaninya,” gerutu Laura.


“Laura, aku sudah berteman dengan Briza sangat lama. Aku—”


“Ya, ya, ya. Aku paham.” Laura menghela napasnya. “Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa hubunganmu dengan Briza? Apakah kalian memiliki hubungan yang lebih dari seorang teman?” tuding Laura sambil menyipitkan matanya.


Bryan menelan salivanya, kemudian terdiam. Pertanyaan Laura berhasil membungkam Bryan dan membuat pria itu tak bisa berkata-kata lagi. Menjelaskan tentang bagaimana hubungannya dengan Briza yang sebenarnya pasti akan sangat menyakiti Laura. Tapi, semakin dia berbohong, Laura pasti akan semakin marah padanya. Lagi pula, Bryan tidak ingin kebohongannya menjadi bom waktu yang akan semakin menghancurkan hubungan mereka berdua.


“Aku tidak ingin dikecewakan lagi, Bryan. Jika kau memang berniat untuk menjalin hubungan yang serius denganku, maka jangan pernah membuatku kecewa,” ucap Laura dengan tegas.


Gadis itu berjalan di tepian pantai sambil memejamkan matanya, menikmati suara ombak yang berteriak di telinganya. Ingin rasanya gadis itu berteriak dan menangis di sana. Tapi, dia terus meyakinkan diri kalau Briza dan Bryan tidak pantas mendapatkan air matanya, dia tidak boleh bersikap lemah hanya karena mereka berdua.


“Laura!” seru Bryan yang berlari menyusul Laura setelah membayar makanan mereka.


Seolah tuli, Laura tidak menoleh sedikit pun. Gadis itu justru mempercepat langkahnya untuk berjalan semakin jauh dari area restoran menuju ke bibir pantai.

__ADS_1


“Untuk apa kau mengejarku lagi, Bryan?” gumam Laura dengan suara parau, tentu saja Bryan tidak dapat mendengar gumaman Laura karena Laura mengatakannya dengan nada yang sangat pelan.


Bryan yang merasa diabaikan lantas berlari mengejar Laura. Setelah dia berdiri di belakang Lauda, dia menarik tangan Laura hingga gadis itu memutar tubuhnya.


“Laura, aku akan menjelaskan semuanya,” ucap Bryan.


Laura mendengus keras. Rasanya sulit sekali bagi Laura untuk dapat kembali mempercayai Bryan. Apalagi, setelah apa yang terjadi tadi malam. Dia merasa kecewa bukan hanya karena Bryan kembali ke apartemen Briza. Tapi, juga karena Bryan berbohong padanya dan berkata jika dia ingin langsung pulang.


Kebohongan Bryan adalah hal yang membuat Laura sulit untuk mempercayai pria itu lagi.


“Kau ingin menjelaskan apa, Bryan? Apakah kau ingin berbohong lagi?” tanya Laura.


Bryan memejamkan matanya, lalu menghembuskan napas panjang.


“Aku dan Briza bukan hanya sekadar teman biasa,” ucap Bryan pada akhirnya.

__ADS_1


Mendengar itu, Laura tersenyum kecut menatapnya dengan tatapan kecewa.


__ADS_2