
Bryan dan Laura sama-sama tahu kalau Bryan tidak akan mampu untuk menjalani sebuah hubungan yang dilandasi dengan sebuah komitmen. Berganti-ganti pasangan dan memiliki wanita lebih dari satu sudah menjadi kebiasaan Bryan selama bertahun-tahun. Tidak mungkin Bryan bisa dengan mudah untuk berhenti melakukannya dalam waktu singkat. Bryan tidak akan mampu melakukannya. Tidak meskipun Laura yang memintanya. Pria itu takut kalau Laura justru akan merasa kecewa jika Bryan tidak bisa menjaga ucapannya di tengah jalan nanti.
Maka dari itu, Bryan memilih untuk tidak memaksakan diri untuk menjalani sebuah komitmen dengan Laura. Meski kalau boleh jujur, Bryan benar-benar menginginkan gadis itu.
Setelah hari itu, Laura kembali menjalani kehidupannya seperti biasa. Kembali membulatkan tekadnya untuk melupakan Bryan. Gadis itu berusaha semaksimal mungkin untuk tidak terlihat sedih karena Bryan tidak bisa menjalani hubungan dengan dia. Laura yang sudah terbiasa dengan kesendirian tidak sungguh-sungguh merasa bosan sebab Reyna dan Dario selalu berhasil untuk menghibur hatinya.
“Ini alamat kantor Bryan, ‘kan, Lola?” tanya Laura, memastikan sekali lagi sebelum berangkat mengirim pesanan bunga ke sebuah perusahaan yang sebelumnya pernah Laura datangi, yang awalnya tidak Laura ketahui jika itu tempat Bryan bekerja.
“Iya.” Lola yang sudah mengetahui tentang masalah Bryan dan Laura menelengkan kepala. “Kau tidak masalah, ‘kan, jika harus mengirimkan pesanan ke sana? Tenang saja, pesanan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Bryan.”
Mendapati keprihatinan Lola, Laura pun terkekeh geli. Dia tidak pernah diperhatikan oleh keluarganya sebelumnya, jadi dia benar-benar terharu dengan sikap Lola dan Reyna yang selalu mendampingi dirinya selama beberapa hari belakangan.
“Tidak masalah sama sekali, Lola. Aku hanya ingin memastikannya saja, kok,” ucap Laura. “Kalau begitu aku berangkat dulu.”
“Hati-hati di jalan, Laura!”
Laura pun berangkat untuk mengirim pesanan-pesanan bunga ke beberapa tempat, termasuk ke kantor Bryan.
Sesampainya di kantor Bryan, dia langsung menitipkan buket bunga ke bagian resepsionis seperti sebelumnya lalu pergi. Ketika keluar dari kantor Bryan, Laura tidak sengaja berpapasan dengan Bryan yang sedang menggandeng seorang wanita. Laura lantas menyapa Bryan dengan senyuman tipis lalu masuk ke dalam mobilnya dan pergi.
__ADS_1
Laura tentu tidak menyadari efek apa yang telah dia tinggalkan kepada Bryan. Hati Bryan rasanya sangat tidak nyaman ketika dia menyadari kalau Laura bisa hidup tanpa dirinya. Meskipun jauh di dalam lubuk hatinya Bryan terus mengatakan pada dirinya sendiri kalau Laura terpaksa tersenyum saat melihat dirinya sedang bersama dengan wanita lain.
Bryan yang tadi bertemu dengan Laura tidak bisa berhenti memikirkan tentang pertemuan msreka. Pria itu bahkan tidak menanggapi ucapan Briza ketika Briza mengajaknya untuk berbicara.
“Bryan, kenapa kau dari tadi diam saja? Apakah kau tidak mendengarkan ceritaku?” tanya Briza sambil menggembungkan pipinya, kesal.
Bryan tersentak dari lamunannya kemudian menoleh. “Bukan begitu, Briza. Aku hanya sedang berkonsentrasi pada pekerjaanku,” jawabnya asal.
Briza mendengus saat mendengar jawaban Bryan. Sebagai seorang perempuan, Briza tahu jika ada yang tidak beres dengan Bryan. Tadi, sebelum mereka sampai kantor Bryan masih bersikap biasa saja dengannya. Namun, setelah tidak sengaja berpapasan dengan Laura, Bryan jadi lebih banyak diam.
“Berkonsentrasi pada pekerjaan atau sibuk memikirkan gadis tadi?” cibir Briza sambil menyipitkan matanya.
Bryan diam saja, memilih untuk tidak menanggapi ucapan Briza.
‘Argh! Pikiranku jadi kacau setelah bertemu dengan Laura. Sekarang, aku malah semakin memikirkan dia,' gerutu Bryan dalam hati.
***
Di sisi lain, seorang pria saat ini sedang duduk di salah satu bangku tinggi depan meja bar. Ini memang masih pukul empat sore, namun pria itu sudah menghabiskan hampir dua botol Vodka dan empat gelas wiski.
__ADS_1
Pria itu adalah Felix, pria yang sempat dijodohkan dengan Laura. Semenjak hari di mana Laura menghilang dari kota kelahirannya, Felix jadi tidak karuan. Pria itu jadi sering mabuk dan merasa frustrasi karena tidak bisa menemukan keberadaan Laura.
“Astaga, Felix. Ini masih terlalu sore untuk kau mabuk,” tegur Kenzo, salah satu teman Felix yang baru saja tiba di bar.
“Memangnya aku peduli ini jam berapa?” balas Felix acuh tak acuh.
Kenzo menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu memesan minuman untuk dirinya sendiri. “Ngomong-ngomong, aku baru saja pulang dari Barcelona,” ucap Kenzo.
“Aku tahu,” sahut Felix cepat.
Kenzo berdecap pelan. “Dengarkan ceritaku dulu,” ucapnya, membuat Felix mengangguk dan menutup bibirnya. “Saat di Barcelona aku tidak sengaja melihat Laura.”
Felix yang tadinya malas untuk mendengarkan cerita Kenzo lantas terkesiap dan menoleh. “Kau bertemu siapa di Barcelona?”
“Laura.”
“Apakah kau yakin itu adalah dia?”
“Aku yakin sekali. Karena aku melihatnya tidak hanya satu kali, tapi beberapa kali sebab dia sering datang ke lobi hotel yang aku tempati untuk mengirimkan bunga. Sepertinya dia bekerja di toko bunga,” jelas Kenzo.
__ADS_1
Mendengar penjelasan Kenzo, Felix jadi merasa kalau semuanya masuk akal. Pantas saja Felix tidak bisa menemukan Laura, ternyata gadis itu kini tinggal di tempat yang jauh dari kota tempat tinggal mereka.
‘Laura, akhirnya Tuhan berbaik hati padaku. Aku akan menjemputmu, Sayang,’ ucap Felix dalam hati sambil tersenyum miring.