Penghangat Ranjang Casanova

Penghangat Ranjang Casanova
Akhir Bahagia


__ADS_3

Seorang mempelai wanita tengah bersolek di depan cermin. Dia memerhatikan bagaimana kini dia sudah dirias layaknya seorang putri kerajaan yang akan segera melangsungkan pernikahan. Gadis itu ingin sekali menangis penuh haru, namun dia tidak mau merusak riasan di wajahnya. Ia sangat bahagia karena hari-hari yang dia impikan selama ini akhirnya tiba juga, yaitu hari pernikahannya.


“Laura, apakah kau sudah siap? Upacara pernikahannya akan dimulai sebentar lagi,” tanya Briza detik di mana dia masuk ke dalam ruang rias khusus pengantin perempuan.


Laura menoleh. “Ya, aku rasa aku sudah siap. Apakah menurutmu ada yang kurang dari penampilanku?” tanyanya.


Briza menggeleng seraya tersenyum lebar. “Tidak, tidak ada yang kurang. Kau tampak sangat cantik dan gaun ini membuatmu seperti seorang putri raja,” jawab Briza. Gadis itu berjalan menghampiri Laura, kemudian melanjutkan kalimatnya, “Bryan sangat beruntung karena menikah dengan wanita secantik dirimu.”


Laura terkekeh, tersipu-sipu malu dengan ucapan Briza.


“Kau sendiri kapan akan menyusul kami?” tanya Laura.


“Doakan saja aku dan Felix bisa segera menyusul kalian,” balas Briza sambil tersenyum malu, pipi gadis itu bahkan berwarna merah padam karena pertanyaan Laura.


Lima belas menit kemudian, upacara pernikahan pun dimulai. Laura dengan didampingi ayahnya berjalan  menuju ke altar. Di belakang gadis itu, Reyna dan Briza berjalan beriringan sambil melempar kelopak bunga mawar di sekeliling mereka.


Di altar, Bryan memandang ke arah Laura penuh haru. Pria itu bahkan sampai meneteskan air mata saking tidak percayanya kalau dia akhirnya bisa menikahi wanita yang ia dambakan selama ini. Pria itu mengambil sapu tangan dari sakunya, kemudian mengelap air matanya.


Laura yang menyadari hal tersebut tersenyum sambil menahan air mata harunya. Matanya menyisir ke sekelilingnya, tersenyum kepada setiap tamu undangan yang hadir untuk menyaksikan penyatuan cinta mereka pada sebuah ikrar pernikahan.


“Jaga putriku baik-baik, Bryan. Aku yakin kau pasti bisa membahagiakan dia lebih dari kami sebagai orang tuanya,” lirih Martin seraya menyerahkan tangan Laura kepada Bryan.


“Aku janji akan menjaga putrimu, Martin,” balas Bryan sambil tersenyum lebar.


Bryan dan Laura bergandengan tangan seraya menghadap pada pastor yang akan menjadi saksi bisu cinta mereka berdua.


“Bryan Lorenzo, apakah kau bersedia menerima Laura Nieva sebagai istrimu? Dalam suka mau pun duka, dalam sakit mau pun sehat, dalam kemakmuran mau pun kemiskinan.”

__ADS_1


“Aku bersedia,” jawab Bryan tanpa ragu.


“Laura Nieva, apakah kau bersedia menerima Bryan Lorenzo sebagai suamimu? Dalam suka mau pun duka, dalam sakit mau pun sehat, dalam kemakmuran mau pun kemiskinan.”


“Aku bersedia,” jawab Laura.


“Dengan ini aku nyatakan kalian sebagai sepasang suami istri,” ucap sang pastor. “Mempelai pria aku persilakan untuk mencium mempelai wanitamu.”


Bryan dan Laura berdiri berhadapan. Disaksikan oleh keluarga, kerabat, dan di hadapan Tuhan, keduanya menunjukkan simbol cinta mereka melalui sebuah ciuman.


Ciuman mereka kali ini bukanlah sebuah ciuman yang didasari oleh nafsu semata. Melainkan sebuah ciuman yang dilandasi oleh perasaan cinta yang tulus. Sebuah cinta suci yang hari ini menyatu di hadapan Tuhan.


Jika saja Laura bisa, mungkin gadis itu akan meminta Tuhan untuk menghentikan waktu detik itu juga. Dia ingin momen ini menjadi sebuah hal yang abadi di dalam hidupnya. Gadis itu tak meminta banyak untuk dapat merasakan bahagia. Dengan Bryan berada di sisinya saja sudah lebih dari cukup untuk Laura.


Setelah acara akad, sebelum Laura dan Bryan pergi bulan madu di sebuah pulau tropis, mereka mengadakan sebuah pesta pernikahan.


“Apakah kau lelah, Laura?” tanya Bryan, memerhatikan Laura yang saat ini sedang memijat mata kakinya.


“Tidak. Hanya saja sepatu hak tinggi ini membuatku agak tidak nyaman berjalan ke sana dan ke mari,” jawab Laura.


Bryan memberikan kode kepada asistennya untuk mengambilkan flatshoes untuk Laura. Tak berselang lama, Laura pun dapat berganti sepatu dengan sepatu yang lebih nyaman.


“Terima kasih, Bryan,” ucap Laura.


“Sepertinya kita harus mengganti cara kita memanggil satu sama lain,” ucap Bryan.


“Mengganti dengan apa?”

__ADS_1


“Entahlah, mungkin aku bisa memanggilmu dengan sebutan ‘mutiaraku’?” 


Laura terkekeh. “Itu menggelikan, Bryan.”


“Oh, ayolah. Apakah kita harus memanggil dengan sebutan nama sampai tua nanti?”


Di tengah percakapan Laura dan Bryan, Deborah datang untuk menginterupsi.


“Sekarang sudah waktunya untuk melempar bunga,” ucapnya.


Bryan dan Laura mengangguk, kemudian berdiri di depan pintu gedung dengan posisi membelakangi para tamu yang saat itu otomatis langsung berdiri di belakang mereka, menanti kesempatan untuk mendapatkan bunga.


Hap!


Begitu Laura melemparkan bunga, bunga tersebut mendarat tepat di tangan Briza dan Felix. Kedua sejoli yang kini mulai mencintai satu sama lain itu pun saling berpandangan lalu tersenyum.


“Aku akan menunggu undangan pernikahan kalian!” seru Laura.


Laura dan Bryan kembali menyatukan bibir mereka. Kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini, adalah sesuatu yang jauh lebih besar dari angan-angan mereka. 


Hari ini adalah awal mula perjalanan cinta mereka. Dari bahtera perkawinan itu, Laura dan Bryan tak henti-hentinya mencintai satu sama lain.


☺️**Tamat☺️


Hai semuanya, sekali lagi terima kasih banyak untuk semua dukungan kalian. Terima kasih sudah mengikuti tulisanku. Oh ya kak, jika berkenan follow akun ku ini ya kak. Ikuti juga ceritaku selanjutnya ya kak, klik profil ku dan lihat buku lainnya yang udah publish.🙏


Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin, semuanya.

__ADS_1


🙏🙏🤗🤗**


__ADS_2