
“Apakah kau tidak bisa menyempatkan waktu untukku sedetik pun?” tanya Bryan lagi.
Pertanyaan yang terlontar dari bibir Bryan membuat Laura menghentikan aktivitasnya sejenak. Gadis itu mengangkat kepalanya supaya bisa menatap wajah Bryan. Saat matanya bertemu dengan mata Bryan, ada sekelebat perasaan tak tega kalau dia harus menolak ajakan pria itu untuk berbicara. Namun, Laura sudah memantapkan hatinya kalau dia belum sanggup untuk memulai hubungan seperti itu dengan Bryan.
“Akhir-akhir ini aku sering mangkir dari pekerjaan karena menghabiskan waktu denganmu, Bryan. Aku tidak mau kehilangan pekerjaanku karena hubungan kita,” ucap Laura asal lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.
“Tapi, aku ingin berbicara denganmu, Laura.”
Laura tersenyum tipis. “Tidak sekarang. Maaf, Bryan, aku benar-benar harus bekerja sekarang,” ucap Laura tanpa memberikan penjelasan sedikit pun kepada Bryan mengenai alasannya tiba-tiba tidak dapat dihubungi oleh Bryan.
Merasa kalau Laura benar-benar menolak untuk berbicara dengannya, Bryan pun dengan kecewa melangkahkan kakinya meninggalkan Secret Garden. Namun, dalam hatinya dia bersumpah kalau dia pasti akan membuat Laura kembali ke dalam dekapannya lagi.
Sementara Reyna yang melihat interaksi Laura dan Bryan dari kejauhan bertanya-tanya mengenai apa yang sebetulnya terjadi antara Bryan dan Laura. Setelah Bryan pergi, Reyna lantas menghampiri Laura untuk mengutarakan sebuah pertanyaan.
“Apa yang terjadi dengan kalian berdua? Kenapa wajah Bryan sangat masam seperti tadi?” tanyanya.
Laura menghela napasnya. “Tidak apa-apa, Reyna. Kita bicarakan tentang ini lain kali saja, ya? Aku sedang malas membahas tentang dia,” balas Laura.
“Baiklah.” Reyna tidak akan memaksa Laura untuk bercerita kalau gadis itu tidak ingin bercerita. “Oh iya, ada pesanan buket bunga mawar merah tiga puluh tangkai. Persediaan bunga kita sudah menipis. Ayo, bantu aku memetik bunga yang masih segar,” ajak Reyna.
Laura menganggukkan kepalanya, kemudian berjalan mengekor Reyna menuju ke taman untuk memetik bunga yang mereka butuhkan untuk membuat buket bunga.
Sore harinya, setelah pulang kerja, Laura berjalan dengan lunglai menyusuri jalanan menuju ke apartemennya. Gadis itu melangkah sambil memeluk barang belanjaan sebab persediaan bahan makanan di apartemennya habis jadi dia tadi sempat mampir ke minimarket.
Langkah Laura terhenti ketika dia melihat siapa yang berdiri di depan pintu apartemennya. Gadis itu menghembuskan napas lelah, kemudian berjalan menghampiri pria itu.
“Kau tidak akan menyerah sebelum aku mau berbicara denganmu, ya?” tanya Laura sambil merogoh tasnya untuk mengambil kunci apartemennya.
Orang yang menunggu Laura di depan apartemennya adalah Bryan. Pria itu masih tidak menjawab pertanyaan Laura dan malah sibuk memerhatikan gadis itu.
__ADS_1
Begitu pintu terbuka, Bryan berjalan mendahului Laura masuk ke dalam apartemen sebab dia takut Laura akan menguncinya di luar.
“Apa yang ingin kau bicarakan, Bryan?” tanya Laura setelah meletakkan barang-barang belanjaannya di meja dapur.
Bryan berjalan menghampiri Laura, kemudian berkata, “Kenapa kau tidak mengangkat teleponku beberapa hari terakhir ini?”
“Apakah kita harus selalu komunikasi, Bryan? Bukankah katamu aku hanyalah teman ranjang bagimu? Aku bukan kekasihmu, Bryan. Lebih baik kau pergi dari sini,” usir Laura.
Setelah tahu apa tujuan Bryan menemuinya, Laura buru-buru mengusir Bryan kembali. Dia takut kalau berlama-lama bersama Bryan akan membuat hatinya luluh kembali pada rayuan pria itu.
"Tidak seperti itu, Laura. Kau salah paham," ucap Bryan.
"Kau hanya memintaku menjalin hubungan denganmu Bryan. Hanya antara aku dan kau yang menganggap kita pasangan kekasih, tapi tidak dengan orang lain. Apa tanggapan mereka? Seperti di tempat kerjaku, mereka akan bertanya-tanya tentang kedekatan kita. Apa yang harus aku katakan? Menjalin hubungan rahasia. Apa itu jika bukan teman ranjang?" tuding Laura.
“Laura, meskipun begitu, kau adalah satu-satunya wanita di hidupku saat ini. Percayalah padaku, aku tidak memiliki wanita lain selain dirimu,” ucap Bryan.
Pria itu menghimpit Laura di antara tembok dan dirinya. Bryan meletakkan tangannya di tembok samping wajah Laura.
“Bukan begitu, Bryan.”
“Lantas apa? Apakah kau tidak merindukanku, Laura?” tanya Bryan, membuat Laura menoleh ke arahnya.
Meskipun enggan mengakuinya, Laura sejujurnya juga merindukan wajah rupawan Bryan. Meskipun dia merasa kecewa dan muak dengan Bryan, tapi tak bisa dipungkiri kalau dia masih mengharapkan Bryan.
Melihat Laura yang hanya diam sambil menatapnya tanpa henti, Bryan pun mendekatkan wajahnya dan menyambar bibir manis Laura. Di luar dugaannya, Laura langsung membalas ciumannya. Bahkan Laura juga mengalungkan tangannya di leher Bryan.
Katakanlah Laura munafik sebab dia menikmati ciuman Bryan. Namun, entah kenapa rasa kecewa yang Laura rasakan langsung raib ketika bibir Bryan menyentuh bibirnya. Kepalanya bahkan terasa seolah hampir meledak karena gairah saat Bryan menciumnya dengan panas.
Ciuman itu terus berlanjut hingga tanpa sadar Bryan mulai memeluk Laura dan membawa Laura menuju ke tempat tidur.
__ADS_1
Katakanlah Laura ini bodoh. Namun, sebagai seorang gadis dengan gairah yang tinggi, tidak heran kalau satu sentuhan Bryan bisa membuatnya langsung luluh begitu saja. Gadis itu bahkan kini sudah mulai terbakar gairah yang berapi-api.
Perlahan namun pasti, Bryan mulai melucuti pakaian Laura sambil terus mencumbu tiap inci tubuh Laura. Melihat Laura yang mendesah dan menggelinjang di bawah kendalinya, Bryan pun tersenyum senang dan mulai melorotkan celananya.
Sedetik kemudian, Bryan memulai permainannya. Dia menggerakkan pinggulnya dengan ritme yang teratur sambil mencumbu dua gunung sintal milik Laura. Laura yang diperlakukan seperti itu hanya bisa memejamkan matanya sambil terus mendesah dan menyebut nama Bryan.
Aktivitas panas itu mereka lakukan sebanyak dua ronde hingga akhirnya mereka terkulai lemas di ranjang sambil memeluk satu sama lain. Napas mereka masih memburu akibat percintaan panas mereka barusan.
Bryan tersenyum senang. Dia selalu merasa puas kalau bercinta dengan Laura. Gadis itu seolah memiliki kekuatan untuk membuat Bryan tidak pernah cukup untuk mencumbu gadis itu sekali saja. Pria itu terus menginginkan lagi, lagi, dan lagi.
“Kau adalah satu-satunya wanitaku saat ini, Laura. Dan aku berharap kau akan terus menjadi satu-satunya untukku,” ucap Bryan setelah mereka selesai bercinta.
Laura terkesiap. Kalau saja Bryan mengatakan hal tersebut sebelum Laura tahu mengenai masa lalunya, mungkin Laura akan langsung terhipnotis oleh ucapan Bryan. Namun, sayangnya setelah gadis itu tahu mengenai tentang masa lalu Bryan, ucapan Bryan justru membuatnya skeptis. Laura pun kembali mengingat sifat buruk Bryan.
“Apakah kau yakin dengan ucapanku barusan kalau kau ingin aku menjadi satu-satunya wanita untukmu, Bryan?” tanya Laura.
Dengan cepat Bryan menganggukkan kepalanya.
Pria itu tidak pernah merasakan hal yang seperti itu kepada wanita-wanita yang pernah dia kencani. Namun bersama Laura .... Entah kenapa dia seolah ingin gadis itu selalu berada di sampingnya.
“Tentu saja, Laura,” jawab Bryan.
“Kalau begitu, bisakah kau memenuhi satu permintaanku?”
“Permintaan apa?”
“Aku ingin kau untuk tidak memperlakukanku seperti kau memperlakukan wanita-wanita yang lainnya. Hanya itu yang aku minta,” ucap Laura.
Bryan menghela napasnya. “Aku merasa sangat nyaman berada di dekatmu, Laura. Tapi, untuk hal itu, aku tidak bisa. Aku tidak ingin kau mengharapkan hubungan yang serius di antara kita karena aku tidak akan pernah bisa memberikan hal itu,” jelas Bryan, membuat Laura lagi-lagi merasa bingung dan kecewa.
__ADS_1
Aku benci diriku sendiri. Kenapa aku harus begitu bernafsu padanya? Kenapa aku selalu dengan mudah luluh hanya karena sentuhannya. Kesal Laura pada dirinya sendiri.