Penghangat Ranjang Casanova

Penghangat Ranjang Casanova
Mengatur Pertemuan


__ADS_3

Setelah menyetujui permintaan Briza untuk mempertemukan gadis itu dengan adik angkat Felix yang tak lain adalah Laura, Felix pun mencari waktu yang tepat untuk mempertemukan mereka. Sepulang dari hotel di mana dia menghabiskan malam bersama dengan Briza, pria itu langsung mencari Laura di apartemen namun sayangnya gadis itu sudah berangkat bekerja.


“Tidak mungkin kalau aku pergi ke Secret Garden. Lebih baik aku bicarakan nanti saja saat jam makan siang,” ucap Felix. Sesudahnya pria itu mengirimkan pesan singkat kepada Laura yang menyatakan kalau dia ingin membicarakan sesuatu kepada gadis itu.


Tepat saat jam makan siang Felix menerima telepon dari Laura. Felix yang saat itu tengah mengemudikan mobilnya menuju ke lokasi proyek perusahaannya pun harus menepikan mobilnya terlebih dahulu di sisi jalan supaya tidak mengganggu pengendara lain.


“Halo, Felix. Ada apa? Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Laura bahkan sebelum Felix sempat mengatakan ‘halo’. Ketika membaca pesan singkat dari Felix, dia langsung penasaran dan sudah tidak sabar untuk mendengar cerita Felix.


“Kau ingat rencanaku yang pernah aku ceritakan beberapa hari yang lalu itu, ‘kan?” tanya Felix sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran jok mobil.


Di seberang sana Laura menganggukkan kepalanya meskipun dia tahu Felix tidak akan bisa melihatnya. Memang betul kalau Felix pernah menceritakan tentang rencananya kepada Briza beberapa hari yang lalu kepada Laura.


“Ya, aku mengingatnya. Kau berniat untuk mendekati Briza supaya Briza bisa menjauh dari Bryan. Benar, ‘kan?” balas Laura.


“Benar.” Felix menghela napas.


Felix menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sebetulnya dia merasa agak malu kalau harus membicarakan apa yang terjadi antara dirinya dan Briza tadi malam. Bagaimana pun juga, Felix bukanlah tipe orang yang suka mengumbar-umbar hubungan intimnya dengan siapa pun.


“Jadi ... apakah kau sudah berhasil mendekati Briza?” tanya Laura, penasaran.


Felix menelan salivanya. “Aku tidak tahu apakah ini sudah bisa disebut berhasil atau belum. Tapi, semalam aku menidurinya,” jawab Felix.


“Apa?!” pekik Laura, begitu keras hingga Felix harus menjauhkan ponsel dari telinganya selama beberapa saat.

__ADS_1


“Tidak usah heboh seperti itu. Ada sesuatu yang jauh lebih penting,” gerutu Felix. Untung saja mereka berkomunikasi melalui telepon. Kalau bertemu langsung, Felix pasti akan sangat malu.


“Apa maksudmu?”


“Aku berkata pada Briza kalau aku memiliki adik, yaitu dirimu. Dan dia tiba-tiba saja ingin dikenalkan kepadamu. Apakah kau bisa makan malam bersama kami malam ini? Ajak Bryan sekalian saja. Nanti aku akan mengirimkan alamatnya,” jelas Felix.


“Baiklah, baiklah. Aku akan datang dan mengajak Bryan. Aku penasaran bagaimana ekspresi Briza saat melihat kami,” ucap Laura sambil terkekeh kecil.


Malam hari pun tiba. Briza dan Felix lebih dulu datang ke sebuah restoran di mana mereka nantinya akan bertemu juga dengan Laura dan Bryan. Felix sengaja mengajak Briza datang lebih awal karena dia tidak mau Briza kabur saat mereka belum bertemu.


“Adikmu belum datang?” tanya Briza.


“Mungkin sebentar lagi. Apakah kau mau memesan makanan sekarang?” tanya Felix.


Tepat setelah Briza dan Felix memesan makanan untuk mereka sendiri, Laura dan Bryan datang. Bryan dan Briza terkejut saat melihat satu sama lain sementara Laura pura-pura terkejut meskipun dia sudah tahu tentang semuanya.


“Briza, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Bryan bingung.


“Briza adalah teman kencanku, Bryan,” ujar Felix sambil menggenggam tangan Briza.


Briza yang berpikir jika dengan cara itu dia bisa membuat Bryan cemburu pun mengangguk kemudian bergelayut manja di lengan Felix.


“Apakah kau keberatan jika aku berkencan dengan pria lain, Bryan?” tanya Briza penuh percaya diri.

__ADS_1


“Ah, tentu saja tidak.” Bryan tersenyum lebar kemudian duduk di hadapan Briza dan Felix. “Justru aku ingin mengucapkan selamat untuk kalian berdua. Semoga hubungan kalian bisa semakin serius setelah ini.”


“Terima kasih, Bryan.” Felix menoleh ke arah Briza. “Briza, adikku yang ingin aku kenalkan padamu adalah Laura,” ucapnya dengan santai.


Briza tersenyum tipis ke arah Laura. “Aku sudah mengenalnya.”


“Rupanya dunia sempit sekali, ya?” balas Felix kemudian terkekeh pelan.


Mendengar ucapan Felix tidak membuat Briza curiga sedikit pun kalau semua ini telah diatur oleh Felix. Ia pikir semua yang terjadi memanglah kebetulan semata.


“Kapan-kapan kita harus mengadakan double date seperti ini lagi, Felix. Bukankah menyenangkan jika kita ternyata berkencan dengan orang yang tidak asing?” ujar Laura yang langsung disetujui oleh Felix dan Bryan.


“Ngomong-ngomong, bagaimana kelanjutan hubungan kalian?” tanya Felix.


“Dalam waktu dekat aku dan Bryan berencana untuk menemui orang tuaku,” jawab Laura malu-malu. “Bryan ingin segera meminta restu dari orang tuaku.”


Mendengar hal tersebut, Briza sontak saja merasa kesal. Gadis itu bangkit berdiri lalu pergi dari sana tanpa mengatakan apa pun. Gadis itu bahkan mengabaikan panggilan dari Felix yang terus menyerukan namanya.


***


4 bab hari ini. Like, komen, vote, hadiahnya bantu ramaikan ya kak.


Oh ya kak, ikuti akun ku ya kak jika berkenan, biar setiap kali aku punya buku baru, notifnya masuk di kalian, sekalian kalau dah banyak aku mau bikin grub chat NT/MT akun ku. Terima kasih.🙏😘

__ADS_1


__ADS_2