Penghangat Ranjang Casanova

Penghangat Ranjang Casanova
Laura, Will You Marry Me?


__ADS_3

Beberapa hari pun berlalu semenjak malam di mana Felix mempertemukan Bryan, Laura, dan Briza. Keesokan harinya setelah Felix pulang dari apartemen Briza, pria itu langsung menemui Laura dan menceritakan apa yang terjadi. Laura merasa lega dan bahagia sebab kini Briza mau mencoba untuk melepaskan Bryan.


Hari ini, Laura ditugaskan untuk mendekorasi sebuah ruangan. Laura tidak sendiri, kali ini dia juga dibantu oleh Reyna sebab mustahil jika Laura dapat mengerjakan dekorasi sebuah ruangan yang cukup besar seorang diri dalam waktu singkat.


“Reyna, apakah kau tahu untuk acara apa dekorasi ini?” tanya Laura.


Reyna mengedikkan bahunya. “Aku juga tidak tahu. Mungkin untuk acara ulang tahun atau acara anniversary? Mama juga tidak berkata apa-apa selain meminta kita ke sini untuk mendekorasi sesuai dengan apa yang diminta,” jelas Reyna.


Tak hanya mendekorasi dengan bunga yang harumnya semerbak. Mereka juga diminta untuk membuat dekorasi menggunakan lilin-lilin besar mengelilingi bagian utama dari dekorasi tersebut.


“Kau tahu, Reyna, dekorasi ini persis seperti bagaimana aku membayangkan jika seseorang melamarku,” gurau Laura kemudian tertawa renyah. Gadis itu benar-benar suka dengan dekorasi bunga kali ini sebab dekorasi ini persis seperti seleranya.


Reyna mengangguk setuju. “Dekorasi ini benar-benar indah. Kalau ada pria yang melamarku di sini, aku pasti tidak akan menolaknya,” balas Reyna sambil memejamkan matanya, membayangkan jika ada pria yang benar-benar akan melamarnya.


“Sudah, sudah, ayo kita segera selesaikan dekorasi ini. Sebentar lagi sudah jam enam sore,” ujar Laura.


Laura dan Reyna melanjutkan pekerjaan mereka. Tepat di saat mereka sudah selesai dengan pekerjaan mereka, kedua gadis itu dikejutkan dengan kedatangan Lola. Mereka berdua bingung sebab biasanya Lola tidak pernah datang ke tempat dekorasi. Wanita paruh baya itu harus selalu siap siaga di Secret Garden untuk melayani pemesanan bunga dan dekorasi.

__ADS_1


“Pemilik acara ini mengundang kita untuk ikut hadir di acara. Katanya, dia ingin mengundang banyak saksi untuk acara lamarannya,” ucap Lola.


“Oh, kalau begitu aku akan menelepon Bryan dulu untuk mengabari dia tentang ini. Aku takut dia khawatir kalau aku belum pulang,” balas Laura.


“Ya, silakan saja,” jawab Lola kemudian mengedipkan sebelah matanya ke arah Reyna.


Laura pun izin untuk menjauh sebentar dan menelepon Bryan. Sebagai kekasih yang baik, dia tak mau membuat kekasihnya khawatir dengan keadaannya.


“Halo, Bryan. Hari ini aku mendekorasi di sebuah tempat dan pemilik acara itu meminta kami untuk ikut hadir di acaranya. Kemungkinan besar aku akan terlambat pulang hari ini. Tapi, kalau kau ingin menyusulku ke sini aku juga tidak masalah,” jelas Laura.


“Sayang sekali sebentar lagi aku masih ada rapat dengan rekan bisnisku. Sepertinya aku tidak bisa menjemputmu, Laura. Tidak apa-apa, ‘kan, kalau nanti kau pulang bersama Reyna saja?” balas Bryan.


Tiga puluh menit kemudian, acara dimulai. Laura merasa bingung karena tiba-tiba saja lampu dimatikan sehingga hanya lilin-lilin saja yang menjadi penerangan di ruangan itu saat ini. Saat Laura menoleh, dia sudah tidak mendapati Reyna atau pun Lola di dekatnya.


“Lola, Reyna, kalian di mana?” desis Laura pelan.


Sebuah langkah kaki terdengar mendekat ke arah Laura. Laura menoleh dan terkejut saat melihat orang yang berjalan mendekatinya adalah Bryan.

__ADS_1


‘Bukankah tadi Bryan berkata kalau dia lembur? Kenapa dia tiba-tiba ada di sini?’ tanya Laura dalam hati, bingung setengah mati.


“Bryan ....”


Laura menutup mulutnya ketika melihat Bryan berlutut di hadapannya. Gadis itu tak dapat berkata-kata lagi apalagi saat dia melihat Bryan tiba-tiba mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah beludru berisi cincin berlian.


“Laura, aku tahu kalau kita belum mengenal satu sama lain terlalu lama. Tapi, aku bersumpah padamu jika aku tidak akan pernah lelah untuk mengenalmu lebih jauh lagi setelah ini. Kau adalah wanita pertama yang berhasil mengetuk pintu hatiku. Maka dari itu, aku juga ingin kau menjadi wanita terakhir untukku.”


Napas Laura tercekat. Gadis itu berusaha untuk mencerna apa yang sedang terjadi saat ini namun dia lagi-lagi terjebak pada sebuah tanda tanya besar. Apakah yang terjadi dengannya saat ini nyata? Atau hanya imajinasinya saja?


“Laura, will you marry me? Maukah kau menghabiskan sisa hidupmu denganku dan menjadi istriku?” tanya Bryan.


Satu tetes air mata Laura turun tepat setelah Bryan mengatakan hal tersebut. Gadis itu mengangguk kemudian dengan lirih berkata, “Ya, aku mau.”


Mendengar jawaban Laura, Bryan sontak saja berdiri dan menyambar bibir Laura. Mereka berdua berciuman dan menyalurkan perasaan bahagia yang memenuhi rongga hati mereka.


Mereka berdua menghentikan ciuman mereka saat mendengar tepuk tangan dari orang-orang di sekitar mereka. Begitu lampu dinyalakan kembali, Laura bisa melihat jika di sana juga ada orang tua Bryan, Lola, Reyna, bahkan Felix dan Briza.

__ADS_1


Semua orang tampak bahagia dengan bersatunya dua sejoli itu.


__ADS_2