Penghangat Ranjang Casanova

Penghangat Ranjang Casanova
Mendapat Restu


__ADS_3

“Halo, Martin,” sapa Felix pada seseorang yang berada di seberang sambungan telepon begitu dia sampai di apartemennya.


Felix duduk di kursi tinggi meja dapur kemudian menuangkan segelas air mineral dan meneguknya. Pria itu memutuskan untuk mengabari orang tua Laura terlebih dahulu sebab jika tidak, akan sulit untuk mempertemukan orang tua Laura dalam satu ruangan yang sama semenjak perceraian mereka.


“Halo, Felix. Bagaimana kabarmu dan Laura? Sudah lama sekali kau tidak mengabariku,” balas Martin, ayah Laura.


“Maaf, Martin. Di sini ada sedikit masalah akhir-akhir ini. Tapi, kau tenang saja, semuanya sudah beres. Besok, Laura akan pulang untuk menemui kau dan Lucia,” terang Felix.


“Apakah kau berhasil untuk membujuk Laura supaya mau menikah denganmu?” tanya Martin penasaran.


Felix tertawa sumbang. Andai saja apa yang dikatakan oleh Martin adalah kenyataan yang terjadi, mungkin Felix akan merasa sangat bahagia. Tapi, sayangnya hal tersebut bukanlah yang terjadi dan Felix sedang berusaha untuk mengikhlaskan Laura untuk Bryan.


“Tidak, Martin. Tapi, Laura memang ingin menikah. Besok, keluarga calon suami Laura akan ikut bertemu dengan kalian berdua,” jawab Felix.


“Pria mana yang akan menikahi anak itu?”


“Apakah kau tahu Bryan Lorenzo? Dia yang akan menikahi Laura.”


“Bryan Lorenzo? Maksudmu pengusaha muda yang tersohor itu?”


“Benar sekali. Dia adalah calon suami Laura.”

__ADS_1


“Baiklah, baiklah. Aku akan segera mengabari Lucia untuk bersiap-siap menyambut mereka,” balas Martin kegirangan lalu mematikan sambungan telepon secara sepihak.


Felix menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian tersenyum tipis. Mulai sekarang, pria itu berjanji jika dia akan mulai belajar untuk mencintai Briza. Dia tidak mau pernikahan Laura dan Bryan membawa duka yang berlarut-larut kepadanya. Pria itu percaya kalau dia juga pantas bahagia meskipun bukan dengan Laura.


Keesokan harinya, rombongan Bryan pergi menuju kota kelahiran Laura. Laura, Bryan dan Felix mengendarai satu mobil yang sama sementara orang tua Bryan mengendarai mobil yang berbeda namun melaju tepat di belakang mereka supaya tidak kehilangan jejak.


Perjalanan dari kota Barcelona menuju ke kota kelahiran Laura memakan waktu paling tidak lima jam lamanya, untuk itulah mereka berangkat pagi-pagi sekali untuk menghindari kemacetan jalanan.


“Felix, apakah rumah baru orang tuaku jauh dari rumah lama kami?” tanya Laura.


Felix menggeleng. “Tidak terlalu jauh, Laura. Rumah baru ibumu hanya berjarak beberapa blok saja dari rumah lamamu. Kalau rumah ayahmu, mungkin bisa dibilang agak jauh. Tapi, aku sudah mengabari ayahmu dan meminta mereka berkumpul di rumah ibumu saja,” jelas Felix.


“Laura, kau tidak perlu gugup. Semuanya akan baik-baik saja,” ucap Bryan sambil tersenyum hangat.


Laura mengangguk. “Aku hanya tidak menyangka kalau aku benar-benar akan bertemu dengan mereka lagi setelah sekian lama tidak bertemu,” jelasnya.


Begitu sampai, Laura memandang rumah orang tuanya yang baru. Rumah ini jauh lebih kecil dari rumah lama mereka. Tapi, tampak sangat nyaman untuk dihuni.


Mereka pun mengetuk pintu. Tak perlu menunggu lama Martin dan Lucia membuka pintu dan menyambut kedatangan mereka dengan senyuman lebar.


“Laura, maafkan Mama dan Papa yang dulu sudah bersikap tidak adil kepadamu. Maaf, karena keegoisan kami, kau akhirnya pergi dari sini dan tidak mau bertukar kabar dengan kami lagi,” ujar Lucia kemudian memeluk Laura.

__ADS_1


“Laura, asal kau tahu kalau kami sangat merindukanmu,” ucap Martin kemudian ikutan memeluk putri semata wayangnya itu.


Laura melepaskan pelukan orang tuanya, kemudian berkata, “Tidak apa-apa. Aku sudah memaafkan kalian. Aku ingin mengenalkan kalian pada seseorang. Ini adalah Bryan, calon suamiku. Dan mereka adalah orang tua Bryan, Fabio dan Deborah.”


Bryan, Fabio, dan Deborah bersalaman pun berkenalan dengan Martin dan Lucia. Senyuman tak lepas sama sekali dari bibir kedua orang tua Laura. Bagaimana tidak? Mereka tahu siapa yang akan menjadi calon besan mereka, yaitu keluarga paling kaya di Spanyol. Tentu saja Martin dan Lucia akan menyambut kedatangan mereka dengan begitu hangat.


“Ayo, masuk. Aku sudah menyiapkan makan siang untuk kita semua,” ucap Lucia, mempersilakan mereka semua untuk masuk.


“Ngomong-ngomong, sejak kapan kalian mengenal satu sama lain?” tanya Martin di tengah-tengah acara makan siang mereka.


“Aku dan Laura pertama kali bertemu di awal bulan Juni,” ucap Bryan.


“Jadi, sebelum Felix menyusul Laura ke Barcelona?” timpal Lucia.


Bryan dan Laura mengangguk.


“Kedatanganku ke sini adalah untuk menyampaikan niatku untuk segera menikahi Laura. Aku ingin meminta restu dari kalian berdua sebagai orang tua Laura,” jelas Bryan.


Martin dan Lucia berpandangan. Mereka tanpa ragu memberikan restu kepada Laura dan Bryan. Mereka dengan senang hati menerima Bryan sebagai menantu mereka.


“Tentu saja kami akan merestui pernikahan kalian,” jawab Martin dengan tegas, membuat Laura dan Bryan dapat bernapas lega karena akhirnya mendapatkan restu.

__ADS_1


__ADS_2