
Semilir angin menerbangkan rambut Laura yang tergerai sementara ombak menyapu jemari kakinya. Kini, semburat jingga di cakrawala mulai menghilang. Tugas sang surya telah digantikan oleh rembulan yang ditemani oleh kelap-kelip bintang yang bertaburan di angkasa raya. Perlahan, orang-orang yang berada di sekitarnya pergi bersamaan dengan berakhirnya momen magic hour.
Laura masih menatap nanar pada sosok pria yang telah mengisi seluruh ruang di hatinya namun dengan tega memporak-porandakan setiap sudut di hatinya. Dia tidak menyangka jika kalimat itu akan dia dengar keluar dari bibir Bryan. Dia masih tidak bisa percaya kalau Bryan dan Briza memang memiliki hubungan yang lebih dari sekadar teman biasa.
“Jadi, itu alasan kenapa Briza selalu bersikap seolah aku adalah saingannya?” tanya Laura sambil tersenyum kecut. Gadis itu mengangguk-angguk paham, lalu mengalihkan pandangannya dari Bryan. “Kau tahu apa yang lucu, Bryan? Aku selalu berusaha untuk berpikiran positif meskipun dari awal aku bertemu dengan Briza, aku sudah bisa menebak jika ada sesuatu yang salah dari dia.”
Bryan menghela napasnya, kemudian menundukkan kepala karena merasa bersalah. “Maaf, aku tidak menjelaskan semuanya dari awal. Sekarang, berikan aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya,” ucap Bryan penuh penyesalan.
“Apa lagi yang ingin kau jelaskan padaku, Bryan?” tanya Laura, masih enggan menatap Laura.
“Briza adalah wanita pertamaku. Dia adalah temanku sejak kecil dan kami sama-sama belum memiliki pengalaman apa-apa saat kami pertama kali melakukannya,” jelas Bryan. “Aku akui kalau aku dan Briza memang sering tidur bersama bahkan sampai kami dewasa.”
Laura mendengus keras. “Dia pasti sangat penting untukmu sampai-sampai kau berbohong padaku tadi malam,” cibir Laura.
“Laura ....”
“Apa?” tanya Laura, memotong ucapan Bryan. Dia benar-benar syok saat mendengar pernyataan Bryan tadi. Rasa kesalnya pada Bryan semakin bertambah karena hal tersebut.
__ADS_1
Gadis mana yang tidak sakit hati dan kecewa saat dia mengetahui kalau pria yang dia cintai ternyata masih berhubungan dengan seseorang dari masa lalunya. Well, Laura tidak tahu apakah Bryan masih berkencan dengan Briza. Tapi, yang jelas, dengan Bryan lebih memilih berbohong padanya juga telah membuktikan jika Bryan masih belum bisa selesai dengan masa lalunya.
“Laura, aku dan Briza hanya teman sekarang ini. Bagiku dia tidak sepenting dirimu,” jelas Bryan.
Pria itu mencoba untuk kembali mendekati Laura, kamu gadis itu bergerak cepat untuk mundur dan berkata, “Stop! Jangan mendekat ke arahku.”
“Kenapa?” tanya Bryan bingung.
“Aku butuh waktu untuk sendiri,” ucap Laura lalu membalik badannya.
Gadis itu pun melangkahkan kakinya menjauh dari Bryan sambil menundukkan kepalanya. Bryan yang melihat hal tersebut tidak tinggal diam. Dia berlari menghampiri Laura kemudian memeluk gadis itu dari belakang.
“Lepaskan aku, Bryan!” perintahnya.
“Aku tidak mau,” balas Bryan. Pria itu tampak semakin menempelkan tubuhnya pada Laura. “Aku mencintaimu, Laura. Perasaan ini tidak pernah aku rasakan kepada siapa pun termasuk Briza. Tidak seperti hubunganku dengan wanita-wanita sebelumnya yang hanya berdasarkan kesenangan saja, aku benar-benar tulus mencintaimu dan aku tidak ingin kehilangan dirimu.”
“Aku butuh waktu untuk memikirkan semuanya!” ujar Laura dengan tegas. “Aku harap kau mau memberikan aku waktu. Karena untuk saat ini, aku masih belum bisa mempercayai dirimu.”
__ADS_1
“Aku tidak akan membiarkan kau meninggalkanku, Laura,” ucap Bryan.
Laura menelan salivanya. Ingin sekali dia mempercayai ucapan Bryan. Namun, kekecewaan yang dia rasakan membuatnya kesulitan untuk mempercayai pria itu. Setidaknya untuk saat ini dia masih belum bisa percaya dengan Bryan.
“Baiklah, kalau kau memang ingin memikirkan segalanya. Aku akan mengerti. Tapi, aku ingin tetap ada di sampingmu,” ucap Bryan.
Laura menghela napasnya, merasa kalah dengan ucapan Bryan. Meskipun dia belum bisa memaafkan Bryan dan percaya pada pria itu, dia akan tetap menuruti keinginan pria itu.
“Oke. Sekarang, lepaskan aku,” ucapnya tegas.
“Ke mana kau akan pergi sekarang?” tanya Bryan seraya melepaskan pelukannya.
“Aku ingin kembali ke hotel. Aku lelah dan mengantuk,” ucap Laura, lalu berjalan lebih dulu menuju ke hotel.
Jarak antara restoran dan hotel tidak terlalu jauh jadi berjalan kaki sudah cukup bagi Laura. Gadis itu terus melangkah tanpa menoleh pada Bryan yang berjalan mengekorinya.
“Kau mau ke mana?” tanya Laura pada Bryan ketika dia hendak masuk ke dalam kamar hotelnya.
__ADS_1
“Tentu saja masuk. Aku tidak mungkin pulang jika kau masih marah padaku,” balas Bryan.
Laura menghela napas, kemudian mengizinkan Bryan masuk ke dalam kamarnya. Laura dan Bryan tidur di kamar yang sama, akan tetapi Laura menjaga jarak dan tak bicara apa pun kepada Bryan. Gadis itu benar-benar mengabaikan Bryan.