
Tubuh Laura bergetar hebat saat dia melihat apa yang baru saja dikirimkan oleh Briza. Gadis itu berulang kali menelan salivanya karena tak sanggup untuk menahan rasa sakit yang ditorehkan oleh sebuah foto yang sangat menjijikkan tersebut. Napas Laura tercekat bersamaan dengan detak jantungnya yang berdegup lebih kencang dari biasanya.
“Briza pasti akan melakukan segala cara-cara licik untuk membuatmu kembali marah padaku dan memisahkan kita.”
Kalimat yang diucapkan oleh Bryan tempo hari kembali berputar di kepala Laura. Baru dua hari semenjak Bryan dan Laura berbaikan, Briza sudah benar-benar membuktikan kecurigaan Bryan jika Briza pasti memiliki rencana untuk memisahkan Laura dan Bryan.
Laura pun memilih untuk mengabaikan pesan singkat tersebut dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Gadis itu berniat untuk membahasnya nanti ketika dia pulang bekerja dengan Bryan.
Waktu pun bergulir hingga jam pulang akhirnya tiba. Gadis itu buru-buru membereskan pekerjaannya dan berpamitan dengan Lola. Ketika dia keluar dari toko bunga, tampak mobil Bryan sudah terparkir di sana. Tanpa ragu Laura pun masuk ke dalam mobil tersebut dan mendapati Bryan sedang memejamkan matanya, mungkin pria itu kelelahan bekerja sampai-sampai ketiduran saat menjemputnya.
“Bryan ...,” panggil Laura sambil mengusap wajah pria itu.
Bryan perlahan membuka matanya, kemudian mengucek-uceknya. “Laura, kau sudah pulang?” tanya Bryan.
“Hm, iya.” Laura tersenyum lembut. “Apakah kau sudah lama menungguku?” tanyanya.
“Tidak juga. Aku cuman agak kelelahan karena seharian ini rapat dengan beberapa rekan bisnis dan harus selalu presentasi,” jawab Bryan.
“Bryan, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan,” ucap Laura sambil menundukkan kepalanya.
“Ada apa, Laura?”
__ADS_1
Laura mengeluarkan ponselnya, kemudian menunjukkan sebuah pesan singkat yang dikirimkan oleh Briza yang berisi foto Bryan dan Briza ketika sedang tidur bersama.
“Briza mengirimkan foto ini kepadaku tadi siang,” ucap Laura.
Bryan terkejut tatkala melihat hal tersebut. Pria itu bahkan tidak tahu kapan Briza mengambil foto tersebut. Yang jelas Bryan yakin sekali jika Briza kemungkinan besar mengambilnya ketika Briza menjebak Bryan tempo hari yang lalu.
“Aku bahkan tidak tahu dia mengambil foto ini,” gumam Bryan.
Menyadari jika hal tersebut bukanlah sebuah pembelaan diri yang tepat, Bryan buru-buru menoleh ke arah Laura yang kini tampak berwajah masam. Baru saja dia dimaafkan oleh Laura, apakah dia harus bertengkar lagi dengan Laura?
“Laura, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu kalau Briza bisa sampai segila ini dengan mengirimkan foto seperti ini kepadamu,” jelas Bryan. “Aku sungguh-sungguh tidak memiliki perasaan apa pun kepada Briza. Dan aku sudah berhenti untuk melakukan itu semua dengan dia semenjak aku kembali kepadamu,” sambungnya.
Bryan mengangguk. “Memang gila gadis itu. Dia pasti mengirimkan foto ini setelah aku mengusirnya dari kantor tadi,” gerutu Bryan.
Laura terkesiap, lalu menoleh. “Briza tadi ke kantormu?”
Bryan mengangguk. “Iya. Saat aku baru selesai rapat dia sudah menunggu di kursi tamu. Aku sudah berusaha untuk mengabaikannya tapi dia malah mengejarku dan marah-marah karena aku tidak mau berhubungan lagi dengan dia. Akhirnya aku mengusirnya dari kantor. Mungkin setelah itu dia mengirimkan foto ini kepadamu,” terang Bryan.
Laura mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bisa jadi. Mungkin dia tidak terima karena kau usir,” balas Laura, setuju dengan tebakan Bryan.
“Oh, iya, Laura. Aku akan mengantarmu pulang lalu aku akan kembali ke kantor karena ada pekerjaan yang harus aku selesaikan malam ini juga. Jika kau tidak percaya kepadaku, kita bisa melakukan video call sepanjang malam,” ucap Bryan, meminta izin Laura.
__ADS_1
“Baiklah, aku percaya padamu. Kalau kau berbohong juga aku akan tahu,” balas Laura sambil terkekeh.
Bryan pun mengantar Laura pulang. Setelahnya dia langsung kembali ke kantornya.
“Laura!” panggil Felix yang baru saja keluar dari mobilnya.
Laura menoleh dan melambaikan tangannya. Felix pun berlari menyusul Laura dan mereka masuk ke dalam gedung apartemennya bersama.
“Tumben sekali Bryan tidak ikut masuk,” ucap Felix.
“Oh, dia masih harus kembali ke kantornya,” ucap Laura.
“Bagaimana dengan gadis bernama Briza itu? Apakah dia masih mengganggu kalian?” tanya Felix.
Laura menghela napasnya. “Ya, dia masih saja mengganggu kami. Aku sampai bingung bagaimana caranya supaya dia berhenti. Padahal, Bryan sudah jelas-jelas tidak mau dengan dia,” jelas Laura.
Felix terdiam. Menyadari jika Laura tidak akan pernah bisa mencintainya, Felix pun berniat untuk mengubah perasaannya menjadi perasaan sayang antara kakak dan adik saja.
‘Apa yang harus aku lakukan untuk membantu Laura? Haruskah aku mendekati Briza?’ tanya Felix dalam hati.
“Kau tenang saja. Aku yakin kalian bisa menghadapi gadis itu,” ucap Felix. “Kalau kalian butuh bantuan, jangan sungkan untuk bilang kepadaku.”
__ADS_1