
Laura menolehkan kepala saat dia tak sengaja melihat sebuah mobil yang melintas. Dia sempat berpikir kalau itu adalah mobil Bryan namun dia juga berpikir kalau tidak mungkin Bryan datang ke secret garden tapi tidak turun dari mobil. Lagi pula, semenjak Laura berpisah dengan Bryan, Secret Garden tidak pernah mendapatkan pesanan dekorasi bunga dari Bryan. Jadi, Laura berpikir jika hal itu agaknya tidak mungkin.
“Felix, apakah kau mau menemaniku makan malam? Kebetulan aku lapar sekali karena tidak sempat makan siang tadi,” ucap Laura, mengajak Felix untuk segera pergi dari Secret Garden.
Felix tersenyum lebar. Dia tentunya menerima tawaran Laura dengan tangan lebar. “Ya, ayo kita pergi makan. Menunggumu berjam-jam di sini juga membuatku merasa lapar,” gurau Felix, membuat Laura terkekeh.
Felix menggandeng tangan Laura menuju ke arah mobilnya yang terparkir di sisi jalan. Setelahnya dia melajukan mobilnya menuju ke salah satu restoran di Barcelona. Meskipun tidak tinggal di Barcelona, Felix tahu beberapa tempat di sana sebab dia sering pergi ke Barcelona untuk melakukan beberapa pekerjaan atau hanya sekadar berlibur.
“Apakah kau suka makan seafood?” tanya Felix. Dia menoleh sekilas ke arah Laura, lalu kembali menatap ke arah jalanan di depannya. “Di dekat sini ada restoran seafood yang sering aku datangi setiap kali aku ke Barcelona.”
Laura mengangguk. “Aku tidak pilih-pilih kalau soal makanan. Yang penting masakan di sana lezat maka aku tidak akan mempermasalahkannya,” jawab Laura dengan lugu.
Felix tertawa renyah, membuat Laura menatapnya bingung.
“Kenapa kau tertawa?” tanya Laura.
“Tidak.” Felix menggeleng-gelengkan kepala. “Aku hanya tidak menyangka kalau kau ternyata bukanlah gadis yang aku pikirkan.”
Laura mengerutkan dahinya dalam-dalam. “Memangnya apa yang kau pikirkan tentang aku sebelum ini?” tanya Laura, penasaran.
“Hm, biarkan aku berpikir dulu.” Felix mengusap-usap dagunya, berpikir mengenai sifat Laura yang menurutnya berbeda dari bayangannya. “Dulu aku pikir kau adalah gadis manja yang suka kemewahan dan menghambur-hamburkan uang. Tapi, setelah mengetahui di mana kau bekerja dan jawabanmu barusan ... aku jadi berubah pikiran.”
Laura tertawa renyah. “Banyak orang yang berpikir seperti itu termasuk orang tuaku. Maka dari itu aku memilih pergi dari rumah untuk membuktikan kalau aku bisa hidup tanpa uang dari mereka,” balas Laura.
Perbincangan mereka terhenti sejenak karena mereka telah sampai di restoran yang Felix maksud tadi. Mereka pun turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran tersebut. Restoran itu bukanlah restoran bintang lima, namun restoran itu mengusung tema pantai yang membuat siapa pun nyaman untuk makan di sana.
__ADS_1
Setelah duduk dan memesan makanan, barulah mereka melanjutkan perbincangan mereka yang sempat tertunda tadi.
“Ngomong-ngomong soal ucapanmu tadi, apakah kau yakin kalau hanya itu alasanmu?” tanya Felix, sebab dia tidak yakin kalau hanya itu alasan kenapa Laura sampai pergi meninggalkan kota kelahirannya.
Laura menghela napas berat. “Aku hanya tidak ingin orang tuaku berpikir kalau mereka bisa mengaturku seenaknya dan berpikir kalau aku adalah beban untuk mereka,” jawab Laura.
Felix menelengkan kepalanya. “Aku rasa mereka tidak mungkin berpikir seperti itu kepada putri satu-satunya yang mereka miliki, Laura,” balas Felix.
Laura tertawa kemudian berkata, “Kau tidak tahu orang tuaku, Felix. Apa yang kau lihat dari mereka sebetulnya tidak benar-benar apa yang mereka tunjukkan di depanku.”
“Orang tuamu menitipkan salam untukmu,” ucap Felix, membuat Laura menghentikan tawanya.
“Benarkah?” balas Laura acuh tak acuh. Dia masih ingat sekali jika orang tuanya yang berkata jika dia adalah beban bagi mereka, karena itu pulalah Laura memilih untuk pergi dari rumah dan membuka lembaran baru di Barcelona.
Laura tersenyum tipis, tidak tahu apakah dia bisa untuk tidak membenci orang tuanya setelah apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Laura masih merasa sangat jengkel jika mengingat kejadian hari itu. Mungkin Laura masih butuh banyak waktu untuk bisa memaafkan orang tuanya.
Pesanan mereka datang, Laura dan Felix lagi-lagi terdiam sambil menikmati makan malam mereka. Sesekali mereka berbincang dan hal itu membuat Laura berpikir tentang satu hal, yaitu ternyata Felix tidak seburuk yang dia kira.
Laura tidak menyangka jika Felix adalah pria yang perhatian dan dewasa. Sebenarnya baru kali ini mereka benar-benar bertemu dan berbincang-bincang. Sebelumnya, Laura selalu menghindar dan menolak untuk bertemu dengan Felix. Seperti yang Laura katakan sebelumnya, dia tidak suka dijodohkan. Baginya, dia bisa memilih jodoh sendiri jadi dia tidak mau orang lain ikut campur mengenai hal tersebut.
“Ngomong-ngomong, kau tinggal di mana? Aku akan mengantarmu setelah ini,” ucap Felix setelah mereka selesai makan dan sedang menunggu transaksi pembayaran selesai.
“Tempat tinggalku tidak terlalu jauh dari sini,” ucap Laura. “Nanti aku akan menunjukkan jalannya kepadamu.”
Felix menganggukkan kepalanya. Seperti katanya tadi, dia langsung mengantar Laura pulang. Jarak antara restoran dan apartemen Laura tak begitu jauh sehingga tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di sana.
__ADS_1
Sebelum turun dari mobil Felix, tak lupa Laura mengucap terima kasih kepada Felix.
“Felix, terima kasih karena kau sudah mentraktirku dan mengantarku pulang,” ucap Laura.
Felix tersenyum. “Bukankah itu sudah kewajiban jika seorang pria mengajakmu untuk pergi?” balasnya .
“Well, secara teknis sebetulnya aku yang mengajakmu tadi,” ucap Laura sambil menelengkan kepalanya.
Felix tertawa renyah. “Aku tidak akan membiarkan wanita pulang sendiri setelah pergi denganku, Laura. Jika kau pergi denganku, tanpa peduli siapa yang mengajak, aku pasti akan mengantarmu pulang,” jawab Felix.
“Ngomong-ngomong, kau tidak mungkin pergi ke Barcelona hanya untuk menemui aku, ‘kan?” tanya Laura sambil menyipitkan mata.
Felix tertawa kikuk, lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Tentu saja tidak. Aku juga ada urusan bisnis di sini. Jadi, sekalian saja aku menemuimu,” ucapnya, berbohong. Padahal dia sengaja datang ke Barcelona untuk menemui Laura.
“Kau tahu dari mana kalau aku bekerja di Secret Garden?” tanya Laura lagi.
“Aku tadi tidak sengaja melihatmu masuk ke sana. Jadi, aku memutuskan untuk menunggumu di sana,” ucapnya. “Sudah kubilang, aku sudah lama mencarimu. Jadi, saat aku melihatmu tentu aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu denganmu, bukan?”
Laura mengangguk-anggukkan kepala. “Benar juga, sih. Kalau begitu, aku masuk dulu, ya?” pamit Laura.
Felix mengangguk.
“Hati-hati di jalan, Felix,” ucap Laura kemudian turun dari mobil Felix.
Felix masih menatap Laura, memerhatikan gadis itu hingga dia masuk ke dalam gedung apartemennya sebelum Felix akhirnya melajukan mobilnya pergi. Pria itu tersenyum senang sebab hari ini Laura tampak bisa menerima kehadirannya.
__ADS_1