Penghangat Ranjang Casanova

Penghangat Ranjang Casanova
Syarat Dari Laura


__ADS_3

Gadis itu termenung cukup lama, sementara Bryan masih terus berlutut di hadapannya sembari menggenggam tangannya dengan begitu erat. Ia lantas menghela napas panjang, kemudian mengangguk pelan. Dia harus menyetujui permintaan Bryan sebab dia tidak mau Briza bahagia di atas penderitaannya.


“Baiklah, aku setuju untuk memaafkan mu,” ucap Laura pada akhirnya.


Senyum Bryan mengembang sempurna. Akhirnya setelah berhari-hari membujuk Laura, hari ini gadis itu mau untuk memaafkan dirinya. Bryan merasa sangat senang, seolah beban di pundaknya diangkat begitu saja oleh Tuhan sehingga dia tidak merasakan beban apa pun lagi.


Dengan perasaan bahagia Bryan mengecup punggung tangan Laura. Pria itu kemudian berdiri dan langsung memeluk Laura dengan bahagia. Dia tersenyum penuh haru, masih tak percaya jika Laura benar-benar mau memaafkannya. Kesalahan Bryan terlalu besar dan hampir mustahil dapat dimaafkan oleh siapa pun wanita yang sedang menjalin hubungan dengannya. Bryan tahu akan hal itu. Maka dari itu dia merasa sangat bahagia ketika Laura memaafkannya.


“Terima kasih, Laura. Terima kasih karena kau mau memaafkan aku. Aku berjanji kalau aku tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan darimu kali ini,” ucap Bryan sambil tersenyum bahagia.


“Aku belum selesai bicara,” ucap Laura, membuat Bryan melepaskan pelukannya.


Pria itu mengerutkan dahinya, kemudian bertanya, “Apakah kau masih marah padaku, Laura?”


Laura menghela napasnya. “Aku akan memaafkan mu tapi kau harus melakukan persyaratan dariku, Bryan.” Gadis itu terdiam sejenak, menunggu reaksi dari Bryan. Saat dirasa Bryan ingin dia melanjutkan kalimatnya, dia lantas kembali membuka suara, “Aku ingin kau lebih terbuka padaku. Jangan ada yang kau sembunyikan lagi dariku.”


“Baik, aku akan melakukannya,” sahut Bryan dengan cepat.

__ADS_1


“Aku juga tidak mau kau menemui Briza. Aku ingin kau menjaga jarak darinya. Jika kalian tidak sengaja bertemu di acara-acara bisnis, aku tidak masalah. Tapi, aku tidak mau kalian bertemu secara pribadi jika aku tidak ikut denganmu,” ucap Laura lagi.


Mendengar hal tersebut, Bryan tak langsung menyahut. Pria itu terdiam cukup lama. Pertemanan Bryan dan Briza sudah terjalin selama belasan tahun. Mereka sudah mengenal satu sama lain dan bahkan melakukan hubungan intim jauh sebelum Bryan mengenal Laura. Tentu saja persyaratan tersebut terdengar sangat sulit untuk Bryan.


Akan tetapi, Laura tidak peduli jika Bryan menganggapnya sebagai wanita yang posesif dalam menjalani hubungan mereka. Sebagai seorang wanita yang pernah dibohongi dan tidak mudah percaya apalagi memaafkan kesalahan Bryan, Laura harus melakukan sesuatu yang dapat mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.


“Jika kau tidak setuju, aku—”


“Aku setuju, Laura,” sahut Bryan dengan cepat, memotong ucapan Laura.


“Aku berjanji aku tidak akan bertemu dengan Briza tanpa dirimu lagi, Laura,” ucap Bryan pada akhirnya. Dia terlalu takut untuk kehilangan Laura. Cukup waktu itu saja dia kehilangan Laura. Dia tidak akan sanggup kalau harus kehilangan Laura untuk kesekian kalinya.


Bryan dan Laura lantas melanjutkan makan malam mereka sambil sesekali mengobrol. Suasana canggung yang dari beberapa hari lalu menyelimuti apartemen Laura berubah menjadi atmosfer yang begitu hangat. Ternyata, jika dua sejoli itu akur, maka suasana di sekitar mereka berubah menjadi lebih nyaman.


Setelah selesai makan malam, mereka tak langsung tidur. Sepasang kekasih tersebut duduk sambil bersandar di kepala ranjang. Tangan mereka bertautan sementara Bryan merangkul pundak Laura, menarik gadis itu ke dalam dekapannya.


“Kau tahu, aku sangat bahagia sebab kau akhirnya mau memaafkan aku,” ujar Bryan sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


“Benarkah?” balas Laura. “Kupikir kau akan menyerah karena aku tidak kunjung memaafkanmu.”


Bryan menggelengkan kepala dengan cepat. “Mana mungkin aku akan menyerah begitu saja, Laura? Kau tahu kalau aku sangat mencintaimu. Aku tidak akan menyerah begitu saja.”


Laura terkekeh kecil. “Baiklah, baiklah. Aku percaya padamu,” ucapnya.


“Laura, percayalah kalau kau adalah wanita pertama yang aku cintai,” ucap Bryan.


“Jadi, aku adalah cinta pertamamu?” balas Laura.


Bryan menganggukkan kepala. “Ya. Maka dari itu aku akan membuktikan kalau aku benar-benar serius kepadamu. Aku tidak akan pernah bisa jatuh cinta lagi jika aku kehilanganmu,” jelas Bryan.


Laura tersenyum, pipinya merona akibat ucapan Bryan yang teramat manis.


“Laura, aku akan menunjukkan keseriusanku dengan menemui orang tuamu dan meminta restu dari mereka,” ujar Bryan.


Laura sontak saja terkejut mendengarnya. Gadis itu tidak menyangka jika Bryan sangat serius sampai-sampai dia mau melakukan hal itu. Namun, ketika dia teringat bagaimana hubungannya dengan orang tuanya, Laura terdiam.

__ADS_1


__ADS_2