
Seorang gadis tersentak dari lamunannya ketika seseorang menepuk pundaknya. Dengan jantung yang hampir copot dia memegangi dadanya sambil menolehkan kepalanya. Laura pun menghela napas lega ketika mendapati Reyna berdiri di belakangnya sambil menatapnya bingung.
“Kau kenapa seperti melihat hantu, Laura? Apakah kau tadi sedang melamun?” tanya Reyna.
“Tidak!” Laura menggeleng-gelengkan kepala, berusaha menyangkal kalau dia melamun padahal Reyna sudah melihat jelas apa yang telah terjadi. “Aku hanya sedang berkonsentrasi dengan pekerjaanku.”
Reyna terkekeh kecil. Tidak habis pikir dengan alasan Laura sebab dari tadi Laura hanya berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di terali besi tanpa melakukan apa-apa.
“Bisakah kau membantu dekorasi di bagian outdoor? Kami ada masalah dengan pemasangan dekor sebab angin bertiup kencang. Di bagian indoor sudah hampir selesai, ‘kan?” pinta Reyna.
Laura menganggukkan kepalanya. “Baiklah. Ayo, kita ke sana,” balasnya sambil tersenyum. Dua gadis itu lantas pergi ke bagian outdoor, yaitu tepatnya di taman belakang hotel.
Lokasi resepsi pernikahan yang akan berlangsung ada di dua tempat, yaitu di aula hotel dan di taman hotel. Tim Secret Garden dibagi menjadi dua. Dan kebetulan karena tim yang mendekorasi aula hotel sudah hampir selesai dengan pekerjaannya, Reyna meminta bantuan Laura untuk membantu dekorasi di taman. Biarlah nanti anggota tim lain yang menyelesaikan dekorasi di dalam aula.
“Benda ini terus saja jatuh dan tidak mau berdiri lebih dari lima menit,” keluh Reyna pada Laura sambil menunjuk pada beberapa potong kayu yang nantinya akan mereka gunakan untuk mendekorasi bagian samping-samping tempat resepsi.
Laura mengusap-usap dagunya, berpikir tentang cara apa yang bisa mereka lakukan karena kebetulan sekali kalau angin di luar sini memang cukup kencang.
“Apakah kalian tahu konsep gardu pandang di dalam pramuka? Kita buat saja bagian bawahnya mengerucut sepeti itu. Tidak perlu terlalu besar, mungkin dua puluh sampai tiga puluh sentimeter saja cukup. Setelah itu kita akan memasangkan kayu yang telah kita siapkan untuk meletakkan bunga-bunga dekorasi,” jelas Laura.
__ADS_1
Reyna menjentikkan jemarinya. “Kau benar, Laura. Kenapa aku tidak kepikiran sama sekali?”
Laura terkekeh. “Kalau begitu, ayo segera kita lakukan,” ucapnya.
Para tim dekorasi outdoor dibantu dengan Laura mulai sibuk mendekorasi taman. Sementara Reyna yang menyadari jika ponselnya berbunyi memilih untuk berjalan menjauh dari teman-temannya karena dia ingin mengangkat telepon.
“Halo, Bryan? Apakah kau tidak salah menelepon orang?” tanya Reyna bingung.
“Halo, Reyna. Aku ingin menanyakan alamat hotel tempat kalian bekerja. Aku diberikan alamat oleh ibumu, tapi kurasa dia salah memberi alamat,” ucap Bryan.
Reyna pun lantas memberikan alamat hotel tempat mereka mendekorasi saat ini. Sementara itu Bryan berdecap pelan karena rupanya hotel tempat mereka bekerja justru berada di dekat pantai, bukan di dataran tinggi.
“Baiklah. Ngomong-ngomong, jangan katakan pada Laura kalau aku akan menyusul ke sana,” ucap Bryan.
“Memangnya kenapa?”
“Aku ingin memberinya kejutan.”
“Ah, baiklah kalau begitu,” balas Reyna sambil tersenyum lebar. Hubungan Laura dan Bryan benar-benar membuatnya merasa seperti jomlo sejati.
__ADS_1
Begitu panggilan mereka terputus, Reyna kembali melakukan pekerjaannya tanpa memberitahu Laura siapa yang telah meneleponnya. Sementara itu, di sisi lain Bryan mulai melajukan mobilnya menuju ke alamat yang diberikan oleh Reyna.
Setibanya di tempat Laura berada, Bryan memerhatikan Laura yang tengah bekerja. Dia berusaha menunggu dengan sabar meskipun kedatangannya cukup menyita perhatian orang-orang yang mengenalinya.
Laura yang tengah sibuk dengan pekerjaannya terkejut saat dia menoleh dan mendapati Bryan. Bryan melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum. Tapi, bukannya membalas Laura justru mengalihkan pandangannya dan berusaha untuk mengabaikan Bryan.
Satu jam kemudian pekerjaan mereka akhirnya selesai bersamaan dengan mentari yang mulai kembali ke peraduan.
“Lihat pangeran kuda siapa yang datang ke sini?” goda Reyna sambil menaik-turunkan alisnya.
Teman-teman kerja Laura yang lain pun ikutan menggoda Laura. Namun, semua itu harus terhenti ketika Bryan berjalan menghampiri Laura.
“Apakah kau lelah?” tanya Bryan sambil mengelap peluh Laura. Pria itu pun kemudian mencium pipi Laura, membuat Laura merona.
“Apa-apaan, sih, Bryan? Memangnya kau tidak malu dilihat banyak orang,” gerutu Laura, dia masih kesal sebab Bryan membohonginya tadi malam.
“Apakah kau lapar? Aku ingin mengajakmu makan malam di restoran dekat hotel ini,” ucap Bryan.
Laura menghela napasnya. Gadis itu pasrah ketika Bryan menarik tangannya dan mengajaknya makan malam di sebuah restoran yang berada di dekat pantai. Gadis tersebut berpikir kalau dia juga butuh membicarakan tentang kecurigaannya atas hubungan Bryan dan Briza.
__ADS_1
‘Jangan sampai kecurigaanku tentang mereka benar-benar terbukti,’ ujar Laura dalam hati.