Penghangat Ranjang Casanova

Penghangat Ranjang Casanova
Mengikhlaskan Laura


__ADS_3

Laura menatap nanar pada layar ponselnya. Dari tadi malam, Laura tak bisa tidur dengan nyenyak sebab perasaannya sedang tak tenang. Gadis itu bangun setiap tiga puluh menit sekali untuk memeriksa ponselnya sebab dia menunggu kabar dari Bryan.


Terlepas dari cerita Briza kalau Bryan menginap di apartemennya, masih ada sedikit pemikiran positif yang membuat Laura masih percaya kalau Bryan tak mungkin menginap di tempat gadis itu. Siapa tahu kalau Bryan hanya menengok Briza lagi untuk memastikan keadaan gadis itu, bukan?


Ya, Laura harap juga begitu.


Ia meletakkan ponselnya di atas meja rias, kemudian menatap pantulan dirinya di cermin. Karena kurang tidur, ada lingkaran hitam di sekitar matanya. Gadis itu mencoba menutupinya dengan riasan make up. Namun, tiba-tiba saja matanya berair dan air mata yang telah ia bendung dari tadi malam jatuh di pipinya.


“Tidak, tidak! Aku tidak boleh menangis hanya karena Briza! Bisa saja gadis aneh itu menipuku,” gumam Laura seraya menyeka air matanya.


Akan tetapi, mau sekeras apa pun Laura meyakinkan diri, kenyataan bahwa Bryan sampai detik ini belum menghubunginya membuat Laura semakin kecewa. Ketakutan jika Briza semalam berkata jujur membuatnya kian berpikiran buruk tentang Briza dan Bryan.


Gadis itu menengadahkan kepalanya ke atas, menatap langit-langit apartemennya sambil berusaha untuk menahan air matanya supaya tidak jatuh lagi.


“Aku harus kuat, aku tidak boleh cengeng.”


Kalimat itu berulang kali Laura rapalkan supaya dia tidak menangis lagi. Gadis itu menarik napasnya dalam-dalam, kemudian perlahan menghembuskannya.


“Dari pada aku memikirkan tentang mereka, lebih baik aku segera bersiap untuk berangkat bekerja. Lola pasti akan marah kalau aku sering terlambat,” gumam Laura.


Gadis itu lantas bersiap-siap dan kemudian berangkat bekerja. Saat dia baru saja mengunci pintu apartemennya, pada detik yang sama Felix juga baru saja keluar dari apartemennya.


“Selamat pagi, Laura!” sapa Felix sambil tersenyum lebar. Pria itu lantas melangkahkan kakinya menghampiri Laura yang masih menundukkan kepalanya.

__ADS_1


“Selamat pagi, Felix,” balas Laura, masih enggan mengangkat kepala. Laura tidak mau Felix melihat wajah menyedihkannya.


“Apakah kau salah bantal tadi malam?” tanya Felix sambil mengerutkan dahinya.


Laura menggeleng. “Tidak.”


“Lalu, kenapa kau terus menundukkan kepalamu?” tanya Felix.


Laura menggigit bibir bawahnya, kemudian menghela napas panjang. Gadis itu mau tak mau lantas mengangkat kepalanya. Felix sudah mengetahui apa yang terjadi dengannya. Sepertinya bukan masalah juga jika pria itu melihat bagaimana wajahnya saat ini.


Satu hal yang langsung mencuri perhatian Felix adalah mata panda yang bertengger di wajah Laura. Pria itu sontak saja merasa khawatir sebab dia sudah tahu apa yang menyebabkan hal tersebut.


“Apakah kau tidak tidur semalaman?” tanya Felix.


Felix tersenyum tipis. “Apakah kau mau berangkat bekerja? Biarkan aku mengantarmu,” tawar Felix, sengaja mengalihkan pembicaraan supaya Laura tidak terus-menerus bersedih.


“Tidak perlu. Aku akan berangkat naik taksi,” tolak Laura dengan sopan.


“Sudah ayo, aku antar saja. Kalau kau ketiduran di taksi dan malah diculik sopirnya bagaimana?” seloroh Felix.


Laura tertawa kecil. “Kau ini terlalu banyak menonton film, Felix,” ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Kejahatan di setiap kota besar itu tinggi, Laura. Lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan?”

__ADS_1


Laura terkekeh. “Baiklah, baiklah. Ayo kita berangkat,” ucapnya pada akhirnya.


Sepanjang perjalanan menuju ke Secret Garden, Felix tidak membicarakan tentang permasalahan Laura sebab dia tahu Laura pasti akan bersedih. Sebisa mungkin pria itu mencari topik pembicaraan yang bisa mengalihkan pikiran Laura dari Bryan dan Briza.


Namun, ketika mereka sudah sampai di Secret Garden, Laura mengatakan sebuah kalimat sebelum dia masuk ke dalam toko bunga.


“Bryan masih belum menghubungiku.”


“Kau harus tenang dan tetap percaya kepada Bryan, Laura. Kalau dia memang mencintaimu, percayalah padaku, dia tidak akan pernah melakukan sesuatu yang bisa menyakitimu,” nasihat Felix.


“Benarkah?”


Felix mengangguk. “Ya. Aku adalah seorang pria, jadi aku mengerti apa yang pria lain lakukan jika mereka betul-betul mencintai seseorang.” Felix menghentikan ucapannya sejenak. “Laura yang aku kenal adalah seorang wanita yang tenang dan elegan. Hal itulah yang membuatku tertarik padamu. Jangan sampai masalah ini membuatmu kehilangan siapa jati dirimu, Laura.”


Laura tersenyum haru, kemudian memeluk Felix.


“Terima kasih, Felix. Kau benar-benar seperti seorang kakak yang tidak pernah kumiliki sebelumnya. Aku senang karena ada seseorang yang mau mendengar keluh kesahku,” ucap Laura.


“Aku akan menjadi kakak yang baik untukmu, Laura,” jawab Felix sambil tersenyum.


Laura pun melepaskan pelukannya dan berpamitan kepada Felix untuk masuk ke dalam toko bunga. Sementara Felix terus memerhatikan Laura sambil tersenyum kecut ketika gadis itu menghilang di balik pintu Secret Garden.


‘Aku akan belajar ikhlas kalau pada akhirnya aku hanya akan menjadi kakak untukmu, Laura. Tapi, aku akan memastikan dulu apakah Bryan pria yang terbaik untukmu atau bukan,' ujar Laura dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2