
Felix panik bukan main ketika melihat Briza berjalan menuju ke arah pagar jembatan. Gadis itu bahkan mengabaikan pertanyaannya, membuat Felix menggebrak kemudi mobilnya kemudian mau tak mau keluar dari dalam mobil untuk menyusul Briza. Dia tidak tahu apa yang ada di pikiran Briza saat ini. Yang jelas, yang ada di pikiran Felix bukanlah sebuah hal yang positif mengenai hal ini.
“Briza, aku tahu kalau kau sedang mabuk saat ini. Tapi, aku ingin kau berpikir rasional sedikit saja. Jangan melakukan hal-hal gila!” seru Felix yang berdiri di belakang Briza. Pria itu benar-benar takut kalau Briza melakukan apa yang ada di kepalanya saat ini, yaitu meloncat dari jembatan tersebut.
Gadis tersebut tidak menanggapi ucapan Felix barang sepatah kata pun. Dia justru sibuk memejamkan matanya sambil menikmati embusan angin yang menyapu wajahnya dan menerbangkan tiap helai rambutnya yang tergerai. Briza terus mengatur deru napasnya meskipun hatinya justru bergemuruh tak karuan.
Hatinya terasa begitu sesak setiap kali dia mengingat tentang apa yang terjadi tadi di acara makan malam yang diadakan oleh Felix. Sayatan-sayatan halus seolah terus ditorehkan di hatinya setiap kali dia mengingat tentang apa yang dikatakan oleh Laura mengenai keseriusan Bryan terhadapnya.
“Argh!!!!” Briza berteriak sambil memejamkan matanya. Gadis itu berpegangan pada pagar jembatan, kemudian kembali berseru, “Aku benci kalian semua! Menyebalkan!!!!”
Gadis itu merasa jika Tuhan tak pernah berada di sisinya mengenai masalah percintaan. Selama ini, Briza sudah berusaha sambil terus bersabar, namun apa yang dia dapatkan selain rasa sakit? Tidak ada. Hanya rasa sakitlah yang selalu dia terima.
“Bagaimana bisa aku hidup tanpa Bryan setelah ini?” seru Briza, tanpa sadar air matanya juga ikut luruh di pipinya. Gadis itu tak mampu lagi untuk menahan air mata yang semenjak tadi memang berulang kali ingin keluar. “Aku sudah terlalu terbiasa hidup bersama Bryan. Bagaimana bisa aku menjalani hidupku setelah ini?!”
__ADS_1
“Briza, hidupmu tidak akan berhenti berjalan begitu saja hanya karena kau kehilangan seseorang,” ucap Felix, berusaha menasihati gadis itu.
Bukannya setuju dengan ucapan Felix, gadis tersebut justru tertawa terbahak-bahak dengan suara yang begitu parau. Andai saja semuanya akan semudah yang Felix katakan, Briza pasti tidak akan menangis seperti ini.
“Kau tidak mengerti tentang hal ini, Felix,” ujar Briza sambil tersenyum kecut. “Apa pun yang kau dengar dari cerita Bryan dan Laura tentang diriku bukanlah hal yang bisa membuatmu seratus persen mengenalku,” sindir gadis itu.
“Briza, aku sama sekali tidak mengerti dengan maksud ucapanmu,” balas Felix bingung.
“Aku tidak pernah bermaksud untuk menyakiti Laura selama ini. Apa pun yang aku lakukan kepada Laura dan Bryan selama ini hanya semata-mata karena aku tidak mau kehilangan Bryan!” jelas Briza dengan tandas.
“Briza, di luar sana masih banyak laki-laki lain selain Bryan. Kau cantik dan menarik. Aku yakin sekali kalau di luar sana ada banyak sekali pria yang ingin mendekatimu,” ucap Felix.
Briza tertawa parau, kemudian menoleh ke arah Felix. Barulah di detik itu Felix menyadari jika tangisan Briza adalah sesuatu yang tulus, bukanlah sebuah pembelaan diri atau semacamnya.
__ADS_1
“Andai saja melupakan Bryan bisa semudah itu, Felix,” ucapnya.
“Kau hanya perlu membiarkan pria lain untuk mengetuk pintu hatimu. Percayalah padaku kalau perlahan kau pasti akan berhasil melupakan Bryan.”
“Aku sudah mencintai Bryan selama bertahun-tahun, Felix. Bahkan dari kami masih remaja.” Briza menarik napas dalam-dalam. “Selama ini Bryan selalu menekankan kalau dia tidak mau menjalani sebuah komitmen jadi aku mengikuti permainannya dan hanya menjadi teman ranjangnya saja. Tapi, ternyata pendirian Bryan berubah dan orang yang mampu mengubahnya bukan aku, tapi Laura. Bertahun-tahun aku berusaha untuk membuat dia mencintaiku, tapi dia tidak pernah memandangku lebih dari teman tapi mesra,” jelas Briza.
Mendengar cerita Briza, Felix merasa sedikit iba dengan gadis itu. Dia pun menarik Briza ke dalam pelukannya, mencoba untuk menenangkan gadis itu. Felix tidak menyangka kalau Briza melakukan semua hal ini karena dia sangat mencintai Bryan namun Bryan tidak pernah membalas cintanya.
“Briza, percayalah padaku kalau kau akan bertemu dengan pria yang mencintaimu jauh lebih besar dari apa yang pantas kau dapatkan.”
“Ya, semoga saja, Felix,” ucap Briza sambil tertawa renyah.
Tepat setelah itu, Briza tiba-tiba saja tidak sadarkan diri di dalam pelukan Felix.
__ADS_1
“Briza!” seru Felix dengan panik.
Untung saja saat ini dia sedang memeluk Briza sehingga gadis itu pingsan di dalam pelukannya bukan jatuh ke bawah jembatan sana.