
Melihat Laura berada dalam dekapan pria lain, hati Bryan seolah ditusuk oleh ribuan jarum tak kasat mata. Dadanya terasa sangat sesak setiap kali dia mengingat momen tersebut. Berulang kali Bryan mencoba untuk melupakan kejadian di depan Secret Garden yang dia saksikan tadi sore, namun berulang kali juga dia gagal dan malah merasa cemburu yang teramat dalam kepada Laura.
Munafik jika Bryan berkata dia baik-baik saja tanpa Laura di sisinya. Karena pada kenyataannya, Bryan merasa sangat merindukan gadis itu. Bryan yang awalnya tidak percaya dengan apa itu cinta dan komitmen kini perlahan justru mulai menyesali keputusannya karena sudah menyia-nyiakan Laura dan memilih untuk mempertahankan prinsipnya. Ya ... prinsip yang membuat dia berakhir kehilangan Laura.
Jika saja Bryan waktu itu tidak keras kepala dan egois, kemungkinan besar saat ini dia sedang bahagia dan memadu kasih dengan Laura. Namun, apa yang terjadi sudah tidak bisa diubah lagi. Ibarat kata nasi sudah menjadi bubur. Mau sebesar apa pun Bryan menyesalinya, dia tidak akan bisa mengubah apa yang telah terjadi antara dirinya dan Laura.
Malam itu, Bryan menghabiskan waktu di ruang VIP salah satu kelab malam ternama di Barcelona bersama teman-temannya. Dari tadi teman-temannya mengajak Bryan untuk mencari wanita saja sebagai teman bersenang-senang seperti apa yang biasa Bryan lakukan. Namun, Bryan justru malah memilih untuk diam dan mabuk saja. Pria itu bahkan tampak sangat menyedihkan karena dari tadi hanya minum sambil menatap layar ponselnya.
Ini sudah kesekian kalinya Bryan mencoba untuk menelepon Laura, namun panggilan itu tak pernah tersambung. Lagi pula bagaimana mungkin panggilan itu tersambung kalau Laura saja telah memblokir nomor Bryan?
__ADS_1
“Hugo, bisakah aku meminjam ponselmu? Ponselku mati dan aku butuh menelepon ibuku,” ucap Bryan kepada temannya, dia tidak mungkin berkata kalau dia hendak menelepon seorang wanita sebab nanti teman-temannya pasti akan menertawakannya.
“Ya, pakai saja ponselku,” ucap Hugo lalu memberikan ponselnya kepada Bryan.
Sesudah menerima ponsel Hugo, Bryan bangkit berdiri dan keluar dari ruang VIP. Sambil tergopoh-gopoh, Bryan berjalan menuju ke toilet yang berada di lantai dua. Toilet ini akan jauh lebih sepi dari di lantai satu jadi Bryan pikir lebih baik dia menelepon di sana saja.
Sementara itu, di sisi lain Laura baru saja hendak menutup matanya ketika dia mendapati sebuah panggilan dari nomor tidak dikenal. Gadis itu mengernyitkan dahi, namun tidak ambil pusing dan memilih untuk mengabaikan panggilan tersebut. Akan tetapi, panggilan itu tak berhenti sampai-sampai Laura merasa kesal dan akhirnya mengangkat panggilan tersebut.
“Laura, apakah semudah itu bagimu untuk melupakan aku?” racau Bryan yang tengah mabuk.
__ADS_1
Laura terkejut saat mendengar suara yang sangat familier itu, namun dia memilih untuk diam dan tidak membalas ucapan Bryan.
“Apakah kau tidak tahu kalau aku tersiksa karena tidak bisa bertemu denganmu? Aku tidak bisa melakukan ini semua, Laura. Aku cemburu saat aku melihatmu dengan pria lain. Tapi, aku bodoh karena aku membiarkanmu pergi. Aku ... Aku mencintaimu, Laura.”
Laura memejamkan matanya, berusaha untuk menahan diri supaya tidak langsung termakan oleh ucapan Bryan. Apalagi, dari nada bicaranya saja Laura tahu kalau saat ini Bryan mabuk. Itu artinya, bisa saja Bryan menyesali ucapannya besok setelah dia sadar.
“Bryan, kau sedang mabuk.”
“Laura, alkohol tidak ada artinya bagiku. Aku benar-benar mencin—”
__ADS_1
“Aku tidak ingin berbicara dengan orang mabuk. Ini semua tidak akan ada gunanya,” ucap Laura, memotong ucapan Bryan, kemudian mematikan sambungan telepon mereka.
Laura terdiam, memikirkan tentang ucapan Bryan. ‘Apakah benar apa yang barusan dia katakan? Atau semua itu hanya karena pengaruh alkohol saja?’ tanyanya dalam hati.