Penghangat Ranjang Casanova

Penghangat Ranjang Casanova
Mengikuti Cara Bermain Bryan


__ADS_3

“Kenapa kau diam saja?” tanya Bryan sambil mengusap-usap rambut Laura. Pria itu menyelipkan anak rambut Laura ke belakang telinga supaya bisa melihat wajah gadis itu lebih jelas.


Laura tersenyum, berusaha menyembunyikan rasa kecewa di hatinya. Gadis itu diam-diam menarik napasnya, berusaha untuk bersikap biasa saja di depan Bryan. Ia tidak mau pria itu berpikir kalau dia sakit hati dengan ucapan Bryan. Sebab Laura tidak mau terlihat lemah di depan Bryan.


“Ah, tidak. Aku hanya sedikit mengantuk,” jawab Laura asal.


“Ya sudah, kau tidur saja. Aku akan menemanimu,” ucap Bryan sambil tersenyum.


Kalau saja Bryan mengatakan itu tadi sebelum dia berkata kalau Laura tidak boleh berharap lebih padanya, mungkin Laura akan merasa senang. Tapi, sayangnya kini Laura sudah kebal dengan ucapan manis Bryan. Dia tidak akan meleleh begitu saja.


Laura bangkit duduk sambil menutup bagian tubuh depannya dengan selimut.


“Kau tidak perlu menemaniku. Aku sudah biasa melakukan segalanya sendiri,” balas Laura sambil tersenyum.


Bryan mengerutkan dahinya. “Apa maksudmu?” tanya Bryan. Entah kenapa Bryan merasa kalau Laura mengusirnya secara halus. Tak ingin menerka-nerka, pria itu lantas bertanya, “Apakah kau berniat untuk mengusirku?”


“Ah, tidak. Bukan begitu.” Laura menggelengkan kepala sambil tersenyum. “Tapi, memangnya di dunia ini ada teman ranjang yang bermalam bersama?”


Pertanyaan Laura membuat Bryan bingung bukan main. Sebelumnya Laura tidak pernah mempermasalahkan hal ini. Bryan pernah bermalam di apartemen Laura, dan Laura pun juga pernah bermalam di rumah Bryan. Jadi, dari mana asalnya gagasan tersebut?

__ADS_1


“Laura, kenapa kau tiba-tiba bersikap seperti ini?” tanya Bryan kebingungan. “Kita pernah bermalam bersama sebelumnya dan kau tidak mempermasalahkan hal itu.”


“Karena waktu itu aku masih belum mengerti tentang hubungan yang akan kita jalani. Dan karena sekarang aku sudah mengerti, aku ingin kita tidak perlu bermalam bersama,” ucap Laura dengan tegas.


Laura hanya ingin menghadapi Bryan dengan cara Bryan. Dia hanya akan menganggap kalau hubungan mereka hanya sebatas teman ranjang, tidak lebih dari  itu. Namun, sikap Laura yang seperti ini justru tidak disukai oleh Bryan. Meskipun Bryan memperlakukan Laura seperti teman ranjangnya yang lain, Bryan tetap ingin Laura memperlakukannya seperti sebelumnya.


“Kenapa kau jadi bersikap aneh seperti ini, Laura?” 


“Aku bersikap aneh? Aku hanya mengikuti caramu bermain, Bryan. Kau tidak ingin hubungan ini lebih dari teman ranjang, bukan? Jadi, aku hanya memperlakukanmu seperti bagaimana kau menginginkannya,” jelas Laura. Ya, Laura sudah memutuskan akan mengikuti permainan Bryan jika pada akhirnha tubuhnya selalu mengkhianati dirinya sendiri untuk terus menikmati sentuhan Bryan.


Bryan ternganga mendengar ucapan Laura. Pria itu lantas turun dari tempat tidur dan memakai pakaiannya. Dengan kesal pria itu pergi meninggalkan apartemen Laura tanpa mengatakan apa-apa kepada Laura. Sementara Laura hanya diam sambil menatap kepergian Bryan.


Meskipun begitu, dia tetap merasa kecewa saat dia sedang sendiri. Gadis itu berbaring di ranjangnya yang dingin sambil memeluk tubuhnya sendiri. Tanpa sadar air mata menetes di pipinya seiring dengan matanya yang terpejam. Tak lama setelahnya, dia mulai terlelap ke dalam alam mimpi.


Keesokan harinya, Laura menjalani hari seperti biasa. Bangun tidur, sarapan, lalu berangkat bekerja. Dia sama sekali tidak memikirkan Bryan sebab dia sudah meyakinkan hatinya untuk tidak perlu memikirkan tentang hal itu terlalu dalam.


“Pagi, Lola,” sapa Laura saat dia baru saja sampai di Secret Garden.


“Pagi, Laura,” balas Lola. “Kau tampak berbeda hari ini.”

__ADS_1


Laura menaikkan sebelah alisnya. “Benarkah?”


“Ya.” Lola menatap Laura dari ujung kepala hingga ke ujung kaki sambil tersenyum. “Kau terlihat lebih segar hari ini.”


Laura terkekeh sambil mengedikkan bahunya. “Entahlah. Aku lelah terlihat menyedihkan sepanjang waktu jadi aku memutuskan untuk lebih ceria hari ini,” balasnya.


Lola ikut tertawa. “Ini semangat yang aku suka,” ucap Lola. Saat teringat akan sesuatu, wanita itu berkata, “Oh, iya. Tadi, Reyna mencarimu.”


“Kalau begitu aku akan menemui Reyna dulu, Lola,” ucap Laura, pamit dengan Lola.


Laura lantas masuk ke dalam untuk menemui Reyna yang saat ini tengah mengambil persediaan bunga dari mesin pendingin. 


“Reyna, kata Lola kau mencariku?” tanya Laura.


Reyna mengangguk. “Malam ini ada film yang ingin aku tonton. Sebetulnya aku rencananya akan menonton dengan Dario, tapi tiba-tiba saja dia berkata kalau dia tidak bisa ikut menonton karena ada urusan. Maukah kau ikut denganku nanti malam? Aku sudah membeli tiket, sayang kalau tidak digunakan,” jelas Reyna.


Tanpa berpikir dua kali Laura langsung mengangguk setuju. “Oke. Nanti kita bertemu di bioskop langsung saja,” ucap Laura.


Reyna menarik Laura ke dalam dekapannya. “Terima kasih, Laura. Kau benar-benar teman terbaikku,” ucap Reyna, membuat Laura terkekeh geli.

__ADS_1


__ADS_2