Penghangat Ranjang Casanova

Penghangat Ranjang Casanova
Masih Perlu Waktu


__ADS_3

Laura menyikut punggung Bryan, meminta pria itu untuk membantunya menolak tawaran orang tua Bryan. Bagaimana mungkin Laura menerima tawaran orang tua Bryan kalau dia dan Bryan saja belum memiliki hubungan yang jelas. Lebih tepatnya, sih, Laura belum memutuskan akan membawa hubungan mereka ke mana. Dia belum bisa percaya pada Bryan seutuhnya saat ini.


“Ma, Pa, aku belum mengantuk. Lagi pula, sepertinya Laura tidak akan merasa nyaman jika dia harus menginap di rumah orang lain,” ucap Bryan sambil merangkul pundak Laura.


Mendapat perlakuan seperti itu dari Bryan membuat Laura terkejut. Namun, gadis itu memilih untuk diam dan pasrah saja. Dia akan terus mengikuti permainan Bryan sementara mereka berada di rumah orang tua Bryan.


Bryan mengedikkan bahunya. “Kalau aku, sih, terserah bagaimana keputusan Laura. Aku tidak akan memaksa Laura kalau dia ingin pulang,” balas Bryan sambil tersenyum tipis.


Jawaban Bryan tidak membantu sama sekali. Karena jawaban itu justru bagaikan bumerang untuk Laura. Bryan memberikan kesan seolah orang tua Bryan harus membujuk Laura kalau mereka memang ingin Laura tinggal di kediaman orang tuanya.


“Bagaimana, Laura? Kau mau menginap di sini, ‘kan?” tanya Deborah, mendesak Laura.


Laura menggigit bibir bawahnya, lalu mengangguk dengan pasrah. Melihat wajah Deborah yang tampak sangat menginginkan dia untuk tinggal, Laura jadi tidak enak kalau harus menolaknya.


Senyuman Deborah mengembang. “Terima kasih, Laura. Aku senang kau datang ke sini dan berkenalan dengan kami,” ujarnya seraya menepuk-nepuk punggung tangan Laura yang berada di meja selama beberapa kali.


“Kenapa Anda harus berterima kasih kepadaku?” balas Laura seraya mengernyitkan dahi, bingung.


“Bryan bukanlah tipe pria yang bisa setia dengan wanita, kami tahu tentang hal itu. Kami bahkan sampai sudah kehabisan akal untuk membujuk Bryan dan membuat dia tobat. Namun, setelah kehadiranmu di hidup Bryan, segalanya seolah berubah.” Deborah menatap sang suami. “Benar, ‘kan, Pa?”


“Benar, Ma,” balas Fabio, setuju dengan ucapan sang istri. “Kami benar-benar bersyukur karena kau sudah muncul di hidup Bryan dan membuat anak ini berubah.”


Ucapan orang tua Bryan membuat Laura tersipu malu. Gadis itu tidak menyangka kalau kehadirannya bisa sangat diterima oleh orang tua Bryan. Terlebih lagi, mereka bahkan memuji Laura dan berkata jika mereka bersyukur atas kehadiran Laura di hidup Bryan.


“Aku tidak melakukan apa-apa,” ucap Laura sambil menundukkan kepala. Gadis tersebut enggan menunjukkan wajahnya yang merah padam akibat rasa malu.


“Ah, jangan begitu. Kau berhasil membuat kami merasa tenang dan tidak perlu takut kalau-kalau Bryan akan terkena penyakit menular seksual karena kebiasaan bodohnya itu,” ucap Deborah secara terang-terangan.

__ADS_1


Memiliki putra yang sering berganti pasangan tentu membuat pasangan Fabio dan Deborah merasa khawatir dengan kondisi kesehatan Bryan.


“Aku harap kau tidak berselingkuh dari Laura dan membuat gadis ini menyesal karena sudah mau menerimamu, Bryan.” Kini giliran Fabio yang angkat bicara.


Bryan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Iya, iya. Aku tahu.” Pria itu menoleh ke arah Laura, lalu menggenggam tangan gadis tersebut. “Lagi pula mana mungkin aku mengkhianati Laura setelah aku bersusah payah untuk mendapatkan cinta Laura?”


Mendengar kalimat Bryan, Laura lantas menguap sebagai sindiran kalau dia belum sepenuhnya percaya dengan ucapan pria itu.


“Bryan, cepat antar Laura ke kamarmu. Kasihan dia sudah mengantuk,” perintah Fabio.


“Apakah benar tidak apa-apa kalau aku menginap di sini?” tanya Laura, malu-malu.


Fabio dan Deborah saling tatap. Setelah mendapat anggukan kepala dari sang suami, Deborah lantas menceritakan tentang hari di mana mereka memergoki Bryan dan Laura.


“Tidak perlu sungkan, Laura. Lagi pula, kami sudah melihat kalian tidur bersama,” ucap Deborah, membuat Laura dan Bryan sontak menatap wanita paruh baya tersebut dengan tatapan bingung.


“Sekitar satu setengah bulan yang lalu aku dan ayahmu pergi ke rumahmu untuk mencarimu karena kata sekretarismu kau tidak berangkat bekerja. Kami takut kalau kau kenapa-kenapa. Tapi, saat kami datang, kami melihat kalau kau sedang tidur pulas sambil memeluk Laura di kamarmu,” jelas Deborah.


“Aku tidak tahu kalau kalian datang waktu itu,” gumam Bryan.


“Tentu saja kau tidak tahu. Kami langsung pergi karena tidak mau mengganggu kalian,” ujar Fabio.


Ucapan Fabio dan Deborah membuat Laura semakin tersipu malu. Dia sama sekali tidak menyangka kalau dia dan Bryan akan dipergoki oleh orang tua Bryan saat mereka sedang tidur bersama.


“Sudah sana antarkan Laura ke kamar! Kasihan dia sudah mengantuk,” perintah Fabio.


Bryan menganggukkan kepala lalu menggandeng Laura menuju ke lantai dua, lebih tepatnya menuju ke kamarnya.

__ADS_1


Pria itu merasa sangat senang seban dia berpikir kalau Laura akhirnya bisa menerimanya kembali setelah dia mengenalkan Laura kepada orang tua dan para kerabatnya. Dia pikir, dia telah berhasil meyakinkan Laura kalau dia benar-benar serius dengan gadis itu.


Setidaknya keyakinan itu telah tertanam kuat di hati Bryan sampai mereka sudah masuk ke dalam kamar Bryan dan sifat Laura kembali berubah menjadi dingin dan menjaga jarak darinya.


“Kau tidur di sisi sana. Aku akan tidur di sisi sebelah sini,” ucap Laura sambil membangun tembok di tengah-tengah ranjang menggunakan beberapa bantal.


“Apa maksudmu?” tanya Bryan bingung. Bukankah Laura sudah kembali menerimanya? Lantas kenapa Laura ingin mereka berdua tidur sambil menjaga jarak?


Laura menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan menghembuskannya. “Bryan, maaf, aku belum bisa sepenuhnya menerimamu. Aku masih butuh waktu untuk melihat keseriusanku,” terang Laura.


Bryan memutuskan untuk duduk di tepi ranjang, di samping Laura. “Tapi, kenapa tadi kau seolah bisa menerimaku di depan semua orang?” tanyanya bingung, terheran-heran dengan perubahan sikap Laura.


“Aku tidak enak kalau aku menunjukkan sikap dinginku di depan orang tuamu. Mereka sepertinya sangat berharap kalau anaknya bukanlah seorang playboy yang suka berganti-ganti pasangan dan hanya menjadikan perempuan teman tidurnya saja,” cibir Laura, menyindir kelakuan Bryan yang menyebalkan itu.


Bryan terdiam, masih dibuat bingung dengan sikap Laura.


“Aku tidak mau membuat orang tuamu merasa kecewa atau sedih, Bryan,” ucapnya lagi.


“Laura, kenapa kau masih belum bisa menerimaku? Bukankah aku sudah membuktikan kalau aku serius denganmu malam ini?” tanya Bryan.


“Karena kau mengenalkanku dengan orang tuamu?” balas Laura. “Aku paham kalau ini mungkin adalah sebuah langkah besar untukmu. Tapi, aku masih belum bisa yakin kalau kau benar-benar serius denganku.”


Bryan mengusap wajahnya dengan frustrasi. “Katakan padaku apa yang harus aku lakukan supaya kau bisa percaya dengan keseriusanku padamu, Laura.”


Laura tersenyum tipis. “Biarkan waktu yang menjawab semuanya Bryan. Aku masih perlu waktu untuk melihat keseriusanku,” jelas Laura.


Bryan mengangguk-anggukkan kepala, mengerti dengan apa yang Laura maksudkan.

__ADS_1


__ADS_2