Penghangat Ranjang Casanova

Penghangat Ranjang Casanova
Berdebat


__ADS_3

Bryan mengerjapkan mata seiring dengan cahaya matahari yang mulai mengusik ketenangan tidurnya. Begitu ia membuka mata, pandangannya beredar ke seluruh penjuru ruangan. Menyadari jika ia tidak terbangun di kamarnya, Bryan kemudian melompat berdiri. Pria itu menelan salivanya saat menyadari jika dia terbangun dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya.


‘Sial! Apa yang terjadi tadi malam?’ gerutu Bryan dalam hati sambil memunguti pakaiannya yang tercecer di lantai. Pria itu lantas mengenakan pakaiannya kembali dan melangkahkan kakinya menuju ke luar kamar. Dia harus segera meminta penjelasan dari Briza mengenai apa yang terjadi di antara mereka berdua tadi malam. Jangan sampai ketakutannya benar-benar terjadi.


Ketika keluar kamar, Bryan mendapati Briza tengah membuat kopi di dapur. Ia pun menghampiri gadis itu untuk menuntut sebuah penjelasan.


“Briza,” panggil Bryan.


Briza mengangkat kepalanya, lalu tersenyum lebar. “Bryan, kau sudah bangun? Apakah kau mau segelas kopi?” tanyanya dengan suara riang gembira.


“Apa yang terjadi tadi malam? Kenapa aku bisa bangun di tempat tidurmu?” tanya Bryan tanpa basa-basi lagi. Meskipun dia sudah tahu jawabannya, dia tetap saja merasa kalau dia ingin mendengar pengakuan dari mulut Briza sendiri.


“Memangnya apa yang terjadi tadi malam?” tanya Briza sembari mengaduk-aduk secangkir kopinya. “Kita hanya melakukan apa yang biasa kita lakukan,” sambung gadis itu acuh tak acuh.


“Briza, kali ini kau benar-benar keterlaluan. Kau tahu aku sudah memiliki kekasih dan—”


“Dan apa? Biasanya kau juga tetap meniduriku meskipun kau sedang menjalin hubungan dengan orang lain. Aku tidak melihat di mana letak permasalahannya,” ucap Briza, memotong ucapan Bryan.

__ADS_1


“Kau tahu betul kalau hubunganku kali ini berbeda. Aku tidak menjalin hubungan yang sama seperti yang aku miliki dengan gadis-gadis lain. Aku benar-benar menjalani hubunganku dengan Laura dengan serius,” jelas Bryan, masih mencoba memberikan pengertian kepada Laura meskipun sejujurnya dia sudah sangat kesal dengan sikap gadis itu.


Briza mendengus keras. Gadis itu meletakkan secangkir kopinya di atas meja dapur kemudian melipat tangannya di depan dada.


“Mau seserius apa pun hubunganmu dengan Laura, aku tahu jika pada akhirnya kau akan kembali datang padaku di saat kau membutuhkan gadis selain dia. Kau tidak ingat jika kau juga tetap meniduriku saat kau dulu pertama kali berhubungan dengan Laura?”


Bryan mengerutkan kening. Ia sama sekali tidak menyangka jika kalimat itu bisa keluar dari bibir gadis itu. Memang benar jika dia dulu selalu kembali pada Briza setiap kali dia bosan dengan mantan-mantan pacarnya. Tapi, kali ini dia sudah berkomitmen untuk menjalani hubungan yang serius dengan Laura. Dia tidak akan merusak komitmen tersebut begitu saja.


“Kali ini kau benar-benar keterlaluan dan tidak tahu batasan,” ucap Bryan dengan nada suara yang agak ditinggikan.


“Memangnya kenapa, sih, Bryan? Aku tidak mengerti kenapa kau bisa semarah ini padahal selama ini kau tidak pernah mempermasalahkan hal ini. Oh, dan jangan lupa kalau tadi malam kau sendiri yang datang ke sini,” ucap Briza dengan nada sarkasme.


“Aku ingin kau menjaga jarak dariku sebab aku saat ini sedang menjalin hubungan yang serius dengan Laura. Semalam aku datang untuk memintamu menjaga sikap,” jelas Bryan.


“Tidak bisa seperti itu, Bryan! Apakah kau lupa kalau semalam ini aku adalah orang yang ada untukmu?” protes Briza.


Bryan berdecih. ‘Lihat? Bahkan Briza tak terlihat seperti orang sakit saat ini. Apakah kemarin dia bohong juga?’ batin Bryan.

__ADS_1


“Kenapa aku bisa tidur di sini? Semalam kau pasti membuat aku mabuk atau memberikan obat perangsang di minumanku, ‘kan?” tuding Bryan.


“T-tidak! Untuk apa aku melakukan hal itu,” sanggah Briza sambil tergagap.


Meskipun Briza tidak mengaku, Bryan sudah tahu jawabannya. Ia sudah tahu kalau tebakannya benar.


“Briza, aku ingin mengakhiri hubungan tidak jelas kita. Aku juga ingin kau menjauh dariku dan jangan mengusik hubunganku dengan Laura,” ucap Bryan.


“Apa? Tidak, aku tidak setuju!” protes Briza.


“Aku tidak meminta pendapatmu. Aku yang memutuskan semua ini,” ucap Bryan lalu membalik badannya. “Selamat tinggal.”


Bryan pun lantas melangkah menjauh dari Briza, ingin segera pulang. Hal tersebut rupanya membuat Briza kesal hingga gadis itu berteriak kencang.


“Hanya aku wanita yang selalu ada dan akan menjadi tempat untukmu pulang!” seru Briza.


Bryan mendengar hal tersebut namun tetap memilih untuk pergi dari sana.

__ADS_1


Sementara dia sisi lain, Briza mengeluarkan ponselnya dan menyeringai licik sambil menatap foto yang ada di ponselnya.


__ADS_2