
Sebelum jam pulang bekerja, seperti biasa Laura akan membereskan bunga-bunga yang belum sempat terpakai. Gadis itu memasukkan bunga-bunga ke dalam pot berisi air lalu memasukkannya ke dalam lemari pendingin khusus supaya bunga-bunga itu tidak layu dan besok dapat digunakan. Sisa-sisa bunga hari ini biasanya besok akan dipajang di depan toko bunga. Tapi, jika besok bunganya layu, maka mereka akan langsung membuangnya.
Laura membereskan meja kerjanya sambil bersenandung riang. Setelah beres dengan bunga-bunga tersebut, Laura pergi untuk mengambil beberapa kertas buket dan memotongnya menjadi beberapa bagian untuk mempermudah pekerjaan mereka besok. Bekerja di sebuah tokoh bunga paling besar di Barcelona menuntut mereka untuk melakukan pekerjaan secara cepat dan tepat. Pesanan bunga yang melimpah membuat mereka harus mempersiapkan hari esok dari hari sebelumnya. Itulah yang dilakukan oleh Laura dan beberapa pegawai sebelum pulang bekerja.
Ketika sedang sibuk melakukan pekerjaannya, suara derap langkah kaki yang terdengar mendekat membuat Laura mengangkat kepalanya. Gadis itu tersenyum saat mendapati Lola berjalan menghampirinya.
“Laura, ada seseorang yang sudah menunggumu di depan dari satu jam lalu. Sekarang sudah jam pulang bekerja, kalau kau mau pulang sekarang aku tidak masalah,” celoteh Lola, memberitahu tentang seseorang yang dari tadi berdiri di depan pintu Secret Garden.
Dahi Laura berkerut samar mendengarnya. ‘Siapa yang mencariku? Apakah jangan-jangan ... Bryan? Tapi, untuk apa dia menemuiku lagi?’ tanya Laura dalam hati.
“Aku masih harus menyelesaikan ini sebelum pulang, Lola,” balas Laura sambil tersenyum dengan senyuman yang dipaksakan. Ia sengaja tidak mau keluar sekarang sebab dia yakin sekali kalau yang sedang menunggunya di depan adalah Bryan. Selama ini yang sering menemuinya di Secret Garden adalah Bryan jadi tidak heran kalau Laura langsung menebak jika Bryan lah yang berdiri di depan sana.
“Jika kau berusaha untuk menghindar dari orang yang menunggumu karena kau masih tidak mau menemui Bryan, kau jangan khawatir. Pria itu bukan Bryan,” celetuk Lola sambil terkekeh.
__ADS_1
Bagaimana pun juga Lola pernah muda. Jadi, dia bisa menebak gelagat yang sedang Laura tunjukkan saat ini. Sebab Lola percaya, tidak ada orang yang benar-benar ingin bertemu dengan mantan kekasihnya, bukan?
Pernyataan Lola sontak membuat Laura semakin bingung. Jika bukan Bryan, maka siapa yang menunggunya di depan sana?
"Bukan dia?" tanya Laura pelan yang ditanggapi Lola dengan menggelengkan kepalanya.
“Siapa memangnya yang menungguku?” tanya Laura. Sebab dia berpikir kalau Dario mustahil menunggunya di depan sana.
Lola mengedikkan bahunya. “Entah, aku juga tidak mengenali pria itu,” jawabnya santai.
"Aku serius. Aku tidak mengenalinya, yang aku tahu dia tampan." Lola tertawa pelan mengatakannya.
“Baiklah, nanti aku akan segera menemuinya,” ucap Laura.
__ADS_1
Lola pun tersenyum dan pergi meninggalkannya. Sementara Laura dibuat bertanya-tanya mengenai siapakah pria itu dan kenapa pria itu menunggunya? Karena tak mau dibuat pusing dengan rasa penasaran, Laura pun segera menyelesaikan pekerjaannya supaya dia bisa segera mengetahui siapa yang sudah menunggunya selama satu jam itu.
Selesai dengan pekerjaannya, Laura bergegas untuk berpamitan dengan Lola. Ketika hendak berjalan keluar dari Secret Garden, langkah Laura terhenti tepat di ambang pintu. Gadis itu menatap bingung pada sosok pria yang sedang berdiri memunggunginya dan tampak sedang berbincang-bincang melalui telepon.
Siapa dia? Batin Laura.
“Baiklah, aku akan menyampaikan salam kalian kepada Laura,” ucap pria itu sebelum membalik tubuhnya dan mematikan panggilan tersebut.
Mata Laura membulat sempurna, napasnya tercekat saat dia melihat wajah orang itu. Gadis itu terkejut bukan main karena dia tidak menyangka kalau dia akan bertemu dengan pria itu lagi. Pria itu adalah Felix, seseorang yang dulu dijodohkan dengannya. Laura bingung kenapa pria itu bisa berdiri di hadapannya dan tahu di mana dia bekerja padahal dia sudah susah payah kabur dari kota tempat tinggalnya untuk memulai kehidupan baru di Barcelona.
Perasaan Laura menjadi campur aduk kala mengingat bagaimana kedua orang tuanya begitu kekeh memaksa Laura untuk menikahi Felix saat itu, membuat Laura selalu berusaha mencari cara menghindar dari pria tersebut. Sekarang pria itu ada di hadapannya dikehidupan baru yang baru saja Laura mulai.
“Felix?” ucap Laura tak percaya.
__ADS_1
“Laura ....” Felix yang melihat Laura tersenyum lebar lalu sontak saja mendekat memeluk gadis itu. “Akhirnya kita bisa bertemu kembali. Aku sangat merindukanmu,” ucapnya senang.