
Tangis Laura pecah setelah Bryan pergi meninggalkannya. Tak ada sedikit pun niat pria itu untuk memperjuangkan hubungan mereka dan itu membuat Laura semakin kecewa pada Bryan. Sikap Bryan yang pergi dan dengan mudah setuju berpisah darinya membuat Laura semakin berpikir jika Bryan memang tidak menaruh perasaan sebesar yang Laura miliki untuknya.
Laura tertawa disela tangisnya, tawa kesedihan atas kebodohannya. "Kau lihat Laura! Bahkan dia dengan mudah pergi tanpa mempertimbangkan untuk mempertahankanmu, kau begitu sangat tidak beartinya untuk Bryan. Jadi, lupakan dia!" ucap Laura pada dirinya sendiri.
Berbeda dengan Laura yang menghabiskan malamnya dengan air mata. Bryan justru menghabiskan malamnya dengan kesenangan. Ya, saat ino pria yang menjadi alasan dibalik tangis Laura tengah menikmati hiburan di sebuah tempat hiburan malam ternama yang ada di sana.
"Ada apa denganmu?" tanya seorang wanita yang sejak tadi duduk bersamanya.
Wanita itu bernama Briza. Tak ada yang tak mengenal model cantik yang menjadi teman dekat Bryan tersebut. Wanita yang dikenal banyak orang sebagai teman baik Bryan, ya, hanya sebatas teman, tetapi tak ada yang tahu hubungan seperti apa dibalik pertemanan tak biasa keduanya.
"Dia pikir aku akan memintanya bertahan? Tidak sama sekali. Siapa dia berpikir seperti itu?" racau Bryan.
"Apa ini karenaku?" tanya Briza lagi merebut minuman yang ada di tangan Bryan.
"Dia melihat saat kita berdua di mall kemarin, dia bilang aku selingkuh. Siapa dia ingin mengatur hidupku? Siapa pun yang bersamaku itu bukan urusannya. Bukankah aku sudah mengatakan sejak awal padanya? Lalu kenapa dia harus keberatan dengan sikapku?" ucap Bryan membuat Briza seketika mengerti apa yang telah terjadi.
Terbesit rasa cemburu di hati Briza melihat Bryan untuk pertama kalinya terusik akan sikap seorang wanita. Selama mengenal Bryan, tak pernah sekali pun Bryan memikirkan tentang wanita, apalagi terpuruk hanya karena seorang wanita seperti yang sekarang terlihat.
"Siapa sebenarnya wanita itu? Kau menyukainya? Apa dia lebih cantik dariku?" tanya Briza kesal.
"Dia sangat cantik–"
__ADS_1
Disisa kesadarannya, Bryan terus menyebutkan kekagumannya pada sosok Laura, membuat Briza semakin kesal dan penasaran seperti apa Laura, terlebih ucapan orang yang sedang mabuk bisa dikatakan jujur, benar adanya.
***
“Laura, apakah semua pesanan bunganya sudah siap?” seru Lola yang saat ini tengah memeriksa pesanan buket bunga yang akan segera dikirim. Dia ingin memastikan sekali lagi sebelum Laura mengantar pesanan sebab dia takut kalau ada pesanan yang terlupakan.
“Kurang satu lagi, Lola. Sebentar lagi selesai,” balas Laura sambil mengikat buket bunga dengan pita berwarna putih gading. Setelah selesai, Laura membawa buket bunga itu menuju ke mobil pick-up yang akan dia gunakan untuk mengantar pesanan bunga.
“Ingat baik-baik, Laura. Pesanan buket bunga tulip ini harus kau kirim pertama karena buket ini harus sudah sampai sebelum jam makan siang,” ucap Lola, mengingatkan Laura.
Laura memberikan tanda siap kepada Lola dengan melempar tangannya ke udara. “Siap, Bos!” serunya penuh semangat. “Aku berangkat dulu.”
“Hati-hati di jalan, Laura,” pesan Lola yang dibalas Laura dengan anggukan kepala saja. Satu menit kemudian, Laura pun melajukan mobil pick-up menuju ke alamat yang telah diberikan oleh Lola tadi.
Perkenalan Laura dan Bryan bisa terbilang cukup singkat. Hubungan yang terjalin di antara mereka berdua juga tidak berlangsung lama. Jadi, Laura bersikap seolah dia tidak benar-benar mengalami hal tersebut. Tentu saja Laura harus membohongi perasaannya supaya dia tidak terus-menerus bersedih akibat perpisahannya dengan Bryan.
Memang betul kalau Laura dan Bryan belum menjalin hubungan lama. Namun, tetap saja Laura merasa kehilangan Bryan. Apalagi, setelah pengalaman-pengalaman yang Bryan berikan kepada Laura. Dari segala yang pahit, Laura paling mengingat pengalaman manis yang pernah mereka lalui bersama, meskipun tidak banyak tentu saja.
‘Bryan pasti sudah melupakan aku karena banyak wanita yang mengantre untuk bisa bersama dengannya. Aku harus bisa melupakan dia juga.’
Kalimat itulah yang selalu terngiang-ngiang di kepala Laura setiap kali dia kembali mengingat Bryan. Namun, melupakan Bryan tidaklah mudah bagi Laura. Terlebih lagi, dia selalu melihat wajah Bryan di Billboard atau pun koran. Sebagai pengusaha muda yang sukses, tidak jarang Laura juga mendengar orang-orang membicarakan tentang Bryan.
__ADS_1
Laura menghentikan mobilnya di depan sebuah gedung bertingkat tempat kekasih dari pelanggan Secret Garden bekerja. Dia lantas mengambil buket bunga tulip dan membawanya masuk menuju lobi.
“Halo, selamat siang. Apakah ada yang bisa kami bantu?” sapa seorang resepsionis.
“Ada buket bunga untuk Camilla Rodrigo, dia salah satu pegawai di sini,” jelas Laura sambil memberikan buket bunga itu kepada resepsionis.
Di sisi lain, Bryan baru saja keluar dari ruang rapat ketika dia tidak sengaja melihat seseorang yang sangat dia kenali berdiri di depan resepsionis. Ya, bunga yang dikirimkan oleh Laura merupakan pesanan untuk salah satu pegawai di kantor Bryan. Laura tentu tidak tahu kalau kantor ini adalah kantor Bryan karena dia memang belum pernah menginjakkan kaki di sana sebelumnya.
Bryan terkejut saat melihat Laura. Dia tidak menyangka kalau dia akhirnya bisa melihat wajah Laura lagi setelah satu bulan mereka tidak bertemu. Setelah malam itu, Bryan tidak pernah menemui Laura lagi. Karena baginya, hubungan mereka sudah berakhir dan dia tidak boleh menemui Laura lagi.
Tapi, bohong jika Bryan berkata kalau dia tidak merindukan Laura. Sebab setiap harinya, dia selalu mati-matian berusaha untuk tidak mengendarai mobilnya menuju ke apartemen Laura atau ke Secret Garden. Dia selalu berusaha untuk mengubur dalam-dalam kerinduannya terhadap Laura sebab dia terus berpikir kalau dia tidak akan pernah bertemu dengan Laura lagi.
“Pak, jadwal Anda—”
“Sebentar,” ucap Bryan, memotong kalimat sekretarisnya.
Bryan lantas melangkahkan kakinya menuju ke resepsionis seiring dengan Laura yang mulai berjalan keluar dari gedung kantornya. Pria itu mempercepat langkahnya namun sayang sekali Laura sudah terlebih dahulu melajukan mobil pick-up-nya saat Bryan tiba di lobi.
‘Kenapa aku jadi begini? Apakah mungkin aku masih menginginkan Laura?’ tanya Bryan dalam hati.
Seharian itu, Bryan tidak bisa menyingkirkan Laura dari kepalanya sama sekali. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menemui Laura sepulang bekerja.
__ADS_1
***
Hai semuanya. Terima kasih untuk semua yang sudah mengikuti cerita ini. Maaf jika masih banyak kesalahan dalam penulisan maupun alur yang mungkin kurang menarik menurut kalian. Aku minta dukungannya selalu ya kak, agar semakin semangat nerusin cerita ini. Like, komen, vote, hadiah dan segala bentuk dukungan dari kalian sangat bearti sebagai penyemangatku. Terima kasih semuanya, semoga sehat selalu. 🙏