Penghangat Ranjang Casanova

Penghangat Ranjang Casanova
Mabuk


__ADS_3

Gadis itu menatap pantulan dirinya di depan cermin, kemudian memukul cermin tersebut hingga retak. Darah segar sontak saja keluar dari buku-buku jarinya. Akan tetapi, gadis itu saat ini terlalu mati rasa sampai-sampai dia tidak bisa merasakan rasa sakit sedikit pun.


“Argh!!!”


Lagi-lagi Briza berteriak sambil mengobrak-abrik barang-barangnya. Kini, kondisi apartemennya benar-benar seperti kapal pecah. Barang-barang banyak yang berserakan dan bahkan hancur di lantai.


Sepulang dari makan malam, dia langsung ke apartemennya dan mengamuk. Dia marah karena kini dia seolah sudah tidak punya kesempatan untuk bersama Bryan lagi. Selain itu dia juga marah karena dia merasa kalau Felix berusaha menjebaknya dengan mempertemukan dirinya dengan Laura dan Bryan. Ditambah lagi pria itu juga mengenalkannya sebagai teman kencan.


Sementara itu, di sisi lain Felix dan Bryan sedang menertawakan keberhasilan rencana Felix. Dua pria itu seolah baru saja memenangkan sebuah permainan saat mereka melihat wajah kesal Briza. Tapi, hal itu tidak terjadi dengan Laura. Sebab Laura justru tak bisa berhenti memikirkan Briza dan berpikir kalau rencana mereka rupanya bukanlah hal yang benar.


“Felix, apakah kau tidak mau pergi menyusul Briza?” tanya Laura.


Felix menghentikan tawanya. Dia kemudian menoleh ke arah Laura. “Untuk apa aku menyusul Briza? Dia pasti saat ini sedang menangis di apartemennya karena kini dia tahu kalau dia sudah tidak akan bisa merebut Bryan lagi darimu,” balas Felix cuek.


“Justru karena itu aku khawatir dengan Briza,” ucap Laura.


Bryan mengerutkan dahinya. “Untuk apa kau mengkhawatirkan Briza? Bukankah dia sudah melakukan sesuatu yang menyakitimu?”


“Tetap saja aku merasa khawatir.” Laura menghela napasnya. “Felix, tolong temui Briza. Kalau pun kau tidak mau melakukannya untuk Briza, lakukanlah untuk diriku,” pinta Laura.

__ADS_1


“Baiklah, aku akan pergi menyusul Briza,” ucap Felix pada akhirnya. Pria itu terpaksa pergi menyusul Briza saat dia melihat bagaimana Laura sangat mengkhawatirkan Briza.


Setelah mengatakan hal tersebut Felix pun bergegas pergi menuju ke apartemen Briza sebab satu-satunya tempat yang ada di pikiran Felix adalah apartemen Briza. 


Setibanya di apartemen Briza, pria itu menekan bel berulang kali. Sudah hampir setengah jam dia berada di sana namun tidak kunjung ada jawaban dari Briza. Pria itu pun memutuskan untuk menelepon Briza sebab kini tiba-tiba saja dia ikutan merasa khawatir.


“Halo?” sapa Briza dengan suara yang tak terdengar jelas sebab ada banyak sekali suara di sekitarnya, belum lagi suara musik yang begitu keras juga membuat Felix kesulitan untuk mendengar suara Briza.


“Briza, kau ada di mana sekarang?” tanya Felix.


“Di mana, ya?” Briza bertanya balik kemudian tertawa terbahak-bahak. “Memangnya apa pedulimu tentang itu? Bukankah kalian semua sudah senang karena berhasil menertawakan aku?”


“Sudahlah, tidak usah sok peduli. Lebih baik kau kembali menikmati makan malammu itu. Byeee!!” seru Briza kemudian mematikan sambungan telepon mereka secara sepihak.


Lagi-lagi Felix berdecak pelan. Pria itu kemudian mencari tahu kelab malam mana yang biasa didatangi oleh Briza melalui internet. Setelah mendapatkan beberapa nama kelab malam, dia memutuskan untuk mendatangi di satu kelab malam yang jaraknya paling dekat dengan apartemen Briza.


Aroma alkohol dan rokok yang bercampur menjadi satu menyambut kedatangan Felix di kelab malam tersebut. Baru saja ia melangkah masuk, matanya membulat sempurna saat dia melihat jika Briza sedang dikelilingi banyak orang yang merekamnya sebab saat ini Briza sedang bertengkar dengan seorang wanita. Sebab Briza adalah model terkenal, orang-orang berlomba-lomba untuk merekam kejadian itu dan ingin mempostingnya di media sosial mereka.


Felix berjalan menembus kerumunan tersebut kemudian menarik Briza ke dalam dekapannya dan meminta maaf kepada wanita yang berseteru dengan Briza.

__ADS_1


“Maaf, Nona. Biarkan aku mengganti minumanmu yang tidak sengaja ditumpahkan oleh kekasihku,” ujar Felix kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang. “Apakah ini cukup?”


“Oke, cukup.”


Mendengar jawaban itu, Felix lantas berseru pada orang-orang yang merekam kejadian itu. “Dan untuk kalian semua, cepat hapus video itu atau aku akan melaporkan hal ini kepada polisi karena kalian sudah merekam orang asing tanpa izin!” seru Felix dengan tegas.


Orang-orang menyorakinya kemudian bubar jalan dan kembali melanjutkan aktivitas mereka. Barulah setelah itu Felix menarik tangan Briza dan membawa Briza pergi dari kelab malam itu.


“Kenapa kau menolongku?” tanya Briza.


Felix hanya diam. Dia juga tidak tahu kenapa dia melakukannya.


Mobil Felix terus melaju, dan saat mereka melintas di sebuah jembatan, tiba-tiba saja Briza meminta Felix untuk menghentikan mobilnya.


“Hentikan mobilnya!” perintah Briza.


Begitu Felix  menghentikan mobilnya, gadis itu pun keluar dari mobil dan berjalan menuju ke pagar jembatan.


“Hei, kau mau apa?!” seru Felix dari dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2