
'Tadi malam adalah malam yang gila.'
Kalimat itulah yang pertama kali muncul di kepala Felix ketika dia baru saja membuka matanya. Tadi malam, setelah berhasil menjerat Briza, pria itu benar-benar melakukan permainan gila dengan Briza. Mereka melakukan permainan panas itu sampai beberapa ronde hingga akhirnya mereka terbaring tak berdaya di ranjang karena kehabisan energi. Felix yang sudah lama tidak melakukan aktivitas di ranjang benar-benar terkejut sebab Briza bisa mengimbangi permainannya padahal Felix termasuk pria yang sukar untuk mendapatkan sebuah kepuasan.
Felix menoleh ke samping, mendapati Briza yang saat ini masih terlelap di sisi tempat tidur. Wajah gadis itu tampak sangat damai ketika sedang tidur nyenyak seperti itu. Berbeda sekali kalau dia sudah bangun sebab gadis itu cerewet bukan main. Felix saja kadang sampai kewalahan untuk mencari topik pembicaraan atau sekadar untuk membalas pertanyaan-pertanyaan dari Briza.
‘Dia terlihat lebih cantik kalau sedang tertidur pulas seperti ini,’ gumam Felix dalam hati.
Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Merasa kalau tubuhnya sangat lengket akibat percintaan panas mereka tadi malam, Felix pun memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu sembari menunggu Briza bangun tidur.
Secara perlahan Felix menyingkirkan tangan Briza yang memeluk tubuhnya dan meletakkannya di tempat tidur. Setelahnya, Felix hendak menggulingkan tubuhnya ke tepian tempat tidur untuk bangkit dari tempat tidur namun tangan Briza kembali memeluk tubuhnya.
‘Sial, kenapa dia memelukku lagi?’ tanya Felix dalam hati.
Pria itu kembali berusaha untuk menyingkirkan tangan Briza dari tubuhnya. Akan tetapi, kali ini Briza justru menempelkan tubuhnya pada tubuh Felix. Gadis itu bahkan tampak memeluk Felix dengan sangat manja. Sesekali juga Briza tampak mengecup punggung Felix, membuat Felix merinding dibuatnya.
“Jangan pergi, aku masih ingin memelukmu,” ucap Briza dengan manja. Gadis itu mengeratkan pelukannya kepada Felix, membuat Felix mau tak mau diam di tempatnya. “Kau tahu, kau adalah pria yang sangat hebat di ranjang.”
Pujian yang keluar dari bibir Briza membuat Felix sontak saja menolehkan kepalanya. Pria itu membalik tubuhnya hingga kini dia terbaring berhadapan dengan Briza. Briza masih tampak memejamkan matanya, membuat Felix berpikir kalau Briza hanya mengigau saja.
__ADS_1
“Kau mengigau, ya?” gumam Felix.
Berbeda dengan apa yang dia pikirkan, rupanya Briza tidak sedang mengigau. Gadis itu memejamkan matanya sebab dia masih malas untuk bangun dari tempat tidur, bukan karena dia masih tertidur. Briza pun terkekeh kecil kemudian perlahan membuka matanya.
“Aku serius dengan ucapanku,” ucap Briza, mengejutkan Felix.
“Memangnya pria-pria lain tidak bisa memuaskan dirimu di ranjang?” tanya Felix sambil menyipitkan matanya. Penasaran apakah Briza akan menjawab dengan jujur atau tidak.
Briza mengedikkan bahunya. “Aku bekerja sebagai seorang model dan banyak sekali pria yang ingin mendekatiku. Dari beberapa pria yang pernah tidur denganku, tidak ada yang sehebat dirimu di ranjang,” pujinya lagi.
“Benarkah?”
Felix memutar bola matanya. Dia tahu siapa pria pertama yang dimaksud oleh Briza. Pria itu pastinya adalah Bryan. Sebagai seorang pria, kadang jika dibanding-bandingkan dengan pria lain mengenai urusan permainan ranjang maka akan membuatnya kesal. Felix merasa kesal bukan berarti dia merasa cemburu, tapi itu artinya dia merasa kurang hebat.
“Tapi, sejauh ini kau memang yang paling hebat,” ujar Briza lagi.
“Sudah, tidak usah membual.”
“Aku serius. Haruskah kita membuktikannya lagi?” ucap Briza kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Felix dan menyambar bibir pria itu. “Satu permainan lagi tidak akan membuatmu kelelahan, bukan?”
__ADS_1
Feli terkekeh geli. “Briza, aku pasti akan menyanggupi mau seberapa banyak ronde yang kau inginkan. Tapi, sayangnya tadi adikku mengirimkan pesan singkat dan berkata jika dia sudah menungguku. Jadi, aku harus pulang sekarang,” jelas Felix.
Ucapan Felix membuat Briza agaknya kecewa. “Apakah adikmu tidak bisa menunggu sebentar saja?” tanya Briza sambil mencebikkan bibirnya.
Felix terkekeh geli, kemudian menarik dagu Briza dan mengusap-usap bibir gadis itu dengan jempol tangannya.
“Kau tahu betapa aku ingin ******* bibir ini lagi dan membuatmu bergairah seperti tadi malam? Aku benar-benar ingin melakukannya,” ucap Felix, pura-pura tertarik dengan Briza.
“Lantas, apa lagi yang kau tunggu?” tanya Briza.
Felix terkekeh. “Jika kau tahu semua permainan ranjangku, nanti kau tidak akan penasaran lagi denganku. Aku ingin bertemu denganmu lagi setelah ini. Selain itu ... seperti yang sudah aku katakan, adikku sudah menunggu,” jelas Felix.
“Bisakah aku bertemu dengan adikmu?” tanya Briza.
“Apakah kau benar-benar ingin berkenalan dengan dia?”
“Ya. Kenapa tidak?”
Felix menganggukkan kepala. “Baiklah, aku akan mempertemukan kalian nanti.”
__ADS_1