
Gadis itu hanya bisa diam dan pasrah saja ketika tangan pria yang telah ia hindari beberapa hari belakangan itu menariknya pergi dari restoran. Dia terlalu syok dengan apa yang diucapkan Bryan sampai-sampai dia lupa untuk berpamitan kepada Reyna, Dario, dan Felix. Ah, jangankan berpamitan, gadis itu saja lupa bagaimana caranya untuk bereaksi dan protes atas perlakuan semena-mena dari pria itu.
Setelah Bryan menyuruhnya masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya, barulah Laura benar-benar berhasil mencerna apa yang sesungguhnya terjadi dengan dirinya saat ini. Gadis itu tersentak dari kepasrahannya, lalu menoleh dan menatap tajam kepada Bryan yang saat ini tengah berpikir jika Laura sudah tidak akan menghindarinya lagi.
“Bryan, apa yang kau lakukan?” tanya Laura dengan nada ketus.
Bryan menoleh sekilas kepada Laura, lalu kembali menatap fokus pada jalanan di depannya. “Apanya yang apa?”
“Kau. Kenapa kau seenak hati membawaku pergi dari restoran?” protes Laura. Jangan Bryan pikir karena Laura diam saja artinya gadis itu setuju dengan apa yang dia lakukan.
“Kenapa baru protes sekarang? Tadi saja kau diam ketika aku membawamu pergi,” balas Bryan yang tidak mau kalah.
Laura mengernyit tajam. “Apakah kau tidak pernah mendengar sesuatu yang bernama tonic mobility? Keadaan di mana seseorang lupa caranya bereaksi karena diperlakukan tanpa consent mereka secara tiba-tiba oleh seseorang,” jabar Laura, mencari alasan tentang reaksi yang telah dia berikan.
“Dasar banyak alasan,” cibir Bryan sambil terkekeh geli.
Gadis itu menatap Bryan dengan tatapan jengkel. Dia paling tidak suka kalau diperlakukan seenaknya. Apalagi jika orang yang memperlakukannya seenak hati adalah Bryan.
Akan tetapi, kalau dipikir-pikir lagi, Laura justru berpikir jika Bryan pasti tidak akan mau berhenti untuk mendekatinya. Terlebih lagi, jika Laura memperlakukan pria itu dengan cara dingin. Pasti hal tersebut malah membuat adrenalin Bryan semakin tertantang untuk mendekati gadis itu dan pria itu akan semakin enggan untuk menjauh darinya.
Laura menghela napas panjang. Untuk menghadapi Bryan, dia butuh ketenangan supaya dia tidak berakhir masuk ke rumah sakit karena tekanan darah yang begitu tinggi.
“Apa yang sebenarnya kau inginkan, Bryan?” tanya Laura, lelah dengan apa yang dilakukan oleh Bryan.
“Apakah apa yang aku katakan beberapa hari terakhir ini masih belum jelas untukmu, Laura?” Bryan menepikan mobilnya di jalanan yang tidak terlalu ramai. Dia tidak akan bisa berkonsentrasi untuk menyetir kalau dia akan berbicara serius dengan Laura.
__ADS_1
Laura yang menyadari kalau Bryan menghentikan mobilnya langsung bergegas meraih pintu untuk membukanya. Namun, secara cekatan Bryan terlebih dahulu menekan tombol untuk mengunci pintu mobilnya jadi Laura tidak bisa kabur darinya.
“Seriously, Bryan?” tanya Laura sambil berusaha membuka pintu namun selalu saja gagal. Gadis itu menatap Bryan kesal sambil menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan apa yang Bryan lakukan.
“Yes, seriously, Laura,” balas Bryan tanpa rasa bersalah.
Laura mendengus keras, lalu menyandarkan kepalanya ke sandaran jok mobil dengan pasrah. Dia tidak menyangka kalau dia benar-benar akan berakhir dengan terjebak dalam satu ruangan yang sama dengan Bryan lagi.
“Bryan, hentikan permainan ini dan biarkan aku pulang,” ucap Laura dengan nada pasrah.
Bryan menggelengkan kepala. “Kau pikir aku akan berhenti begitu saja setelah bersusah payah untuk membawamu pergi bersamaku? Tidak semudah itu, Laura.”
Laura memutar bola matanya. “Apa yang sebenarnya kau inginkan, Bryan? Kenapa kau melakukan ini semua?” tanya Laura, menuntut penjelasan dari Bryan.
Laura berdecap pelan. “Berhentilah bersikap seolah kita ini sedang berpacaran, Bryan,” tegur Laura.
Bryan menggelengkan kepala dengan penuh keyakinan. “Tidak. Aku tidak akan berhenti sebelum kau benar-benar mau memulai segalanya lagi denganku. Aku ingin menjalani hubungan seperti yang kau inginkan. Bukan hubungan sebagai teman ranjang, tapi hubungan layaknya sepasang kekasih pada umumnya,” jelas Bryan, membuat Laura terdiam.
Di satu sisi Laura merasa senang dengan apa yang dikatakan oleh pria itu. Tapi, di sisi lain dia terus mengingatkan diri supaya tidak mudah luluh dengan ucapan Bryan yang bisa saja berubah-ubah seiring berjalannya waktu.
Bryan yang menyadari keraguan Laura pun akhirnya kembali melajukan mobilnya. Sepertinya, ucapan saja tidak akan pernah cukup untuk Laura. Gadis itu pernah dia kecewakan. Satu-satunya cara supaya dia bisa kembali mendapat kepercayaan Laura adalah dengan memberikan gadis itu sebuah bukti tentang kesungguhannya.
Laura masih terdiam, dibisukan oleh keraguan yang memenuhi pikirannya. Namun, ketika menyadari jika mobil Bryan tidak melaju menuju ke apartemennya atau pun ke mansion Bryan, gadis itu menoleh ke arah Bryan dengan penuh tanda tanya.
“Bryan, kau mau membawaku ke mana?” tanya Laura kebingungan.
__ADS_1
“Aku ingin membawamu ke rumah orang tuaku,” ucap Bryan dengan santai.
Laura membulatkan matanya, lalu memekik keras, “Apa?!”
“Kau butuh bukti tentang keseriusanku, bukan? Aku akan membuktikannya dengan memperkenalkanmu kepada orang tuaku,” jawab Bryan tanpa menoleh ke arah Laura. “Jadi, lebih baik kau duduklah dengan tenang karena sebentar lagi kita akan sampai.”
Bibir Laura ternganga, dia tidak menyangka jika Bryan akan melakukan sampai sejauh ini dengan membawanya menemui orang tua pria itu. Laura hanya bisa pasrah ketika Bryan membawanya pergi menuju ke kediaman mewah orang tua Bryan yang terletak agak di tepian kota Barcelona.
Lagi-lagi Laura hanya bisa pasrah ketika Bryan menghentikan mobilnya di depan sebuah kediaman mewah yang didominasi oleh cat berwarna putih dengan bangunan yang bergaya klasik.
Bryan mengerutkan dahi ketika melihat ada banyak mobil yang terparkir di halaman depan rumah orang tuanya. Sepertinya saat ini saudara-saudaranya juga sedang berkumpul. Bryan jadi semakin tidak sabar untuk segera membawa Laura masuk dan mengenalkan gadis itu kepada mereka semua.
“Bryan, hentikan lelucon ini dan bawa aku kembali pulang,” ucap Laura.
“Tidak sebelum aku berhasil menunjukkan keseriusanku kepadamu,” balas Bryan acuh tak acuh.
Pria itu meraih tangan Laura, lalu menarik gadis itu supaya ikut dengannya masuk ke dalam rumah orang tuanya.
Pintu megah kediaman itu dibuka oleh para pelayan ketika Bryan dan Laura datang. Napas Laura tercekat saat menyadari jika sedang ada banyak orang yang berkumpul di ruang tamu.
“Woah, Bryan! Sebuah kejutan karena kau datang,” ucap ayah Bryan.
“Siapa gadis yang bersamamu, Bryan?” tanya salah satu sepupu Bryan.
“Perkenalkan, dia adalah Laura, kekasihku,” ucap Bryan tanpa ragu.
__ADS_1