Penghangat Ranjang Casanova

Penghangat Ranjang Casanova
Bryan Bersama Wanita Lain


__ADS_3

Malam harinya, sesuai janjinya dengan Reyna, Laura berangkat ke bioskop seorang diri. Bioskop yang akan dikunjungi Laura dan Reyna berada satu blok yang sama dengan beberapa butik ternama dan restoran bintang lima. Gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sosok Reyna yang belum menunjukkan batang hidungnya.


Laura lantas mengambil ponselnya dan menghubungi Reyna.


“Halo, Reyna. Kau ada di mana? Aku sudah berada di depan bioskop tapi tidak melihat dirimu,” ucap Laura sambil terus menyisir ke sekelilingnya.


“Halo, Laura. Maaf, aku belum sampai. Mungkin lima menit lagi aku baru sampai sana. Tadi, aku sempat ketiduran saat berendam di kamar mandi,” jawab Reyna disusul dengan tawa renyahnya.


“Baiklah. Tapi, jangan lama-lama. Aku bisa berlumut kalau menunggumu terlalu lama di sini,” gurau Laura.


“Tenang saja. Saat aku datang bisa kupastikan kau belum berlumut,” balas Reyna kemudian mematikan sambungan telepon.


Saat sedang menunggu Reyna, mata Laura tak sengaja menatap seseorang yang baru saja keluar dari sebuah butik ternama. Gadis itu menahan napasnya ketika mendapati Bryan keluar dari sebuah butik bersama dengan seorang wanita yang bergelayut manja di lengannya.


Merasa diperhatikan, Bryan pun menoleh. Pria itu sempat merasa terkejut saat melihat Laura tapi sebisa mungkin dia memasang wajah datar saat menatap ke arah Laura.


Pria itu sedikit merasa bersalah saat melihat Laura menatapnya dengan tatapan yang tak bisa dia artikan. Namun, di satu sisi dia juga berpikir kalau Laura sudah tahu bagaimana dirinya. Jadi, dia tidak perlu bersikap seolah dia merasa bersalah karena sudah jalan dengan wanita lain saat dia sedang menjalin hubungan dengan Laura.

__ADS_1


Sementara Laura memerhatikan Bryan dengan tatapan datarnya. Dia tidak menyangka kalau Bryan benar-benar bukan pria yang pantas untuk diharapkan memiliki hubungan yang serius.


“Laura, apakah aku sudah membuatmu terlalu lama menunggu?” tanya Reyna yang baru saja datang, membuyarkan lamunan Laura.


Laura menoleh ke arah Reyna yang baru saja datang. “Ah, belum lama. Aku juga baru sampai, kok,” jawab Laura sambil tersenyum manis. “Haruskah kita masuk ke dalam bioskop sekarang?”


Di detik ke yang sama Laura mengajukan pertanyaan tersebut, ponsel Reyna berbunyi. Reyna merogoh ponselnya lalu mengecek siapa yang telah meneleponnya.


“Bolehkah aku mengangkat panggilan ini dulu?” tanya Reyna, meminta izin Laura.


Sambil menunggu Reyna mengobrol dengan seseorang di telepon, Laura kembali mengedarkan pandangannya. Dia kembali menatap ke arah butik di mana tadi dia melihat Bryan dan seorang wanita keluar dari sana. Akan tetapi, kali ini dia tidak melihat Bryan lagi sebab Bryan dan wanita tadi sudah masuk ke dalam mobil dan pergi dari tempat itu.


Reyna yang sudah selesai bercengkerama melalui telepon menatap Laura dengan tatapan bingung. Dia ikut memandang ke arah yang ditatap oleh Laura namun dia tidak melihat sesuatu yang aneh dari sana. Gadis itu pun mengerutkan dahinya seraya menepuk pundak Laura.


“Laura, kau sedang melihat apa?” tanya Reyna, membuat Laura terperanjat kaget dan sontak menoleh ke arahnya. “Hei, kenapa kau sangat terkejut seperti ini? Seperti melihat hantu saja?”


“Kau sudah selesai mengangkat telepon?” tanya Laura, berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan.

__ADS_1


“Laura, jangan mengalihkan topik pembicaraan. Kau sedang melihat apa sampai kau tidak sadar aku sudah selesai telepon dari tadi?” balas Reyna tidak mau kalah.


Laura menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Ah, tidak. Aku tadi merasa kalau aku melihat seseorang yang aku kenal, teman dari kotaku. Tapi, ternyata aku salah lihat,” ucap Laura dengan asal.


 Meskipun Reyna tahu kalau Bryan dan Laura tengah dekat—sebab Bryan berulang kali mencari Laura di Secret Garden—tetap saja Laura tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya kepada Reyna. Terlebih lagi, Laura tidak memiliki hubungan spesial dengan Bryan. Jadi, dia merasa kalau dia tidak punya hak untuk marah dan cemburu kepada Bryan.


“Oh, begitu?” Reyna tersenyum. “Ngomong-ngomong, apakah kau besok libur?”


Laura terdiam sejenak, mencoba mengingat-ingat kapan hari liburnya. “Iya. Besok aku libur. Ada apa?” tanya Laura.


“Barusan Dario meneleponku. Katanya, untuk mengganti karena hari ini dia tidak jadi menonton denganku, dia mengajakku pergi ke tempat paintball. Apakah kau mau ikut? Dario memintaku mengajakmu juga,” jelas Reyna.


“Hm, baiklah aku akan ikut. Dari pada aku bosan sendirian di apartemen lebih baik aku ikut dengan kalian,” jawab Laura sambil terkekeh.


Laura tak berpikir dua kali untuk menerima tawaran Reyna sebab dia juga tidak mau sendirian di apartemennya dengan menyedihkan karena memikirkan apa yang tadi dia lihat. Setidaknya kalau dia pergi dengan Reyna dan Dario, dia akan merasa jauh lebih baik.


“Ya sudah. Ayo, kita masuk ke bioskop. Aku sudah tidak sabar untuk menonton film.”

__ADS_1


__ADS_2