
Keesokan harinya, Laura cukup terkejut saat dia mendapati Felix berdiri di depan gedung apartemennya ketika dia hendak berangkat bekerja.
“Felix, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Laura heran.
“Tentu saja tujuanku adalah kau. Aku akan mengantarmu berangkat bekerja. Apakah kau tidak keberatan?” tawar Felix, sangat berharap kalau Laura mau menerima tawarannya, mencoba kembali peruntungannya untuk terus mendekati Laura, seperti yang sudah direncanakannya.
Tanpa ragu Laura menganggukkan kepala. “Ya, kenapa tidak?” balas Laura tersenyum.
"Senang akhirnya kau tak menolaknya." Felix dengan lebar tersenyum berjalan beriringan dengan Laura.
Felix pun membuka pintu mobilnya dan mempersilakan Laura masuk. Setelahnya, dia melajukan mobilnya menuju ke Secret Garden.
“Kapan kau akan pulang?” tanya Laura memulai kembali pembicaraan.
“Apakah kau mengusirku?” Felix menoleh pada Laura.
“Tidak, bukan begitu. Kau bilang kau ada urusan bisnis di sini, ‘kan? Jadi, aku hanya ingin bertanya saja. Karena kalau kau harus di Barcelona lama, lebih baik kau jangan tinggal di hotel. Tapi, menyewa apartemen saja. Hitung-hitung lebih irit," terang Laura sebelum Felix salah paham, terlebih dulu Laura selalu menghindarinya.
“Aku masih harus di sini sampai urusanku selesai, Laura. Urusan yang sangat penting untukku,” jawab Felix
__ADS_1
'Aku masih harus mengejar cintamu,' sambung Felix dalam hati.
"Baiklah, aku mengerti. Semoga semua urusanmu itu berjalan lancar," balas Laura menyemangati Felix, tanpa curiga urusan seperti apa yang Felix maksud.
Tiba di secret garden, seperti sebelumnya, Felix membukakan pintu mobil untuk Laura. Membuat siapapun yang melihat kedekatan mereka pasti akan berpikir keduanya adalah pasangan, terlebih sikap Felix begitu lembut pada Laura.
"Selamat bekerja, Laura," ucap Felix sebelum Laura menghilang dari pandangannya.
***
Waktu terus bergulir. Laura kembali menjalani aktivitasnya dengan santai. Felix pun sama, pria itu mencari-cari aktivitas selama di Barcelona. Tidak mungkin dia hanya berdiam diri selama Laura bekerja jadi dia harus mencari kegiatan yang lain.
“Lola, sejak kapan Bryan ada di sana?” tanya Laura dengan suara sangat pelan supaya Bryan tidak bisa mendengarnya.
“Kira-kira lima belas menit yang lalu. Dia menunggumu," jawab Lola.
Laura mengigit bibir bawahnya. Dia tidak mau bertemu dengan Bryan. Untuk itu Laura harus mencari cara untuk menghindar dari Bryan.
“Apakah Secret Garden punya pintu belakang? Hmm maksudku pintu keluar lainnya?” tanya Laura gugup.
__ADS_1
Lola menatap Laura bingung, namun dia tetap mengangguk. "Di mana?" tanya Laura.
"Di bagian belakang taman bunga." Tanpa menunggu penjelasan Lola lebih dalam lagi, Laura memutuskan untuk bergegas menuju ke pintu belakang. Dia akan pulang melalui pintu belakang supaya Bryan tidak bisa menemuinya.
Setelah keluar dari pintu belakang Secret Garden, Laura berjalan mengendap-endap menuju ke jalan raya lalu masuk ke salah satu taksi yang terparkir tidak jauh dari sana. Gadis itu baru bisa bernapas lega ketika taksi yang ditumpanginya melaju.
"Maaf Bryan. Aku tidak pernah siap menghadapi mu. Lebih baik seperti ini," gumam Laura.
Setibanya di apartemen, Laura dikejutkan dengan kehadiran Felix yang tampak sedang mendorong kopernya masuk ke salah satu apartemen di gedung yang sama dengan dirinya.
“Felix? Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Laura sambil berjalan menghampiri pria itu.
Felix menoleh, lalu tersenyum. “Sepertinya urusanku di Barcelona akan memerlukan waktu cukup lama. Jadi, aku mempertimbangkan usul darimu dan memutuskan untuk mencari apartemen untuk ditinggali, dan aku mendapat unit yang kosong di sini. Dekat dengan orang yang ku kenal,” jelas Felix tersenyum.
Laura turut tersenyum. Dia merasa senang karena untuk pertama kalinya, seseorang mempertimbangkan pendapatnya. Gadis itu merasa senang sebab di depan Felix, dia seolah benar-benar dianggap penting.
“Apakah kau mau aku membantumu beberes?” tanya Laura menawarkan diri.
“Oh, jangan!” tolak Felix. “Aku tidak mau merepotkan mu. Nanti kalau apartemenku sudah rapi, kau boleh datang untuk makan bersamaku. Bagaimana? Kau setuju?” sambungnya, membuat Laura menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Aku setuju."