Penghangat Ranjang Casanova

Penghangat Ranjang Casanova
Meragukan Bryan


__ADS_3

“Laura, kenapa kau diam saja?” tanya Bryan, semakin kesal sebab Laura tidak menjawab pertanyaannya. “Apakah yang diucapkan oleh Felix tadi benar? Kalau kau dan Felix pernah hampir menikah karena dijodohkan oleh orang tua kalian?”


Laura mengedikkan bahunya, kemudian meletakkan peralatan makannya. “Bukankah tadi Felix sudah mengatakan semuanya. Untuk apa lagi aku menjelaskan semuanya? Memangnya apa yang dikatakan Felix masih belum jelas?” Laura balik bertanya.


“Jadi, benar? Kenapa kau tidak pernah bercerita tentang itu semua? Sampai kapan kau ingin menyembunyikan semuanya dariku?” desak Bryan.


Mendengar itu, Laura jadi ikutan sebal. Gadis itu mengepalkan tangannya di bawah meja makan sehingga Bryan tidak dapat melihat kalau dia sedang emosi.


“Menyembunyikan apa, Bryan? Aku tidak berniat untuk menyembunyikan apa pun darimu. Karena dari awal menurutku masa lalu tidak seharusnya dibawa-bawa hingga ke masa depan. Apa yang terjadi denganku dan Felix adalah bagian dari masa laluku. Aku juga tidak pernah lagi mengutamakan Felix dibandingkan dirimu setelah kita berpacaran, bukan? Berbeda sekali dengan bagaimana kau memperlakukan Briza di depan mataku!” sentak Laura dengan tegas.


Napas gadis itu memburu, wajahnya memerah padam. Dia tidak bisa lagi menahan amarahnya sebab Bryan tidak mau mengerti dan berlaku adil kepadanya. Jika Bryan masih ingin berteman dengan Briza setelah kejujurannya, maka seharusnya Bryan tidak masalah dengan kejujuran Felix.


“Tapi, Felix masih mencintaimu, Laura! Briza—”

__ADS_1


“Apa? Kau masih membelanya? Jelas-jelas Briza juga mencintaimu, Bryan. Apakah kau buta sampai tidak bisa melihat itu semua?” tanya Laura, kemudian mendengus dingin.


Bryan bungkam, tak tahu harus membalas ucapan Laura dengan apa. Pria itu tanpa mengatakan apa-apa berjalan menuju ke arah pintu apartemen. Tepat saat dia hendak membuka pintu, ucapan Laura menghentikan langkahnya.


“Kau mau pergi ke mana, Bryan? Apakah kau mau pergi menemui Briza?” tanya Laura sambil melipat tangan di depan dada.


Bryan membalik tubuhnya, kemudian kembali menghampiri Laura. “Untuk apa aku menemui Briza?” tanya Bryan. Pria itu tidak suka kalau dicurigai seperti ini.


“Entahlah.” Laura mengedikkan bahunya dengan tatapan datar. “Mungkin kau ingin kembali padanya? Briza sendiri yang berkata kalau kau akan selalu kembali padanya setelah kau mengakhiri hubunganmu dengan wanita-wanitamu, bukan?” tuding Laura.


Pria itu mengusap wajahnya dengan gusar, tak tahu bagaimana lagi caranya supaya Laura bisa percaya padanya kembali. Mengembalikan kepercayaan seseorang sangatlah sulit. Benar kata ibunya jika Bryan tidak akan bisa mengembalikan kepingan kepercayaan yang telah hancur dengan kata-kata saja. Tapi, Bryan juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan supaya Laura bisa kembali mempercayainya.


“Tidak ada yang tahu apa yang akan kau lakukan. Lagi pula, kau pernah berbohong padaku, bukan? Kau berkata kalau kau mau pulang, tapi ternyata kau malah bermalam di apartemen Briza,” sindir Laura sambil memutar bola matanya, jenuh.

__ADS_1


Dibohongi berkali-kali tentu membuat seorang wanita akan merasa kesulitan untuk kembali percaya dengan prianya. Saat Laura dan Bryan kembali menjalin hubungan saja Laura sebetulnya masih ragu apakah pria itu betul-betul serius padanya atau tidak. Dan kini, ditambah dengan kehadiran Briza yang mengusik ketenteraman hubungan mereka membuat Laura semakin ragu untuk dapat percaya lagi dengan Bryan.


“Laura, kenapa kau tidak bisa mempercayaiku?” tanya Bryan.


“Bukannya aku tidak percaya padamu, Bryan. Tapi, sikapmu yang membuatku sulit untuk percaya padamu. Aku tidak suka dibohongi tapi kau malah membohongiku. Aku tidak tahu bagaimana caranya supaya aku bisa percaya padamu lagi,” jelas Laura dengan tegas.


Bryan berlutut di depan Laura, kemudian meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya. “Maafkan aku, Laura. Aku tidak bermaksud untuk membohongimu sama sekali. Malam itu aku sebenarnya datang ke apartemen Briza karena aku ingin memintanya untuk menjauh dariku,” jelas Bryan.


“Oh, ya?” tanya Laura, masih belum bisa percaya kepada ucapan Bryan.


“Kumohon percayalah padaku. Aku ingin hubungan kita kembali baik-baik saja seperti dulu, Laura. Aku ingin kau percaya lagi kepadaku,” ujar Bryan.


Pria itu memejamkan matanya, tak menyangka jika merebut kepercayaan Laura kembali akan menjadi hal yang jauh lebih sulit daripada merayu gadis itu untuk mau menjadi kekasihnya waktu itu. Bryan masih tidak menyangka kalau satu kesalahannya dapat menghancurkan hubungan yang sudah mereka bangun selama ini.

__ADS_1


“Jika hubungan kita renggang, Briza justru akan semakin senang karena itulah yang dia inginkan, Laura,” ucap Bryan.


Mendengar hal tersebut, Laura pun diam. Gadis itu dibuat bungkam dengan kalimat yang terucap dari bibir Bryan.


__ADS_2