Perjalanan cinta bi

Perjalanan cinta bi
Episode 11


__ADS_3

Bianca sudah sampai diindonesi, begitu pun dengan bryan. Mereka menjalan kan kehidupannya masing-masing.


Kediaman Bianca


"Bi harus dengerin mama kali ini. Mama mohon sama bi, bi jangan buat papa marah lagi" Ucap arumi ibunda dari Bianca.


Bianca hanya berdiam diri mendengar ibunya berbicara seperti itu. Tapi dalam fikirannya masih terlalu kacau tentang memikirkan kuliah dan mencari riko.


"Iya mah bi bakal turutin apa mau nya papa" Ucap bianca untuk menenangkan sang mama


"Lusa kamu berangkat. kamu harus sudah siap-siap mulai dari sekarang. Bilang sama mbo sum untuk mempersiapkan kebutuhan kamu" Ucap mama sambil membelai lembut rambut gadis bungsunya itu.


Bianca semakin tidak karuan ia merasa sudah sangat muak dengan semua ini. Ia sudah tidak bisa berfikir dengan jernih. Ia takut terjadi apa-apa padanya karna kejadian waktu itu.


Kediaman Bryan


Terlihat bryan sedang menatap sang ibu dengan pandangan sedihnya. Ia memegang erat tangan ibunya itu. sesekali ia menciumnya. karna memang dia adalah pria yang sangat lembut jika dihadapan ibunya.

__ADS_1


Karna memiliki ibu yang sangat baik menjadi harta dan semangat Bryan satu-satunya untuk menjalani hidup ini.


Terlihat sang ibu mulai merespons sentuhan tangan bryan. Sontak membuat dia sangat senang.


Ia langsung berdiri dan mengecek apakah ibunya sudah sadar. Ternyata nyonya wijaya sudah siuman.


Ia berlari keluar pintu untuk memanggil suster, padahal disampingnya ada bel untuk memanggil mereka. Itu terjadi mungkin karna bryan terlalu senang. ^Hihi ternyata seorang Presdir pun bisa terlalu bodoh karna perasaan senangnya ya


dokter memeriksa nyonya wijaya dan menjelaskan kepada bryan bahwa nyonya Wijaya sudah stabil dan butuh istirahat sebentar.


"Nak" ucap ibunda bryan dengan suara yang sangat lemah


"Kenapa ma? mama jangan terlalu banyak bicara, dokter bilang mama harus istirahat" ucap bryan serius


"Kamu jangan seperti itu lagi kalau kamu sayang sama mama" Ucap mamanya sambil membelai pipi putra kesayangannya itu.


"Kamu harus ingat, Ada mama dan adik kamu disini yang butuh kamu. Ayah kamu pun khawatir tentang kondisi kamu nak. Kamu jangan seperti itu lagi" tambahnya.

__ADS_1


"Halah palingan papa cuman takut omset perusahaan turun saja. Lagian dia sama sekali ga perduli sama aku mah. bahkan gara-gara dia aku pergi" Ucap bryan protes


"Nak kamu dengar mama baik-baik. semua ini demi kebaikan kamu. papa kamu gamau melihat anaknya kesusahan. lagian kamu kan memang akan menjadi tulang punggung keluarga kalau papamu sudah tiada. kamu pun akan jadi seorang suami dan seorang ayah. Ini untuk kebaikan kamu sayang" Jawab ibu


"Tapi aku terlalu jenuh disana ma. Aku juga butuh liburan papa terlalu keras menekan aku. Aku gapunya kebebasan sendiri" ucap bryan setengah emosi


"Kamu akan tahu nanti masanya sayang. sekarang kamu sudah dewasa sudah waktunya kamu untuk menikah. Mama tidak sabar untuk memangku cucu dari kamu" Ucap nyonya wijaya sambil sedikit mengalihkan pembicaraan


obrolan itu tidak di tanggapi bryan itu malah membuat dia menenggelamkan wajahnya


"Bryan lupakan dia. Dia sama sekali tidak perduli lagi sama kamu" Ucap mama sambil mengelus kepala anak bujangnya.


"Aku belum bisa melupakan dia mah. Aku terlalu ciut untuk melakukan itu" terlihat bryan sangat sedih membuat nyonya wijaya menyuruh bryan untuk merangkulnya.


Saat ini dia tahu bahwa perasaan anaknya masih sangat hancur. bahkan masih sama seperti pertama kali ia kehilangan wanita yang paling disayanginya itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2