
Nyonya Arumi terlihat sedang bersedih hati. Memikirkan putri bungsu nya yang sampai saat ini belum ada kabar tentang keberadaannya.
Prisil setia menemani, ia selalu menghibur ibu nya, menyuapinya makan, bahkan mengajaknya jalan-jalan sore agar fikirannya sedikit tenang.
Prisil melihat ibu nya memegang cangkir berisi teh hijau diteras rumah.
Menghadap kearah taman dan sesekali menarik nafas dan menghembusnya dengan satu kali bentakan.
Melihat nya terus seperti itu membuat prisil sangat tidak tega. Ia ingin segera mengetahui dimana keberadaan adik perempuan nya itu.
"Mah" Sapa prisil sembari mendekati sang ibu.
Nyonya arumi menoleh dan tangan nya menyambut prisil ia hanya tersenyum.
"Maaf mah, aku belum bisa Mengetahui dimana keberadaan bi" Ucap prisil sambil memeluk ibunya.
"Tidak apa-apa ka, kamu sudah berusaha. Kita do'akan saja agar bi tetap berada di bawah lindungan-Nya. semoga dia sehat selalu dan tercukupi." Jawab nyonya arumi sambil membelai rambut putri sulungnya itu.
Mereka masih mencari bianca. Terutama tuan indra setiap hari ia bersedih dan merasa bersalah. Karna ia terus berfikir bahwa bianca pergi adalah karna didikannya terlalu keras dan selalu membandingkan bianca dan prisil.
Sementara itu bianca sedang bersiap-siap. Ia sudah berdangdan untuk datang ke kavindra agency dan menemui manager hans.
Ia sudah memikirkan resiko apa yang akan ia dapat dan syarat apa yang harus perusahaan setujui untuk memiliki hubungan kontrak dengan nya.
Bianca sedang menunggu taxi, Ia berdiri di seberang jalan. Tiba-tiba sebuah mobil BMW i8 yang harganya mencapai 3,5 milyar menyemprotnya dengan air comberan yang sedikit menggenang didepannya.
Ia terkejut dan kini melihat baju yang akan ia gunakan untuk pergi ke kavindra agency kotor karena air comberan.
"Aaaaaaaaaa" Bianca berteriak. ia melotot dan mencoba mengejar mobil itu.
__ADS_1
"Hey dasar kampre* kurang ajar lo!" Bianca berteriak sambil berlari. saking emosinya dia tidak sadar kalau ia memakai heels. Ia berlari terlalu kencang sampai membuat heels nya menjadi tidak seimbang.
Brukkkk....
"Aduuuuhh aaawwww kaki gue sakitttt! Aaarrrggghh pagi-pagi gue sial aja! dasar orang sinting! Liat aja ketemu gue abis lo!" bianca menggerutu terus-terusan ia kembali lagi kerumah untuk membersihkan dirinya.
"Huh! Awas aja kalo sampe gue ketemu lagi sama mobil itu. gue bakal bikin perhitungan!"
Gerutu nya dalam hati.
***
Bianca sudah selesai bersiap-siap. Ia sudah naik taxi dan akan segera sampai di kavindra agency.
Dia kelihatannya sudah mantap akan keputusan nya saat ini.
Taxi itu sudah berhenti di depan kavindra agency, Bianca memberikan ongkos kepada supir.
Seseorang dengan sangat elegan berjalan dihadapan mereka. Bak bidadari kecantikan bianca menutupi kecantikan perempuan yang ada disana ^lebay amat sih thor😅
Ia mendatangi receptionis.
"Permisi" ucapnya
reseptionis itu melihat bianca dengan mata terbelalak, Ia tidak menjawab bianca. Bianca yang mengenakan kacamata hitam itu membuka kacamatanya dan sekali lagi mencoba berbicara dengan receptionis itu.
"Helloowwwww.. Mba?" Tanya nya sambil melambaikan tangan didepan wajah mba-mba receptionis itu.
Receptionis itu terkejut.
__ADS_1
"Ah iyaa maaf mba ada yang bisa saya bantu" Jawab receptionis membuat bianca tertawa kecil.
"Saya ingin bertemu dengan bapak Hans" (Bianca)
"Maaf, apakah sudah ada janji" (receptionis)
"Sampaikan saja pada bapak hans ada yang ingin bertemu" (Bianca)
"Baik, saya akan coba menelpon ke kantornya" (Receptionis)
Receptionis itu menelpon hans
"Maaf pak ada yang ingin bertemu" (Receptionis)
"Siapa?" (Hans)
"Tidak memberi tahu nama pak, seorang perempuan" (Receptionis)
Hans langsung menutup telpon nya ia berlari dari ruangan nya dan segera ke area receptionis.
Ternyata dugaan nya benar. Seorang perempuan dengan tubuh yang ideal mengenakan pakaian berwarna hitam berdiri didepan meja receptionis. Ia segera menghampiri perempuan itu.
"Maaf nona" Ucap nya
bianca menoleh tersenyum kepada hans
"Mari kita bicara diruangan saya" Ajak nya sambil mempersilahkan bianca untuk mengikutinya.
Bianca menganggukan kepalanya sambil tersenyum kepada receptionis, tanda bahwa ia pamit undur diri.
__ADS_1
Bersambung...