
Sudut pandang Bianca
Malem ini dengan segala rasa keterpaksaan gue harus pergi ke grand place.
Gue masih bertanya-tanya sebenarnya apa yang di inginkan pria itu untuk pertemuan kita kali ini. Gue merasa ada hawa mencekam, karna setiap pertemuan kita itu selalu bikin gue sial dan jengkel.
Gue pergi pakai taxi, karna gue gapunya mobil. Gue minta supir taxi itu untuk antar gue ke grand place.
Di perjalanan gue cuma memikirkan apa aja yang bakal di lakuin sama laki-laki itu, pasti kali ini dia bakal ngelakuin hal yang paling memuak kan. rasanya tubuh gue menolak banget buat pergi kesana, tapi karna gue adalah tipe orang yang gamau banget berhutang budi makanya gue paksain buat pergi.
"Nona, kita sudah sampai" Suara supir taxi itu membuyarkan lamunan gue.
Gue memberikan ongkos dan turun dari taxi itu.
Bangunan mewah yang menjadi Icon restoran bintang 5 di jepang ini membuat gue menghela nafas panjang dan kembali memikirkan si br*ngs*k itu.
Gue memutuskan untuk masuk, tapi gue ga tau dia ada dimana, di meja no berapa, haduh kayanya dia mau ngerjain gue lagi🤦🏼
Gue datang ke receptionis, dan gue bingung mau nanya apa, tapi gue paksain buat bertanya tentang pembookingan atas nama bryan zedwenson wijaya.
"Permisi"
"Iya, ada yang bisa kami bantu?"
"Apakah ada pembookingan meja atas nama Tuan Bryan Zedwinson Wijaya?"
Kedua receptionis itu saling bertatapan
"Maaf nona, atas nama siapa ya?" tanya mereka lagi keheranan
"Dia tamu tuan muda" Tiba-tiba terdengar suara dari belakang.
kedua receptionis itu membungkukan badannya dan gue pun membalikan badan.
Ternyata itu si asisten si*lan.
"Mari nona, tuan muda sudah menunggu di ruangan VVIP" ajaknya sambil mempersilahkan gue untuk berjalan didepan.
Gue berjalan dan dia mengikuti dari belakang.
__ADS_1
"Dimana dia?"
"Tuan ada di ruangan paling atas nona, ruangan khusus presdir"
Ohh jadi restoran ini adalah milik JX group. Hilih ngajak kencan ko ga modal -_-.
Gue dan kevin sampai di lantai paling atas gedung ini. Kevin membuka pintu yang ada disana, dan mempersilahkan gue untuk masuk kedalam
Gue merasa sedikit terkesan dengan design interior ruangan ini, disini seperti hotel, dan sangat tentram. ga akan ada menyangka kalau ini adalah lantai atas restoran ini, ini seperti rumah di pinggir danau.
Terlihat seseorang duduk menatap jalan raya yang sangat ramai. Dia memegang satu gelas wine dan sangat senyap
"Tuan nona bi sudah datang" ucap kevin kepada laki-laki itu
dia berdiri dan membalikan badan, ternyata dia adalah bryan. Terlihat aura yang berbeda, Dia mengenakan jas berwarna cream membuat kesan lembut pada wajahnya.
Sudut pandang bryan
Gue melihat sosok perempuan dewasa pada penampilan bianca malam ini, siapa yang menyangka bahwa gadis kecil yang ceroboh itu bisa bermetamorfosa menjadi gadis dewasa hanya karna balutan dress berwarna gold nya itu.
Terlihat pipinya memerah saat gue memandangnya dari atas sampai bawah.
"Mau wine?" Tanya gue padanya karna dia sama sekali ga mengeluarkan suara apapun.
"Boleh" jawab nya singkat dan bertingkah seperti seorang wanita dewasa.
Gue menuangkan satu botol wine pada gelas yang ada di atas meja dan dia mengambilnya dengan sangat anggun.
"Sebenarnya apa yang tuan muda bryan ingin kan dari saya" (bianca)
"Saya punya satu kesepakatan untuk di bicarakan" (bryan)
"Kesepakatan apa?" (bianca)
"Kesepakatan yang pastinya akan menguntungkan kita berdua" (bryan)
"Bagaimana anda bisa berkata itu akan menguntungkan bagi saya?" (bianca)
"Itu jelas karna akan mempengaruhi hidupmu" (Bryan)
__ADS_1
"Apa itu?" (bianca)
"Menikahlah dengan ku" (bryan)
***
Boooommmmmm
Bianca melotot saat mendengar apa yang di katakan oleh bryan.
"Tuan, anda sedang tidak mabuk kan?" Tanya bianca keheranan.
"Tidak, saya sungguh akan menjadikan kamu sebagai istri sirih saya" jawab bryan dengan mantap
"Hahahaha lo gila ya? lo fikir pernikahan itu main-main" bianca mulai muak dengan perkataan bryan.
"Aku tau masalahmu dan aku bisa membereskan nya. akupun punya masalah. jika kita menikah masalah itu akan selesai" Jawab bryan sepele
"Heh! Lo jangan asal mangap deh! gue gamau kaya gitu-gituan lo fikir gue cewek apaan yang bisa seenaknya dinikah-nikahin ga jelas gini" Bianca
"Dengarkan dulu penjelasan nya, setelah mendengar semua nya kamu pasti akan mengerti" (bryan)
"Cukup bryan! gue muak sama lo!"
Bianca berdiri dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan bryan.
Saat ia membuka pintu ia terkejut saat melihat siapa yang duduk di sofa.
"Papah" bianca terkejut ketika melihat ayahnya sudah menunggu nya diluar.
"Kemana saja kamu bi?"
"A a a aku.. akuu.. aku..."
"Bianca bersama saya pah" Ucap seseorang dibelakang bianca yang langsung merangkulnya
Bianca menatap lelaki itu dengan tatapan tajam dan laki-laki itu hanya tersenyum menyeringai.
Bersambung...
__ADS_1