
Jepang
Hari yang indah...
Bianca menghirup udara segar ketika turun dari pesawat. Ia merasa kehidupan barunya akan segera di mulai. Ia berencana untuk tinggal disana sambil mencari riko.
Karna memang tujuan nya bukan hanya untuk mencari riko tapi untuk menjadi sosok yang baru.
Seperti di film-film maupun di novel-novel Bianca takut kalau dia akan segera melahirkan seorang anak. Ia sangat taku bahwa kejadian itu bisa membuahkan seorang manusia.
Ia lari dan harus meninggalkan orang tua nya. walaupun itu tidak untuk selamanya.
"Gimana ya keadaan disana? mereka semua pasti lagi nyari-nyari gue. Haduhh gue merasa bersalah sih. Tapi gue gabisa kaya gini terus! gue harus buktiin sama papah kalo gue pun masih bisa hidup tanpa ada bantuan dari dia" Tekad nya dalam hati.
Bianca sudah keluar dari bandara, Ia berencana untuk langsung mencari tempat tinggal.
"Kayanya kost-kostan dulu aja deh. Soalnya kalo gue sewa apartemen mana cukup duit gue. Seengganya sampe gue punya pekerjaan disini. Tapi gimana soal identitas gue"
Bianca berfikir keras sambil terus berjalan menyusuri jalanan di tokyo yang ramai. Ia menduga-duga dimana dia harus bekerja dan dimana dia harus tinggal.
Grukkkkkkk...
Suara perut Bianca yang belum terisi makanan. ^Haduh ternyata cewek cantik juga punya celah ya😅
"Haduh gue laper banget. mending gue ke mall dulu deh sambil beli beberapa baju. Tabungan gue pun gaakan abis 1 bulan kalo gue foya-foya**" Fikirnya.
__ADS_1
Bianca pun masuk ke sebuah mall besar. Ia masuk ke restorant yang ada disana dan ia memesan beberapa makanan.
Saat ia sedang menunggu makanan nya selesai tiba-tiba ada seorang pria berjas yang menyerobot antrian dan meminta pesanan nya lebih di dahulu kan.
Bianca yang merasa marah karna perut nya terus meraung-raung menunggu makanan tiba-tiba ada yang menyerobot antrian otomatis membuat taring macan putih nya keluar ia pun meledak-ledak.
"Hey anda punya sopan santun tidak?" Cloteh Bianca sambil bertolak pinggang.
Laki-laki itu mengernyitkan dahinya. Ia pun menjawab.
"Maaf nona tapi saya harus segera mengambil makanan nya. Tuan saya sudah menunggu" jawab lelaki itu
"Bodoamat tentang bos kamu itu! Disini saya juga kelaparan. saya antri dari tadi dan kamu seenaknya nyerobot gitu aja? Haduhh orang kaya yang so kaya sekali anda!" Cloteh Bianca membuat pegawai foodcurt itu melihatnya dengan pandangan yang sangat ketakutan. karna Bianca tidak tahu bahwa ia sedang berbicara dengan asisten pribadi dari pria no. 1 di jepang.
Pegawai restauran itu mulai melerai.
Bianca melotot dan bersiap-siap akan memaki petugas itu tapi tiba-tiba seseorang datang.
"Kevin ada apa ini?" Tanya pria itu
Bianca melirik kearah suara itu berasal. Ternyata dia adalah si pria no. 1 di jepang, Bryan Zedwenson Wijaya.
Bianca hanya menaikan satu alisnya dan langsung memalingkan pandangannya lagi ke arah kevin.
Dia bersiap-siap akan mengeluarkan racunnya.
__ADS_1
Tapi sebelum Bianca membuka mulutnya bryan sudah menyela ucapan Bianca.
"Ehhh tunggu, kamu kannnn" Bryan melihat kearah Bianca dengan wajah keheranan. Sontak ia melotot dan berkata.
"Kamu perempuan itu!"
Bianca melihat ke arah bryan dengan wajah heran. dia hanya mengernyitkan dahinya dan menaikan satu alisnya.
"Apa ini tuan mu itu?" tanya bi kepada kevin.
"Iya nona" Jawab kevin singkat.
"Kalian berdua sama-sama aneh membuat aku hilang selera saja" Bianca pergi berlalu meninggalkan mereka
Pegawai restauran itu sangat terkejut melihat kelakuan bi, karna tidak mungkin ada orang yang berani melakukan hal itu kepada bryan.
"Kevin! Apa dia wanita itu" Tanya bryan kepada kevin yang sedang melongo.
"Kevin!" Bentaknya lagi
"Ma maaf tuan saya tidak bisa pastikan tapi perempuan itu sungguh aneh" Jawab kevin gelagapan.
"Cari tahu tentang wanita itu dan segera kasih laporan nya kepada saya" Ucap bryan sambil pergi berlalu meninggalkan kevin.
Pegawai restauran begong melihat kejadian itu. Ia merasa heran karna tidak ada dari mereka yang mengambil pesanannya.
__ADS_1
Sementara itu bianca memilih makan di foodcurt pinggir jalan dan pergi mencari kost-kostan untuk ia tinggali beberapa hari kedepan.
Bersambung...