
Setelah sampai dihalaman rumahnya Bryan bergegas membuka pintu dan berlari ke arah rumah. Ia melemparkan kunci mobilnya kepada Kevin.
"Biancaa" Bryan berteriak meledak-ledak karna kejadian tadi, Bianca yang sedang duduk meminum obat pereda sakit terkejut.
"Kenapa sih? Bisa pelan sedikit ngga?" Ucap Bianca terkejut.
"Kenapa kamu gak bilang kalo aku masih berpakaian kaya gini? Kamu tau semua orang menertawaiku" Bianca tertawa mendengar ucapan Bryan
"Hahaha siapa suruh kamu langsung pergi emangnya aku suruh kamu buat beli pembalut?" Jawab Bianca
"Hih dasar perempuan gatau terimakasih" Bryan kesal
"Yaudah mana pembalutnya? Ini udah gak nyaman"
Bryan mengangkat kedua alisnya, dia lupa bahwa yang ia beli adalah popok bayi bukan pembalut. Karna kesal ia memberikan popok bayi itu.
"Hah? Kamu bercanda ya? Masa iya aku harus pakai popok bayi?" Tanya Bianca kesal,
Bryan mengingat kejadian tadi tapi enggan membicarakannya karna Bianca pasti akan meledeknya habis-habisan.
"Tunggu Kevin saja yang belikan" Ucapnya
"Ihhh dasar Bryaaaaannn, udah! aku bt sama kamu! Sana sana keluar" Bianca merengek membuat telinga Bryan kesakitan. Sementara itu dia memanggil Kevin untuk membelikan Bianca pembalut.
"Kevin kamu belikan stok pembalut untuk Bianca tanya pelayan toko disana pembalut mana yang paling nyaman. Segera kembali karna dia sudah mulai seperti harimau betina" Ucap Bryan sambil mendelik.
"Ba,, baik Tuan Muda" Kevin pergi keheranan, dia berfikir mau ditaruh dimana harga dirinya sebagai Asisten pribadi orang penting.
"Haduhhh Tuan Muda sudah mulai tergila-gila. Sekarang semua nya bakal lebih sulit untukku. haisshh sekarang pembalut, nanti apa lagi? pakaian dalam?" Gerutu Kevin dalam hati.
***
__ADS_1
Bianca sudah memakai pembalutnya. Dia merasa kalau perasaannya sedang kacau dan merasa emosi setiap kali ada orang yang berbicara padanya.
"Haduuuhh sakitttt bangettt" Bianca terus memegang perutnya. Bryan yang sedang marah karna tidak jadi melakukan 'itu' so sibuk dengan layar laptopnya. Tapi ketika dia mendengar suara Bianca dia meliriknya sesekali.
Bianca berjalan kearah pintu kamar
"Mau kemana kamu?" Tanya Bryan
"Aku mau tanya Bibi Fang apa disini ada kantung air hangat, Perutku sakit banget" Bianca terus memegang perutnya yang keram
"Udah kamu duduk disini biar aku yang tanya Bibi fang" Bryan pergi keluar kamar. Dia berjalan kearah lemari peralatan dan mengambil kantung tersebut dan mengisinya dengan air panas.
"Bi, ini kantung air panasnya" Bryan bersikap sangat lembut kepada Bi.
"Ah makasi ya" Ucap Bianca karna merasa sedikit terkesan.
"Udah kamu baring aja, biar aku yang kompres" Bryan menumpukkan bantal dan meminta Bianca untuk berbaring, Sementara itu Bianca berubah menjadi seorang penurut.
"Gimana? Apa airnya kepanasan?" Tanya Bryan lembut sambil terus mengompres perut Bianca. Bianca menggelengkan kepalanya.
"Udah puas lihat-lihatnya?" Ucapnya meledek,
Bianca memalingkan pandangannya berpura-pura bahwa ia tidak menatap Bryan.
Bryan cekikikan melihat tingkah Bianca.
Mereka terus meledek satu sama lain. Sampai Akhirnya Bryan memegang lembut pipi kanan Bianca, menyelipkan poni Bianca di daun telinganya dan mereka saling bertatapan.
Jantung keduanya berdegup kencang, wajah keduanya pun semakin mendekat. Bryan melihat bibir ranum Bianca dengan mata sayunya. Bibir keduanya semakin dekat dan Bianca pun sudah menutup matanya.
Tokk.. tokk.. tokkk..
__ADS_1
Mereka berdua terkejut Bianca langsung membenamkan wajahnya di bantal sementara Bryan memalingkan wajahnya yang mulai memerah.
"Siapa sih?" Ucapnya kesal.
Bianca yang malu masih membenamkan wajahnya di bantal, saat Bryan berlalu untuk membukakan pintu dia memukul-mukulkan wajahnya di bantal
"Apa-apaan sih ko gue mau ciuman sama dia, Yaampun kayanya otak gue udah mulai eror" Bianca terus memukul wajahnya yang juga merah padam oleh bantal.
Bryan membuka pintu dan itu adalah Bibi Fang. "Ada apa bi?" Tanyanya sedikit kesal.
"Maaf mengganggu Tuan Muda tapi di bawah ada keributan anda bisa melihatnya langsung" Ucap Bibi Fang.
"Masalah apa? Sudah selarut ini kalian masih mengganggu ku" Bryan mengomel karna kesal. Ia berteriak-teriak memanggil Kevin
"Keviiinnn" Teriaknya "Dimana sih anak itu" sambungnya lagi. Ia mencari Kevin ke setiap sudut ruangan yang ia lalui.
"Maaf Tuan Muda, Kevin baru saja pulang" Ucap Bibi Fang memberitahu.
"Dimana Paman Feng?" Tanyanya
"Paman Feng masih belum kembali dari tugas yang anda berikan Tuan Muda" Jawab Bibi Fang.
"Harusnya Kevin tidak pulang kalau Paman Feng tidak ada jadi tidak usah membangunkan ku karna masalah selarut ini" Bryan terus mendumel sambil terus berjalan.
Sampailah ia di kerumunan pengawalnya yang sedang mencegah seseorang untuk masuk ke dalam Villa
"Ada apa ini?" Tanya Bryan kepada para penjaga
"Tuan muda" Mereka menjawab serentak sambil membungkuk
"Bryan" Seorang perempuan yang sedang dicegat masuk berbinar saat melihat Bryan datang.
__ADS_1
"Shasha?" Bryan mengerutkan dahinya
Bersambung...