
Bryan meminta Kevin untuk menjemput Bianca dan mempersiapkan semua nya.
Disudut lain Bianca pun telah bersiap-siap dengan mengenakan dress berwarna gold menjadikan penampilan Bianca terlihat sempurna hari ini.
Ia sudah bergegas dan segera keluar dari rumahnya untuk mencari taxi. Tapi saat ia keluar dari rumah sudah terlihat ada sebuah mobil yang terparkir tepat didepan gerbang.
Ia tidak menghiraukan mobil itu tapi seseorang keluar dari mobil dan itu adalah Kevin.
"Selamat pagi Nona, Silahkan masuk. Tuan Muda sudah menunggu anda" Kevin membukakan pintu untuk bianca dan mempersilahkan nya untuk masuk.
"Ah iya terimakasih" Bianca tidak membantah karna ia sudah memprediksi bahwa akan seperti ini sampai kedepannya.
Ditengah perjalanan mereka sangat hening, Kevin tidak berbicara sepatah katapun begitu juga dengan Bianca. Ia hanya melihat keluar jendela dan terdengar beberapa kali menarik nafas panjang.
Kevin membawa Bianca ke bandara, Bianca merasa heran mengapa ia dibawa kebandara tapi ia tidak bertanya karna ia tahu bahwa kevin tidak akan memberikan informasi apapun.
"Nona, Silahkan masuk kedalam jet pribadi Tuan muda karna sebentar lagi pesawat akan lepas landas"
Bianca mengangguk dan ia masuk kedalam jet pribadi tersebut.
Didalam terlihat bryan sedang duduk di temani satu sloki wine. Ia duduk dengan tenang dan bianca menghampiri.
__ADS_1
Seorang pelayan yang selalu bryan bawa bila ia akan bepergian mempersilahkan bianca untuk duduk berhadapan dengan bryan.
"Selamat pagi Nona Bianca" Sapa bryan dengan seringai yang selalu membuat bianca jengkel.
"Selamat pagi kembali Tuan muda Bryan" Bianca memperlihatkan senyuman semanis madu alami.
Pesawat sudah lepas landas. Bianca di jamu dengan berbagai menu sarapan pagi.
"Bryan sebenarnya kita mau kemana?" Tanya bianca sambil memakan sepotong roti.
"Kita bertemu orang tua mu"
"Aku itu lelaki sejati, mana mungkin aku meminta calon ayah mertua ku datang kepada keluarga ku karna akan menikahkan anak gadisnya? Aku sangat bertanggung jawan dan penuh etika. Jadi aku yang akan meminta restu dan membawa mu pergi menemui mereka. Setelah mereka setuju untuk menikahkan kita nanti malam baru aku akan meminta orang tua ku untuk datang kerumah mu" Bryan menjelaskan dengan panjang lebar membuat bianca melongo.
"Haduhh apa yang ada di fikiran si mesum ini ya?" Tanya Bianca dalam hati.
Mereka sudah sampai di bandara Indonesia. Bryan mengajak Bianca untuk turun dari pesawat dan menaiki mobil yang sudah di sedia kan.
"Disini kamu terkenal ya?" Tanya Bryan.
"Ya, sedikit sih. Mereka banyak mengenalku karna aku anak seorang pengusaha sukses dan aku sering mendapat banyak prestasi"
__ADS_1
"Ohh jadi kamu punya prestasi, aku fikir kamu cuma tau makan dan menghabiskan uang" Ledek Bryan.
Bianca tidak mood untuk melayani becandaan Bryan. Ia lebih memilih untuk melihat pemandangan diluar jendela.
Bryan yang tidak biasanya melihat Bianca seperti itu merasa bosan sendiri dan ingin mengerjai nya. Tapi ia urungkan karna Bianca menciptakan suasana yang begitu canggung.
Tibalah mereka di Kediaman Pratama. Mansion besar dengan penjagaan nya yang ketat.
"Kalau dilihat-lihat tempat ini bukan tempat yang mudah untuk melarikan diri. Apalagi seorang putri keraton harus melewati pria berbadan besar itu. Gue jadi semakin penasaran sama kucing kecil ini." Gumam Bryan dalam hati sambil mesem-mesem sendiri.
"Heh! Lo kenapa?" Bianca yang sedari tadi memperhatikan bryan.
"Apa? Gak kenapa-napa ko" Bryan malu karna ia ketauan mesem-mesem oleh Bianca.
"Dasar cowo aneh"
"Hey Biiiii jangan main-main ya atau nanti gue bakal makan lo habis-habisan" Bryan menyapu bibir atasnya menggunakan lidah nya. Seringai yang meng artikan bahwa ia akan melumat bianca habis-habisan.
Bianca merinding dan segera memalingkan wajahnya dari pandangan Bryan. Melihat tingkah Bianca yang seperti itu membuat Bryan semakin ingin menerkamnya.
Bersambung...
__ADS_1