
Bryan Zedwenson Wijaya
Pagi ini rasanya matahari terik lebih awal membuat gue terpaksa bangun dari tempat tidur. Walaupun sebenernya gue sama sekali gamau buat bangun dari Tempat tidur. rasanya gue udah melakukan malam panjang yang sangat melelahkan.
Pagi ini di samping gue terbaring perempuan aneh tanpa busana. Ya gue tau itu perbuatan gue. gue coba buat pandang wajah nya ternyata memang gadis itu 'sedikit cantik'. gue mengakui kecantikannya. dilihat dari kulitnya sepertinya gadis ini bukan gadis biasa karna ke-glowingan mahal yang tergurat disana berfikir kalau dia udah menguras kantong besar untuk skincare nya. Haduhhh gue udah kaya pakar skincare aja.
Gue berfikir keras kenapa gadis ini bisa semabuk itu sampai-sampai dia ga sadar semaleman. Kalau sampai setiap kali dia minum alkohol dan mabuk seperti itu, laki-laki yang menemukannya pasti menang banyak. Untung aja gue yang temuin dia ^hehe
Lamunan gue buyar saat dengar ada suara yang ketukan pintu. Gue yakin itu kevin dan gue pun menyuruhnya untuk masuk. "Maaf tuan muda hari ini seperti nya kita harus kembali. Nyonya Besar wijayaaaa" "Kenapa? Ada apa sama mama?" Gue potong pembicaraan kevin karna dia udah sebut-sebut nama nyokap gue.
"Nyonya pingsan tidak sadarkan diri tadi malam, beberapa hari ini dia demam karna terlalu banyak memikirkan anda tuan" Bummmmmmm isi kepala gue serasa meledak. gue langsung loncat dari tempat tidur dan berlari ke toilet tanpa gue sadar gue gapake apa-apa haduuuhh malunya gue karna kevin lihat semuanya.
Nyonya Wijaya adalah nyokap gue, Dia bak bidadari dari syurga. Parasnya yang cantik dan hatinya yang lembut menjadi nilai plus dimata semua orang. mama adalah orang yang tulus, ia tidak pernah membanding - banding kan derajat seseorang. Dia adalah cinta pertama gue. wanita yang selalu jadi kebanggaan gue. Pokonya Love you so much mom.
__ADS_1
Mendengar berita kalau mama sampai tidak sadarkan diri karna gue itu adalah sebuah bom tersendiri buat gue. karna gue gabisa jagain mama. Tapi ini bukan sepenuhnya kesalahan gue karna si tua bangka Wijaya itulah yang terus-terusan ganggu gue dan jadiin gue seolah-olah robot otaknya.
Handphone gue berdering itu panggilan dari citra, Adik perempuan gue satu-satunya. Perempuan kedua yang gue jaga mati-matian.
"Hallo" kata pertama yang gue ucap menerima panggilan telpon dari citra "Kakak kemana aja sih? selama ini kenapa telpon aku gapernah kakak angkat? kakak tau ga karna kepergian kakak semuanya jadi kacau. papi selalu marah-marah sekarang mami masuk rumah sakit. kakak tau aku khawatir sama kakak. kakak sekarang juga harus pulang ke jepang kalau kakak gamau ngeliat aku kenapa-kenapa" tut dia mematikan telpon nya.
Dasar adik perempuan gatau di untung kalo bukan karna kesalahan gue sendiri gue udah sobek mulut adik kurang ajar itu. beraninya dia maki-maki kakak nya di telpon dan langsung tutup telpon gitu aja? oke no problem karna mungkin emang dia khawatir sama gue.
Gue udah siap-siap untuk pulang ke jepang tapi satu hal yang buat gue dilema. gimana perempuan itu? apa gue harus tinggalin dia disini? tapi kayanya gue bukan ******** yang gitu aja ninggalin perempuan sehabis gue tidur sama dia.
Bryan sudah bersiap-siap dan keluar dari kamar mandi. Ia berencana untuk meninggalkan Bianca dengan satu buah cek bernilai 5 milyar. Karna walaupun ia tetap merasa tidak bersalah tapi ia bukan lah seorang lelaki tak bertanggung jawab.
Tapi matanya tiba-tiba melotot saat keluar dari kamar ia melihat tidak ada siapa-siapa diatas ranjang.
__ADS_1
"Kemana perempuan itu? dasar cewek sableng dia lari kemana?" Bryan menggerutu sambil terus mencari Bianca. dia membuka pintu dan melihat kevin tidak ada di luar.
"Apa kevin yang bawa dia pergi? gamungkin kevin bawa pergi gadis itu tanpa seizin gue"
Bryan merogoh saku jas nya dan mengambil handphone nya dia mencoba menelpon kevin.
"Kevin!" bentak nya saat kevin mengangkat telpon "Ada apa tuan?" terdengar suara kevin yang gemetar akibat bentakan bryan.
"Dimana gadis itu?!" "Saya tidak tahu tuan muda, saya sedang memesan sarapan untuk anda" jawab kevin dengan nada rendah. "Dasar bodoh! Sekarang kamu cepat kemari cari dia sampai ketemu" bentaknya lagi sambil mematikan telponnya.
Bryan terlihat sangat marah. entah apa yang membuatnya begitu marah. kalau di fikir-fikir seharusnya dia tenang karna Bianca tidak membuatnya kerepotan.
Tapi bryan bukan lah lelaki seperti itu ia akan terus mencari bianca karna dia tidak suka kepada orang yang lari dari nya
__ADS_1
"kucing kecil kamu tahu aku paling tidak suka ada seseorang yang lari dari ku. siapapun yang datang padaku tidak akan pernah bisa semudah itu pergi. Terlebih lagi apa yang sudah kita lakukan semalam"
Bersambung...